sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Megapolitan

Polkam

Agraria

Regional

Hukrim

Laras Jatim

LARAS JATENG

Olah Raga

Bisnis

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

» » Hukuman Berat Mengancam Pengedar “Si Putih”

Ilustrasi (Ist)
Lantas apakah PCC termasuk bagian dalam narkoba? Ahli kimia farmasi menilai hal itu bisa saja terjadi lantaran memiliki zat adiktif. Meski demikian, perlu hasil laboratorium untuk mengetahui jenis dari narkoba tersebut. Zat adiktif, bisa saja (obat PCC). Obat ini tergolong muscle relaxants (pelemas otot). Obat ini bekerja pada jaringan saraf dan otak yang mampu merilekskan otot. Obat ini biasanya digunakan saat istirahat, saat melakukan terapi fisik, dan pengobatan lain. Sementara obat PCC, kata dia, memiliki kandungan senyawa Carisoprodol. Jenis obat ini berfungsi mengatasi nyeri dan ketegangan otot.

PCC itu sendiri adalah kepanjangan dari Paracetamol, Cafein, dan Carisoprodol. Sebagai obat PCC. Paracetamol atau acetominophen merupakan jenis obat-obtan yang dijual bebas dan termasuk dalam golongan analgesik. Obat ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit ringan hingga sedang, seperti demam atau sakit kepala hingga nyeri sendi. Efek samping dari obat ini yaitu kehilangan nafsu makan, mual, menguningnya kulit atau mata, air seni berwarna gelap, muncul ruam atau pembengkakan. Caffeine zat kimia yang bisa ditemukan di kopi atau the. Kafein merupakan zat kimia yang biasa ditemukan dalam kopi atau teh yang umumnya digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan mental. Dalam penggunaan lain dilansir dari hellosehat.com, kafein dikonsumsi melalui mulut atau anus untuk kombinasi dengan obat penghilang rasa sakit dan zar kimia ergotamine untuk mengobati migrain, selain itu kafein juga digunakan untuk mencegah dan mengobati sakit kepala setelah anestesi epidural. Carisoprodol merupakan obat golongan mucle relaxants dan berfungsi untuk mengatasi ketegangan otot yang bekerja pada jaringan syaraf dan otak yang dapat merilekskan otot. Di Indonesia, carisoprodol dijual melalui merek Somadril. Merujuk SK Menteri Kesehatan tahun 1973 Apoteker, sesuai Peraturan Pemerintah 51/1999 tentang Pekerjaan Kefarmasian, hanya dapat memberikan obat keras ke pasien atas dasar resep dokter.

Jika ketiga obat tersebut diminum secara bersamaan maka efek masing-masing obat akan saling bekerja sama. Overdosis PCC pada akhirnya merusak susunan saraf pusat di otak. Perwujudan kerusakan saraf pusat otak bisa beragam, namun obat PCC secara spesifik memunculkan efek halusinasi yang tampak pada beberapa korban. Perubahan mood yang signifikan juga sering terjadi, begitu juga dengan gangguan perilaku dan emosi juga dapat terjadi pada pengguna obat PCC. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa obat ini merupakan obat keras. Tapi apakah PCC termasuk golongan narkoba? Menurut Mufti dilansir dari liputan6.com, hal tersebut bisa saja terjadi karena memiliki zat adiktif, meskipun begitu diperlukan hasil laboratorium untuk mengetahui jenis narkoba tersebut. 

"Dicampur supaya memunculkan efek yang saling menguatkan, bisa menimbulkan efek sedatif yang sifatnya menenangkan dan memberikan stimulan melalui proses metabolisme di dalam tubuh," tutur Martua. Dari sifat yang menenangkan itu, jika dikonsumsi terus menerus, bisa menimbulkan ketergantungan. Bahkan, untuk pemakaian tingkat lanjut, dapat memberikan halusinasi tertentu terhadap pemakainya.

Kepolisian didorong untuk mengusut kasus peredaran obat jenis PCC (Paracetamol Caffein Carisoprodol) di Kendari, Sulawesi Tenggara dari hulu hingga ke hilir. Tercatat hingga tanggal 14 September 2017, sudah ada 61 orang yang dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Kendari, Sulawesi Tenggara akibat overdosis obat PCC. Kebanyakan dari korban ini merupakan siswa SD dan SMP. Penangkapan dilakukan setelah polisi membentuk tim gabungan yang terdiri dari Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Tenggara, Direktorat Intelejen Keamanan, Direktorat Narkoba, dan Resimen Kendari. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto mengatakan, para pelaku ditangkap di tempat terpisah. "Tersangka berprofesi sebagai apoteker dan asisten apoteker ditangkap di TKP Apotek Qiqa Jalan Sawo 2 Kota Kendari," ujar Rikwanto melalui keterangan tertulis, Jumat (15/9/2017). Dari penangkapan ketiganya, polisi menemukan 1.643 butir obat yang dibuang di belakang rumah, 988 butir dalam lemari baju, dan uang sebesar Rp 735.000. Ditemukan juga delapan toples putih tempat menyimpan obat.

KPAI mendesak agar para pelaku dikenai pasal berlapis. Atas perbuatannya, kesembilan tersangka dijerat dengan Pasal 197 junto Pasal 106 Ayat (1) UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan atau Pasal 204 Ayat (1) KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1,5 miliar. etua Perhimpunan Magister Hukum Indonesia, Fadli Nasution, mengatakan para tersangka pengedar pil PCC dapat dikenai 12 pasal dalam UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.  Namun menurut Fadli, polisi sejauh ini hanya menggunakan satu pasal, yakni pasal 197 yang berbunyi ; setiap orang yang sengaja menjual obat dan alat farmasi tanpa izin, akan dipidana kurungan penjara paling lama 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar . "Sekurangnya ada 12 pasal yang bisa digunakan untuk menjaring pidana, mulai dari pasal 190 sampai dengan 201 UU 36 Tahun 2009. Namun dalam perkembangannya kepolisian hanya menggunakan pasal 197," terang Fadli. Ada juga yang berpendapat bahwa pengedar obat PCC harus dihukum mati, akan tetapi banyak pro-kontra dari pihak kepolisian.

Sejauh ini, korban obat PCC di Kendari diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 orang. Puluhan korban yang sempat dirawat, di antaranya ada yang sudah bisa dipulangkan. Untuk proses penyembuhan peran keluarga sangatlah penting bagi proses penyembuhan korban pil berbahaya itu. Pasalnya keluarga akan menentukan cepat tidaknya penyembuhan yang dialami korban. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sangat menyayangkan kasus peredaran obat PCC (paracetamol caffeine carisoprodol) yang kemarin berhasil dibongkar oleh aparat kepolisian Sulawesi Utara sebab korbannya banyak yang masih anak-anak. Oleh karena itu KPAI mendesak agar para pelaku dikenai pasal berlapis.
(Karunia Tristanti_Mahasiswi Univ. Muhammadiyah Malang)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda