sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Pendidikan

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Ancaman Radikalisme dan Terorisme

Presiden Jokowi : Umat Islam Korban Terbanyak 

Presiden Jokowi beserta sejumlah Menteri Kabinet saat berdialog dengan Presiden Pakistan
Islamabad, Larast Post – Radikalisme dan terorisme terjadi hampir di semua Negara. Namun yang menjadi korban paling banyak dari serangan radikalisme terorisme adalah umat Islam.

Presiden Joko Widodo mengatakan, ancaman radikalisme terorisme terjadi di mana-mana. Bahkan tidak ada satupun negara yang kebal dari ancaman terorisme. 

Serangan terorisme, tegas Presiden Jokowi, terjadi hampir di semua negara termasuk di Indonesia dan Pakistan. Namun serangan terorisme paling banyak terjadi di negara muslim dan yang menjadi korban paling banyak adalah umat Islam.

Presiden Jokowi menegaskan, serangan terorisme yang terjadi selama ini, 76 persen terjadi di negara Muslim dan 60% konflik bersenjata terjadi di negara Muslim. “Umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik, perang dan terorisme,” tegas Presiden Jokowi saat berbicara di hadapan anggota Parlemen (National Assembly) Pakistan, di Islamabad, pada Jumat (26/1/2018) malam.

Lebih lanjut Presiden Jokowi menyatakan, jutaan saudara-saudara muslim juga harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik,  67% pengungsi berasal dari negara Muslim. Selain itu, jutaan generasi muda kehilangan harapan masa depannya. 

Kondisi yang memprihatinkan ini, lanjut Presiden Jokowi, sebagian terjadi karena kelemahan internal. Namun kontribusi faktor eksternal juga tidak sedikit. “Apakah kita akan biarkan kondisi yang memprihatinkan ini terus berulang terjadi dan berulang terjadi lagi? Kalau anda bertanya kepada saya, maka saya akan menjawab tidak. Kita tidak boleh membiarkan negara kita terus dalam situasi konflik, kita tidak boleh membiarkan dunia dalam situasi konflik,” ujarnya.

Presiden Jokowi menyatakan, sejarah mengajarkan kepada semua, bahwa senjata dan kekuatan militer tidak akan mampu menyelesaikan konflik. “Senjata dan kekuatan militer saja, tidak akan mampu untuk menciptakan dan menjaga perdamaian dunia. Yang akan terjadi justru persaingan, perlombaan senjata yang akan terus menciptakan ketegangan. Indonesia adalah negara yang pernah mengalami konflik,” terangnya.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi menunjuk contoh, konflik di Aceh telah terjadi lebih 30 tahun dan dengan menggunakan pendekatan militer saja tidak dapat menyelesaikan konflik di Aceh. 

Konflik ini akhirnya selesai dengan negosiasi dengan dialog. Oleh karena itu, menurut Presiden, habit of dialogue harus terus dikedepankan. Habit of dialogue inilah yang juga menjadikan ASEAN, Asosiasi 10 negara di Asia Tenggara mampu menjadi mesin stabilitas dan kesejahteraan Asia Tenggara.

“Saya berharap setiap dari kita, setiap dari kita akan menjadi kontributor dari perdamaian dunia, setiap dari kita menjadi kontributor upaya menyejahterakan dunia demi kemanusiaan, demi keadilan. Kita harus menjadi part of solution dan bukan menjadi part of the problem. Mari kita bekerja sama demi terciptanya dunia yang damai dan sejahtera demi seluruh umat manusia yang hidup di dunia,” harap Presiden Jokowi .

Jangan Biarkan Dunia Dalam Konflik
Sebelumnya Presiden Jokowi mengatakan, ekonomi suatu negara, suatu kawasan dapat tumbuh apabila terdapat stabilitas politik dan keamanan. Sebaliknya, kegiatan ekonomi tidak akan tumbuh apabila konflik dan bahkan perang  terjadi.

Presiden Jokowi menegaskan, konflik dan perang tidak akan menguntungkan siapapun. “Masyarakat terutama wanita dan anak-anak selalu menjadi pihak yang paling dirugikan dengan adanya konflik dan perang,” ungkapnya.

Menurut Presiden, konflik dan perang juga menghancurkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai luhur kemanusiaan yang diberikan oleh Allah SWT. “Oleh karena itu sudah menjadi komitmen Indonesia untuk turut serta menjaga perdamaian dunia sebagai nett contributor to peace,” tegasnya.

Kepala Negara menyatakan, Indonesia bersama dengan ASEAN, selama 50 tahun terakhir, telah bekerja keras untuk menciptakan ekosistem perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara. “Melalui persatuan dan sentralitas ASEAN, Indonesia juga terus berkontribusi menciptakan kawasan Asia pasifik yang stabil dan sejahtera,” ungkapnya.

Pada kawasan lebih luas lagi, lanjut Presiden Jokowi, Indonesia juga ingin terciptanya suatu ekosistem perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan di kawasan Indo-Pasifik. Menjadikan Indo-Pasifik sebagai kawasan pertumbuhan bagi dunia.

“Sedangkan di tingkat global, seperti halnya Pakistan, Indonesia juga merupakan salah satu penyumbang terbesar Pasukan Perdamaian Dunia, dan s udah menjadi tekad bagi Indonesia untuk menjadi True Partner for World Peace,” terang Presiden Jokowi.

Indonesia Negara Muslim Terbesar
Sementara itu, saat melakukan pertemuan dengan masyarakat Indonesia yang ada di Pakistan, pada Jumat (26/1/2018) sore, di Shamandan Hall, Hotel Serena, Islamabad, Pakistan, Presiden Jokowi mengatakan, tujuan kunjungannya ke negara-negara di kawasan Asia Selatan adalah agar bisa memberikan keseimbangan sebagai negara muslim terbesar di dunia.

Menurut Presiden, saat ini Indonesia sangat dekat misalnya dengan Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. “Kita juga ingin sekarang ini lebih dekat lagi dengan Pakistan dan Bangladesh, karena ini merupakan sebuah kekuatan politik negara kita,” kata Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana.

Lebih lanjut Presiden Jokowi mengingatkan, Indonesia adalah negara besar, dan saat ini masuk ke negara G20. “Ini sering tidak kita sadari dan lupa. Sebagai negara besar dengan penduduk hampir 260 juta, dan memiliki 17 ribu pulau, 714 suku, 34 provinsi, dan 514 kabupaten/kota. Semuanya kalau saya sampaikan selalu menyampaikan Indonesia negara besar,” ujarnya. (her, sg, ram)




«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda