sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Agraria

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Bisnis

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

Pendidikan

Wisata

Olah Raga

LARAS JABAR

» » Warga Desa Adat Dharma Jati Membuat Perarem Diwantilan Pura Tukad Mungga

Warga mendatangi lokasi yg di duga  diserobot Wayan Angker
Buleleng, Larast Post - Warga Desa Adat Dharma Jati berkumpul di Wantilan Pura Desa Tukad Mungga Kecamatan Buleleng, Bali, pada Minggu (25/12/2017), guna membahas serta membuat perarem adat (Peraturan), terkait isu salah satu pemilik Hotel Wayan Angker yang diduga menyerobot Tanah  Negara yang terletak di Wilayah Desa Tukad Mungga.

Dari hasil Paruman yang dihadiri Jro Kelian Adat , Ketut Wicana, Kepala Desa Tukad Mungga Putu Madia, Paguyuban Pemangku, Kherta Desa, Sabha Desa Pakraman Dharma Jati, seluruh Perangkat Desa Tukad Mungga, Prajuru Adat, LPM Desa Tukad Mungga dan Tim Aset desa Tukad Mungga, serta warga Kerama Desa mencetuskan; bahwa tanah di wilayah desa adat Dharma Jati yang di klaim oleh Wayan Angker, dinyatakan bahwa Tanah Adat yang sudah turun temurun dikuasai dan diberikan hak kelola oleh negara kepada Adat Dharma Jati Desa Tukad Mungga.

Putu Madia mengatakan, dari hasil Paruman bahwa tanah tersebut merupakan tanah desa adat yang dikelola secara turun temurun oleh adat. “Kenapa demikian?. Dari kesaksian-kesaksian warga yang mana tanah Negara itu telah dikuasakan ke desa Adat. Maka dari itu Tanah tersebut merupakan tanah Adat, nanti kita  panggil Wayan Angker yang telah mengklaim bahwa tanah itu miliknya,” ujar Putu Madia.

Sebelumnya Wayan Angker telah memenuhi panggilan ke kantor desa akibat didesak oleh ratusan warga Tukad Munga yang mengatas namakan “Tukad Munga Bersatu” dari hasil pemanggilan tersebut Wayan Angker yang membawa dua sertifikat, diduga ada beberapa kejanggalan pada bukti serifikat yang diserahkan ke Kantor Desa Tukad Mungga.

Kemudian beberapa tokoh masyarakat yang didampingi LSM dari Kontras juga Pemerhati Masyarakat Buleleng menemui Kepala BPN Singaraja, serta menunjukan copy sertifikat yang diberikan oleh Wayan Angker, namun sertifikat yang ditunjukan masih diragukan oleh pihak BPN.
Kendati warga telah menuntut Wayan Angker untuk mengembalikan tanah adat, ia masih percaya bahwa tanah tersebut masih miliknya. 

Wayan Angker sepekan yang lalu menyebutkan, tanah itu dia beli sebelum dirinya menikah. “Kita tidak mau ribut masalah itu, kalau emang keberatan dan ada pembuktian bahwa saya dibilang nyerobot buktikan saja, negara ini negara hukum jangan menduga-duga. Pemerintah saja melakukan penyenderan terhadap pantai itu minta persetujuan kepada saya, tanah itu saya beli dengan luas kurang lebih 170 are,” ujar Wayan Angker. (han)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda