sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Pendidikan

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Akhir Tahun Galnas Gelar Pameran Tunggal Bunawijaya

Bertemakan Menghadapi Stigma Mooi Indië
Salah satu karya lukis Bunawijaya yang diambil dari hasil photograpi.

Jakarta, Larast Post - Galeri Nasional Indonesia secara resmi menggelar pameran lukisan karya seniman Bunawijaya di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat, sebanyak 47 karya dipajang mulai 19 Desember 2017 hingga awal tahun 5 Januari 2018.

Jim Supangkat sebagai kurator pada pameran ini mengatakan, Bunawijaya merupakan seorang pelukis yang telah masuk dunia seni rupa sekitar 20 tahun lalu. Walaupun saat ini menjadi seorang perupa profesional namun Bunawijaya tak pernah menjalani pendidikan formal di bidang seni rupa. 

"Ia tidak bergaul dengan para seniman sebelumnya, dan, ia bukan kolektor yang biasanya dekat dengan para seniman. Karena itu seperti anggota masyarakat lain, Bunawijaya tidak mengenal berbagai wacana seni rupa yang memang tidak pernah meluas ke masyarakat (menunjukkan kesenjangan dunia seni rupa dengan masyarakat)," ucap Supangkat. 

Sebagai kurator, Jim mengungkap bahwa biasanya “para pendatang” seperti Bunawijaya tidak bertahan lama di dunia seni rupa, terpaksa menyingkir. Namun Bunawijaya bisa bertahan dan termasuk di antara sangat sedikit “pendatang” yang tidak terpental. Bunawijaya bahkan bisa mempertahankan pandangan-pandangannya dan tidak terpengaruh wacana-wacana dominan di dunia seni rupa, termasuk stigma Mooi Indië. 

Lukisan pemandangan alam seperti karya Bunawijaya, dicemooh sejak zaman kolonial sebagai lukisan mooi Indië (Hindia molek) yang dibuat sekadar untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Belanda membawa pulang kenangan tentang keindahan Hindia Belanda. Pada zaman kemerdekaan, lukisan-lukisan pemandangan alam ini malah disebut-sebut “lukisan pinggir jalan” karena dijajakan di taman-taman kota dan emperan toko-toko.

Dalam menghadapi stigma Mooi Indië, Bunawijaya tak gentar. Ia tidak ikut-ikutan membuat lukisan abstrak, atau karya instalasi. Ia tetap melukis pemandangan alam karena ia pencinta alam. Dengan keyakinan yang tidak terdominasi ini, Bunawijaya ternyata bisa menampilkan karya-karya bermakna seperti terlihat pada pameran ini, Pameran Tunggal Bunawijaya “Menghadapi Stigma Mooi Indië”.

Dalam pameran ini, ditunjukkan lukisan-lukisan representasi perkembangan kekaryaan Bunawijaya, juga kiprahnya di dunia seni rupa yang mampu bertahan hingga saat ini. Mulai dari lukisan pemandangan alam atau landscape–idiom yang lazim digunakan untuk menyajikan keindahan yang membangkitkan rasa nyaman– karena ia seorang pemburu dan pencinta alam yang sering keluar-masuk hutan. 

Kemudian merambah ke seascape, idiom yang sering digunakan untuk menampilkan misteri alam. Di sini, Bunawijaya mulai melukis langit, awan dan horizon. Ia tidak lagi harus menjelajahi alam untuk mencari obyek lukisan, Bunawijaya kini juga menggunakan literatur dan hasil fotografi di jaringan internet. 

Kecenderungan baru itu membuat lukisan-lukisan Bunawijaya sesudah 2015 tidak lagi menyalin realitas alam. Lukisan-lukisannya menampilkan rekaan realitas alam yang tidak ada dalam kenyataan. Untuk menegaskan perkembangan tersebut, pameran tunggal Bunawijaya pada 2017 ini dilengkapi interaksi dengan Eldwin Pradipta yang dikenal sebagai seniman video. 

Karya Bunawijaya dan interaksi dengan Eldwin Pradipta dalam Pameran Tunggal Bunawijaya “Menghadapi Stigma Mooi Indië” merupakan pameran keliling, karena sebelumnya sebagian karya-karya tersebut telah dipamerkan di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, pada 10 November – 10 Desember 2017. Pada waktu itu, pameran sekaligus dibarengi peluncuran buku "Buna, Suka Duka Sang Kelana" terbitan KPG yang ditulis oleh Jean Couteau.(sugih)

Info Pameran : 
Buka : 19 Desember 2017 – 5 Januari 2018
Pukul 10.00 – 19.00 WIB
Gedung A
*Tutup pada Libur Nasional 25 Desember 2017 (Hari Raya Natal) & 1 Januari 2018 (Tahun Baru Masehi 2018)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda