sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Agraria

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Peristiwa

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Perang Pasifik Di Timor 1942 - 1945

Peta Perang Pasific di Kupang dan sekitarnya.
Larast Post - Perang Dunia II di Eropa merambat ke wilayah Asia. Jepang sebagai sekutu Jerman di Asia, menyerang pangkalan armada Amerika di Pearl Harbour hari Minggu 7 Desember1941 waktu setempat atau Senin 8 Desember waktu Asia. 

Jepang terus menukik ke Philipina, Birma, terus ke Indonesia. Di Indonesia, Timor, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Timur adalah sasaran pertama (Lihat Seri Perang Dunia II di bawah judul: Jepang Tersulut Perang) Perang Dunia II di Asia lebih dikenal sebagai Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. 

Tetapi kekalahan Jenderal Mac Arthur di Philipina juga adalah sebab utama mengapa Pulau Timor menjadi rebutan. Mc Arthur menjadikan Australia sebagai benteng terakhir untuk menyusun kekuatan dan strateginya kembali ke Philipina. Karena itu Pulau Timor dijadikan sebagai bemper agar Australia tidak tersentuh pasukan Jepang. Pasukan Australia sebagai bagian dari tentara sekutu mendaratkan pasukannya untuk mempertahankan Timor, sebelum Gubernur General Belanda, Mr Tjarda di Batavia menyerah tanpa syarat pada Jepang, tgl.8 Maret. Sedang di Timor tanggal 20 Februari Controleuur Belanda di Kupang telah melarikan diri dan hilang di Amarasi (Lihat I. H. Doko: Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Nusa Tenggara Timur). 

Sementara itu Tentara KNIL sudah melarikan diri ke arah pedalaman di wilayah Camplong, Lelogama, dan Soe. Timor terpaksa dipertahankan pasukan Australia. Kekuatan tidak seimbang. Ribuan tentara Jepang mendarat dengan parasut di Oesao, terus menyerbu Kota Kupang yang dipertahankan Australia. Tentara Australia mundur ke arah timur, tetapi harus berhadapan dengan Jepang di Oesapa, Tarus, dan Oesao. 

Jepang terus memburu berhari-hari, berminggu-minggu. Sepanjang jalan di jantung Pulau Timor terjadi pertempuran hebat. Australia yang mencoba bertahan di ketinggian menuju SoE pun akhirnya melarikan diri ke timur karena ribuan tentara Jepang menyerbu bergelombang. Mayat di mana-mana bergelimpangan dari kedua belah pihak.

Jembatan Alam Temef didinamit.
Alam Timor begitu sulit bagi kedua belah pihak. Di seberang Jembatan Temef, antara Niki-niki dan Kefamenanu, mengalir sungai dengan jurang bebatuan yang dalam. Australia memutuskan menghancurkan jembatan alam, satu-satunya yang tak banyak di dunia. Di antara tebing kedua sisi jurang yang dalam terjepit sebuah batu yang datar permukaannya. Dari sinilah sejak jalan ini dibuat tahun 1905 dijadikan sebagai jembatan alam. 

Untuk memperlambat tentara Jepang pasukan Australia yang tersisa melakukan dinamit jembatan alam ini. Perburuan Jepang pun terhenti. Karena itu pasukan Australia berhasil lolos mencapai muara sungai Besikama di mana kapal selam Sekutu telah menanti untuk menyelamatkan sebagian, sementara sebagian lainnya menjadikan wilayah ini sebagai wilayah pertahanan Australia sampai ke wilayah Timor Leste. 

Dalam film dokumenter Australia yang berjudul The Correspondent, dilukiskan pertempuran hampir terjadi setiap hari di sini, dan Amerika mengirimkan agen rahasianya untuk membunuh seorang wartawan karena laporan-laporannya secara tidak langsung menjadi referensi bagi musuh tentang kedudukan pihak sekutu.

Korps Sparrow
Seorang pelaku perang di Timor, Christopher Wray, menulis dalam memorynya, Timor 1942, mengisahkan tentang pelarian ini sambil  yang harus bertempur membentuk pasukan istimewa yang disebut korps Sparrow. Korps ini masih ada sampai sekarang sebagai bagian istimewa / elite dalam ketentraraan Australia.

Tahun 1943 pasukan Royal Australia Airforce (RAAF) mulai menyerbu Jepang. Sementara itu Jepang yang mulai terdesak dalam keseluruhan Perang Pasifik lebih keras lagi pada rakyat Timor. Pemuda-pemuda dipaksa masuk Heiho (tentara cadangan).

Merah Purtih Berkibar. 
Untuk mencari tentara Jepang, Australia membom sisa2 Kota Kupang, yang sebelumnya juga sudah hancur oleh bom Jepang. Banyak penduduk yang tewas akibat pemboman kedua belah pihak. Pihak Jepang mulai terdesak. 

 Tanggal 29 April 1945, Hari kelahiran Teno Heika, kaizar Jepang, Dewan Raja-raja Timor diundang ikut merayakannya di Kantor Pemerintahan Sipil (Meinsebu) Jepang di Airnona. Saat itu bendera Merah putih dikibarkan oleh I.H. Doko bersama raja Amarasi H. A. Koroh mendampingi bendera Jepang Hinomaru.

Setelah Jepang menyerah, pasukan Australia di bawah pimpinan Jenderal Sir Thomas Blammey mendarat di Kupang untuk melucuti Jepang. RAAF yang sudah masuk lebih dahulu mendirikan basecamp di Penfui dan Camplong, mendirikan pabrik roti dan lemonade di Oenaek bagi kebutuhan pasukannya.

Masyarakat sebenarnya menyambut pasukan Australia dengan gembira, karena membebaskan rakyat dari kekejaman Jepang. Sayangnya mereka membawa serta pasukan NICA, dipimpin Kol De Rooy yang mengambil alih kembali pemerintahan sipil di Kupang. 

 Peristiwa ini menimbulkan amarah pemuda Kupang yang sudah mendengar tentang proklamasi kemerdekaan. Tetapi baru bulan Desember 1945, Max Rihi seorang pemuda yang ikut bertempur melawan Sekutu di Surabaya pada 10 November mengkoordinir pemuda untuk mengusir Sekutu. Terjadi pro-kontra. I. H. Doko tidak setuju. Raja Amarasi H. A. Koroh, sebagai Ketua Dewan Raja-raja Timor dijemput di istananya di Baun untuk menenangkan suasana. 

Sebagai jalan keluar, tak jauh dari benteng itu didirikan sebuah tugu ramping dengan tulisan Four Freedom-nya pimpinan Sekutu, Presiden AS Roosevelt (cikal bakal Deklarasi HAM). Tulisan berisi empat hak manusia, yaitu bebas dari kekurangan, bebas untuk bersuara, bebas dari ketakutan, dan bebas  beragama. Tujuannya untuk mengingatkan Sekutu agar tidak macam-macam di Kupang. Sesudah penyerahan kedaulatan, tugu itu dibungkus dengan lingkaran Pancasila.

Jepang kemudian memberi pampasan perang (ganti rugi) kepada Indonesia, juga beasiswa. Sayangnya tak ada seorang pemuda Kupang pun, dari kota yang mereka hancurkan ini dipandang layak untuk memperoleh beasiswa itu. 

Perang Dunia II yang juga disebut Perang Pasifik, juga dikenal sebagai Perang Asia Timur Raya di Timor tak pernah masuk dalam sejarah Nasional Indonesia. Timor memang memiliki sejarahnya sendiri. Sampai kapan pun. ***

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda