sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Pendidikan

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Tingkatkan NTP, DKP Jatim Dorong Kinerja Perikanan Budidaya Lele

Pemberian hormon pada indukan ikan lele.

Surabaya, Larast Post - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur (Jatim) terus berusaha mendorong kinerja di sub sektor perikanan. Hal itu karena bidang ini telah memberikan kontribusi positif sehingga Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi paling timur Jawa ini naik.

Terutama sektor perikanan budidaya, yang tercatat naik 4,52 persen tahun 2017 lalu pada bulan Desember jika dibandingkan dengan tahun 2016 bulan yang sama.

Kenaikan NTP petani sektor perikanan budidaya dipengaruhi oleh kenaikan indeks yang diterima petani di Jawa Timur yang juga naik sebesar 7,13 persen dari 140,34 menjadi 150,35 sesuai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur tertanggal 2 Januari 2018 lalu.

Beberapa komoditas yang mempengaruhi kenaikan indeks yang diterima petani dalam sektor perikanan antara lain kenaikan harga yang terjadi pada ikan nila, ikan swanggi, ikan tongkol dan ikan lele.

Kenaikan komoditas ikan tersebut, memberi peluang ekonomis bagi para petani perikanan. Pemerintah pun tidak tinggal diam, berbagai kebijakan pun diluncurkan.

Khusus untuk komoditas ikan lele, baru-baru ini DKP Jawa Timur melalui UPT Pelatihan Teknis Perikanan Budidaya dan Pengolahan Produk Kelautan dan Perikanan (UPT PTPBP2KP) Kepanjen, mengadakan kegiatan pelatihan teknik pemijahan buatan ikan lele.

Peserta kegiatan pelatihan tersebut adalah dari pendamping teknis dan petugas balai benih ikan yang berasal dari 10 Kabupaten dan tiga Kota di Provinsi Jawa Timur.

Seperti Kota Surabaya, Kota Probolinggo, Kota Madiun, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Jember, Kabupaten Ngawi,Kabupaten Jombang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Blitar.

Kegiatan pelatihan pemijahan buatan ikan lele diadakan selama tiga hari di UPT PTPBP2KP Kepanjen. Dalam kegiatan pelatihan ini, ada beberapa materi yang disampaikan. Salah satunya yakni dengan cara pembenihan ikan yang baik dan benar.

Cara ini merupakan standar sistem mutu perbenihan paling sederhana atau dasar yang seharusnya diterapkan oleh pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan yang bermutu, dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva atau benih dalam lingkungan yang terkontrol.

Tentu saja dengan melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau persyaratan teknis lainnya, serta memperhatikan biosecurity,  traceability dan terjamin keamanan pangannya.

Kemudian program terbaru dari Dinas dibawah kepemimpinan Heru Cahyono ini juga diluncurkan pada akhir tahun lalu, yang disebut Bioflek Lele.

Program untuk meningkatkan produksi lele tersebut merupakan sistem pemanfaatan lahan untuk kolam ikan peternak dengan cara membuat sebuah medium tanpa perlu adanya lahan tanah. Peternak lele bisa membudidayakannya melalui kolam buatan yang anggarannya dibantu Pemprov Jatim.

Untuk peternak ikan Kabupaten Malang, pada 2017 yang mendapat bantuan program bioflok lele masih sebanyak lima kelompok. Yakni tiga kelompok di Kecamatan Gondanglegi dan dua kelompok di Kecamatan Jabung.

Lima kelompok peternak lele ini mendapatkan bantuan berupa kolam ikan lele dengan diameter 3 meter, benih lele sebanyak 10 ribu, pompa, blower dan timbangan, pakan ikan 1.050 kilogram serta antibiotik untuk penyakit.

Tak hanya menyasar kalangan masyarakat umum, program tersebut rupanya dirasakan pihak pondok pesantren. Kalangan santri pondok pesantren di Kabupaten Jombang salah satu contohnya, terlihat sangat berminat  untuk mengembangkan spirit kewirausahaan melalui budidaya lele dengan sistem bioflok.

Mereka nampak antusias ketika digelar kuliah umum di Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak, Jombang, dengan narasumber Sekjen KKP Rifky Effendi Hardijanto dan Pendiri Roemah Snack Mekarsari Ida Widyastuti, di aula yayasan setempat.

Pada sistem bioflok ini, kebutuhan pakan bisa ditekan 50 persen. Sebagai gambaran, di kabupaten Tulungagung, untuk menghasilkan satu kilogram lele, dibutuhkan pakan 1,6 kilogram.

Penghematan itu diperoleh karena lelenya diberi pakan flok yang dihasilkan dari probiotik. Itu pula yang membuat lele sistem bioflok menjadi lebih higienis.

Contoh lain yakni yang terjadi di lingkungan pondok pesantren Darusssalam Probolinggo. Total produksi ikan lele yang dihasilkan mencapai 149 kg.

Perolehan ini belum termasuk yang dimakan santri setiap harinya. Sebab, rata-rata banyak dimakan santri dan sisanya sebesar 30 persen diputar lagi.

Saat ini pangsa pasar ikan lele masih cukup bagus. Hal ini didukung dengan produksi ikan lele yang begitu melimpah. Tahun ini, target produksi lele sebanyak 665 ton atau 55 ton per bulan. Sementara hingga akhir semester I, produksinya sudah tercapai sebanyak 468,34 ton atau 70,43 persen dari target.

Untuk diketahui, dari data tahun 2015 lalu Jawa Timur adalah daerah produsen ikan lele terbanyak se-Indonesia. Produksi lele dihasilkan dari budidaya, bahkan ada pembudidaya yang mengekspor ke Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Fakta tersebut didukung dari kenyataan di lapangan, bahwa hampir di semua kabupaten dan kota di Jawa Timur ada pembudidaya ikan lele. Namun, sebaran yang terbesar yakni di daerah Kabupaten Tulungagung, Madiun, Jombang, Malang, Mojokerto, Ponorogo, Trenggalek, Bojonegoro, Magetan, Lumajang, Bangkalan, dan Pasuruan.

Jumlah produksi lele juga terus mengalami kenaikan dalam kurun waktu selama tiga tahun terakhir. Pada 2012, jumlah produksi ikan lele mencapai 62.807 ton. Di 2013, meningkat menjadi 79.927,5 ton. Sedangkan di 2014, produksi ikan lele menembus angka 96.830,1 ton. Pembudidaya lele di Jawa Timur mencapai sekitar 46 ribu orang.

Produksi lele yang dikonsumsi dalam negeri ukurannya 8-10 ekor per kilogram. Sedangkan yang diekspor dalam bentuk utuh, tanpa insang, tanpa isi perut dan tanpa sisik. Karena nantinya lele tersebut akan diambil dagingnya dan diolah.

Namun, lele yang dieskpor harus memenuhi syarat yang sudah ditentukan oleh negara tersebut yakni, ukurannya minimal 600 gram per ekor. Harus memenuhi syarat mutu, bebas Ecoli, salmonella (bakteri), Vibrio.

Sedangkan secara kimia, ikan lele kualitas ekspor harus bebas dari logam-logam berat yang berbahaya seperti Pb (timbal), Hg (mercuri), dan unsur tembaga (Cu). Serta bebas dari kotoran. (Muji)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda