sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Agraria

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Bisnis

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

Pendidikan

Wisata

Olah Raga

LARAS JABAR

» » Pengawal Tahanan Kejaksaan Kurang Tak Sebanding Dengan Jumlah Tahanan

Petugas Lapas ketika mengawal salah seorang tahanan.
Jakarta, Larast Post - Proses peradilan tentunya tidak terlepas dari sosok pengawal tahanan. Mereka bertugas menjemput tahanan yang akan mengikuti sidang di Pengadilan Negeri dari Lembaga Pemasyarakatan, mengawal saat sidang, hingga para tahanan kembali ke Lembaga Pemasyarakatan. Otomatis selama itu tahanan berada dalam pengawasan dan tanggungjawab mereka.

Namun, jumlah pengawal tahanan kejaksaaan dirasakan tidak sebanding dengan jumlah tahanan. Bahkan mereka umumnya telah berusia lanjut dan menjelang memasuki masa pensiun. Padahal tugas dan tanggungjawabnya cukup besar.

Sejumlah pengawal kejaksaan yang enggan jati dirinya diungkap, kepada Larast Post mengakui, jumlah mereka di setiap Kejaksaan Negeri relatif sedikit, yakni sekitar 10 orang sehingga tak seimbang dengan jumlah tahanan, bisa mencapai ratusan tahanan. 

Sebab itu, para pengawal tahanan berharap, Kejaksaan Agung menambah personil pengawal tahanan sehingga seimbang dengan jumlah tahanan yang harus dika­wal. “Kami berharap ada penam­bahan personil pengawal tahanan,” tegasnya.

Menurut sumber, penambahan personil bisa dilakukan dengan merekrut Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) khusus pengawal tahanan. “Rekrutmen CPNS pengawal tahanan tidak perlu lulusan sarjana tapi cukup lulusan SMA sederajat, asal sebelum ditugaskan diberikan pelatihan khusus terlebih dahulu,” tuturnya.

Sumber menjelaskan, pengawalan dilakukan sejak tahan dibawa dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) untuk menjalani sidang hingga tahanan dibawa kembali ke LP.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, seperti misalnya tahan melarikan diri, petugas pengawal kejahatan terpaksa memborgol tahanan. “Kami terpaksa mengenakan borgol pada tahanan karena khwatir melarikan diri atau bertindak sesuatu yang dapat membahayakan,” terang salah satu pengawal tahanan.

Namun tidak seluruh pengawal tahanan melakukan hal itu, seperti pengamatan Larast Post, pengawal tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, tidak memborgol tahanan saat menjalani sidang ataupun dalam perjalanan dari LP ke pengadilan atau sebaliknya.

Salah seorang pengawal tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Timur mengungkapkan, pihaknya tidak memborgol tahanan dengan pertimbangan kemanusiaan. Namun hal itu, dilakukan setelah dilakukan pendekatan terlebih dahulu kepada para tahanan. 

“Ini seperti dilemma, jika diborgol sepertinya menyinggung rasa kemanusiaan, tapi jika tidak dikenakan borgol ada resiko tahanan kabur. Sebab itu kami terus melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman kepada mereka, agar tidak melarikan diri atau bertindak yang dapat merugikan diri mereka sendiri,” tuturnya. 

Menanggapi hal ini, Ketua Network for Corruption Watch (NCW) C Herry SL mengatakan, sudah selayaknya Kejaksaan Agung memperhatikan kondisi pengawal tahanan, terutama menyangkut jumlah personil yang tidak seimbang dengan jumlah tahanan. “Terlebih usia mereka umumnya sudah tidak muda lagi dan menjelang memasuki masa pensiun, sementara para tahanan relatif masih muda. Tentunya ini mengandung resiko cukup tinggi,” ujarnya.

Namun demikian, C Herry mengapresiasi para pengawal tahanan, karena selama ini nyaris tidak pernah terjadi tahanan melarikan diri saat dalam pengawalan mereka. “Para pengawal tahanan saya kira patut mendapat apresiasi atas kinerjanya selama ini,” pungkasnya. (tuty)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda