sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Agraria

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Bisnis

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

Pendidikan

Olah Raga

Jadwal PD 2018

Update Hasil Pertandingan Piala Dunia 2018

Klasemen Piala Dunia 2018

» » Singapura, Inggris, Selandia Baru dan Uni Emirat Arab Merupakan Negara-Negara Terdepan dalam Ekonomi Digital


Jakarta, Larast Post – Fletcher School, Universitas Tufts bekerja sama dengan Mastercard telah mengungkapkan Indeks Evolusi Digital 2017. Penelitian komprehensif ini mempelajari kemajuan yang telah dicapai oleh berbagai negara dalam mengembangkan ekonomi digital serta mengintegrasikan konektivitas ke dalam kehidupan banyak orang.

Studi ini menunjukkan Singapura, Inggris, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, Estonia, Hong Kong, Jepang, dan Israel sebagai negara-negara paling maju dalam hal digital yang ditandai dengan tingginya tingkat perkembangan digital serta tingkat evolusi digital yang cepat di negara-negara tersebut. Dengan momentum dan inovasi yang mereka miliki, negara-negara terdepan tersebut memperlihatkan diri sebagai contoh terbaik bagi kemajuan dan pertumbuhan di masa mendatang.

Dengan hampir setengah dari populasi dunia yang telah dapat menggunakan layanan secara online, penelitian ini memetakan perkembangan 60 negara, menunjukkan daya saing serta potensi pasar mereka terhadap pertumbuhan ekonomi digital lebih lanjut. Indeks ini mengukur empat penggerak utama dan 170 indikator unik guna memetakan kondisi masing-masing negara:

  •  Suplai (atau akses internet dan infrastuktur)
  • Permintaan konsumen terhadap teknologi digital
  • Lingkungan kelembagaan (kebijakan/undang-undang pemerintah dan sumber daya)
  • Inovasi (investasi dalam penelitian dan pengembangan - litbang, start-up digital dan lain-lain)

Pelaku bisnis, pemerintah dan masyarakat sipil senantiasa berupaya untuk mendorong setiap orang agar menggunakan layanan online, serta memastikan keamanan dari infrastruktur digital. Laporan ini menyediakan sebuah cara untuk menilai “kepercayaan” terhadap digital serta tingkat evolusi digital dengan contoh-contoh yang diambil dari seluruh dunia, memberikan kesempatan bagi negara-negara saling belajar satu sama lain agar dapat terus tumbuh lebih jauh lagi.

“Penerapan, kualitas infrastruktur digital dan kelembagaan, serta inovasi secara kolektif membentuk daya saing digital dari suatu negara, namun pemerintah juga memainkan peran sangat penting. Studi ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen terhadap teknologi digital berkolerasi dengan daya saing digital,” ujar Bhaskar Chakravorti, dekan senior associate, keuangan dan bisnis internasional di Fletcher School, Universitas Tufts, dan founding executive director dari Fletcher’s Institute for Business in the Global Context.

Temuan utama

  • Menurut skor evolusi digital secara keseluruhan, Norwegia, Swedia, Swiss, Denmark, Finlandia, Singapura, Korea Selatan, Inggris, Hong Kong dan Amerika termasuk ke dalam sepuluh besar negara di bidang ekonomi digital, namun mengingat inovasi dan perubahan yang saat ini terjadi dengan sangat cepat, maka peringkat ini bisa saja berubah kapan saja.   Seberapa besar keterbukaan serta dukungan mereka terhadap inovasi akan dapat membantu untuk menentukan potensi pertumbuhan mereka di masa mendatang.
  • Berdasarkan kecepatan dan tingkat kemajuan digital, penelitian ini menempatkan negara-negara ke dalam empat kategori yang berbeda:
  • Stand Out – Singapura, Inggris, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, Estonia, Hong Kong, Jepang, dan Israel menunjukkan tingkat perkembangan digital yang tinggi di mana negara-negara tersebut juga terus memimpin dalam hal inovasi dan pertumbuhan.
  • Stall Out – Banyak negara maju seperti di Eropa Barat, Nordik, Australia dan Korea Selatan memiliki sejarah pertumbuhan yang kuat, namun momentum mereka melambat. Apabila mereka tidak melakukan inovasi lebih lanjut, maka mereka akan semakin tertinggal dari negara-negara lainnya.
  • Break Out – Meskipun masih berada pada tingkat kemajuan digital yang relatif rendah, negara-negara ini menunjukkan momentum kesiapan tercepat untuk tumbuh serta menarik bagi investor. China, Kenya, Rusia, India, Malaysia, Filipina, Indonesia, Brasil, Kolombia, Chile dan Meksiko menunjukkan adanya potensi ini.
  • Watch Out – Negara-negara seperti Afrika Selatan, Peru, Mesir, Yunani dan Pakistan menghadapi tantangan yang signifikan akibat tingkat kemajuan digital yang rendah serta laju pertumbuhan yang lambat

“Kami sangat memahami bahwa teknologi dapat berperan lebih besar dalam meningkatkan perekonomian serta membuat hidup menjadi lebih baik, namun pertumbuhan tersebut hanya bisa dicapai jika setiap orang memiliki kepercayaan terhadap ekosistem yang tengah berkembang," ujar Ajay Bhalla, president, global enterprise risk & security, Mastercard. "Seiring dengan upaya kita untuk menciptakan sebuah dunia yang benar-benar terhubung, kepercayaan dan keamanan merupakan aspek yang sangat penting untuk pengembangan digital yang sukses.”

Hal Baru di Tahun Ini: Faktor Kepercayaan
Sampai saat ini, kepercayaan terhadap digital telah terbukti sulit untuk dipahami, apalagi untuk diukur. Namun hal tersebut tetap menjadi sebuah kunci penting dari ekonomi digital global. Menjadi sebuah hal yang baru dalam laporan tahun 2017, tim riset dari Fletcher School menganalisis 42 dari 60 negara yang terdaftar dalam indeks terhadap empat komponen kunci – perilaku (behaviour), sikap (attitude), lingkungan (environment) dan pengalaman (experience) – untuk memahami kondisi negara tersebut atas kepercayaan terhadap digital. Beberapa temuan meliputi:

  • China, Swiss, Singapura, dan negara-negara Nordik memiliki nilai yang baik pada matriks pengukuran yang berbeda, namun dengan alasan masing-masing negara yang sangat berbeda antara satu dan lainnya.
  • Konsumen di China merupakan contoh unik yang menunjukkan perilaku sabar dari pengguna digital ketika mengalami hambatan, seperti keterbatasan atau lambatnya akses internet.
  • Negara-negara di Eropa Barat dan Utara memimpin dalam hal pengalaman serta lingkungan terhadap kepercayaan digital, yang mencerminkan adanya investasi dalam tindakan keamanan, privasi dan akuntanbilitas yang kuat, serta dalam meminimalisasi hambatan.
  • Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa di negara-negara dengan skor momentum lebih tinggi, konsumen menjadi lebih toleran terhadap gesekan/hambatan dalam interaksi dan transaksi digital mereka sehari-hari, yang menunjukkan bahwa momentum mungkin menjadi faktor penting dalam memahami perilaku dan kepercayaan konsumen.


Lebih lanjut, pemerintah dan pelaku bisnis merupakan pihak yang dianggap sebagai penjamin kepercayaan, dan dituntut untuk memfasilitasi kepercayaan di antara masyarakat dan konsumen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing digital, di mana negara-negara tersebut tidak dapat melangkah lebih lanjut tanpa komponen tersebut.

Implikasi: Bagaimana Sebuah Negara Dapat Menang
Informasi lebih rinci dan studi kasus di masing-masing negara dapat diakses melalui tautan berikut http://www.mastercard.com/fletcher, termasuk di dalamnya:

  • Menggunakan Kebijakan Publik sebagai Kunci Keberhasilan Ekonomi Digital (Use Public Policy as Key to the Success of the Digital Economy): Hal ini meliputi mulai dari negosiasi Brexit hingga bagaimana India dapat mendorong masyarakatnya menuju masa depan “less cash” serta membahas mengenai persaingan Amerika Serikat-China untuk mendominasi perekonomian.
  • Identifikasi Terhadap Hal Apa yang Mendorong Momentum Digital (Identify What Drives Digital Momentum): Negara maju dan berkembang harus menekankan berbagai cara untuk memacu pertumbuhan: inovasi dan kelembagaan.
  • Loncatan Awal dari Pertumbuhan Negara Kecil dengan Melibatkan Pemerintah (Jumpstart Small Country Growth by Involving Government): Sebagai pengguna awal mereka dapat tumbuh dengan cepat dengan merancang dan menyusun ekosistem yang tepat.
  • Menciptakan Kembali Pendukung-pendukung Digital (Reinvent the Digital Stalwarts): 
  • Negara yang paling maju secara digital dapat menggunakan pertumbuhan mereka dan koneksi yang telah ada di dunia untuk menciptakan diri mereka kembali.
  • Melakukan Digital Catch-Up dengan Menutup Jarak terhadap Mobile Internet (Play Digital Catch-Up by Closing the Mobile Internet Gap): Negara yang paling tidak maju secara digital harus memprioritaskan peningkatan akses internet melalui telepon seluler.
  • Bekerja Lebih Keras untuk Mendapatkan Kepercayaan Pengguna (Work Harder to Earn Users’ Trust): Seiring dengan peran digital yang terus berkembang di sejumlah negara namun momentum melambat, penyedia teknologi dan pembuat kebijakan mungkin perlu memprioritaskan diri dalam membangun kepercayaan agar terus tumbuh.


Laporan dalam versi lengkap serta metodologinya dapat diakses melalui link berikut: DEI Digital Press Kit

Untuk informasi lebih lanjut dan konten lainnya yang bermanfaat, silahkan kunjungi materi-materi digital kami lainnya pada link berikut: http://news.mstr.cd/deidpk. (Maslim)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda