sponsor

sponsor
Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Polkam

Agraria

Polkam

Megapolitan

Bisnis

Hukrim

Laras Jatim

Olah Raga

Regional

Seni Budaya dan Hiburan

Laras Jatim

Kesehatan

» » Menseskab Bantah Presiden Jokowi Lakukan Pencitraan

Menseskab Pramono Anung ketika memberikan bantahan pencitraan terkait Presiden menjadi imam sholat di Afganistan.

Jakarta, Larast Post - Menteri Sekretariat Kabinet (Menseskab) Pramono Anung membantah pencitraan yang dilakukan Presiden Jokowi menjadi imam sholat saat kunjungan kenegaraan di Afganistan.

Pramono menjelaskan, ketika itu, pada saat sholat dzuhur yang menjadi imam sholat adalah Imam Besar negara Afganistan, setelah sholat dzuhur selesai Presiden meminta ijin untuk melakukan sholat Ashar jamak taqdim. "ketika itu Presiden mempersilakan Dubes atau pun yang lain, juga tuan rumah untuk menjadi imam sholat. Namun Imam Besar mempersilakan Presiden Jokowi untuk menjadi imam sholat," terang Pramono Anung.

Jadi yang menjadi viral saat ini ada dua peristiwa pertama Sholat dzuhur yang dipimpin Imam Besar Afganistan kedua Sholat Ashar Jamak Taqdim yang diimami Presiden Jokowi. "Ini ga ada hubungannya dengan urusan pencitraan. Terus terang saya yang termasuk selalu mengikuti _kunjungan presiden_ dimanapun Presiden selalu menyempatkan sholat lima waktu. Kalau bisa langsung sholat ya langsung, kalau tidak ya dijamak. Seperti kunjungan ke Afganistan Presiden melakukan sholat Ashar dengan di Jamak Taqdim," ucap Pramono panjang lebar.

Menegangkan
Diakui Pramono bahwa kunjungan kenegaraan di Afganistan hal yang paling menegangkan, terlebih beberapa hari sebelum kunjungan terjadi serangan teror bom mobil di Kabul, bahkan beberapa jam sebelum kunjungan ada serangan susulan.

Namun hal itu tak menghalangi Presiden Jokowi, dengan hati mantap Presiden menjejakkan kakinya sebagai Presiden Republik Indonesia kedua setelah Presiden Sukarno yang mengunjungi negara Afghanistan.

Diceritakan Pramono, sesaat pesawat mendarat di bandara internasional Hamid Karzai, Kabul, Pramono bersama menteri lainnya sempat merasa tegang dan disarankan untuk mengenakan jaket anti peluru. Namun ketika Presiden menolak memakai jaket anti peluru Pramono, Menlu bersama lainnya, bahkan wartawan yang turut serta juga tak mengenakan jaket anti peluru. "Hanya KOmandan Paspampres dan Prajurit Paspampres yang mengenakan jaket anti peluru," terang Pramono.

Penyambutan Hangat dan Akrab
Masih Menurut Pramono, namun ketegangan itu seolah sirna setelah tiba di Istana Presiden Agr, dengan penyambutan hangat Presiden Ashraf Gahni.  Bahkan kedua kepala negara Indonesia - Afganistan nampak akrab saling tukar menukar penutup kepala. Presiden Jokowi menerima longi, topi panjang yang menjuntai dan juga mengenakan chapan, jubah khas Afganistan. Juntaian longi ini bila dibentangkan mencapai 7 meter. Sementara Presiden Ashraf Ghani mengganti pakulnya dengan peci berwarna hitam yang langsung dikenakan Presiden Jokowi.

Setelah tukar menukar tutup kepala, keduanya menunaikan salat zuhur berjamaah di masjid yang berada di Istana Presiden Agr.

Ketika memberikan pernyataan pers bersama, Presiden Ashraf Ghani menunjukkan hubungan yang akrab dari keduanya. 

“Kedatangan Yang Mulia tidak perlu membawa emas, tapi membawa hujan dan salju. Hujan dan salju merupakan berkah bagi kami. Salju dan hujan tidak pernah memilih akan turun pada orang kaya atau orang miskin,” kata Presiden Ghani.

Pada jamuan santap siang kenegaraan di Istana Presiden Arg, Presiden Jokowi menerima ‘Medal of Ghazi Amanullah’ dari Presiden Afghanistan. Penyematan medali ini sebagai penghormatan kepada Presiden Jokowi atas keteguhan dan keberanian dalam memajukan hubungan bilateral Indonesia-Afghanistan, terutama dalam mengupayakan _peace building_ di Afghanistan.

"Terimakasih atas anugerah Medal Ghazi Amanullah. Medal ini akan menjadi spirit baru upaya meningkatkan hubungan bilateral dan perdamaian,” ucap Presiden Jokowi. 

Keberadaan Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo di Kabul, Afghanistan terbilang singkat, tidak kurang dari enam jam. Dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 pada hari Senin 29 Januari rombongan tiba di Kabul, Afghanistan pada pukul 11.40 WS (Waktu setempat) atau 14.10 WIB dan meninggalkan Kabul pada pukul 17.25 WS atau 20.05 WIB.

Mungkin bagi dunia, kehadiran Presiden Jokowi dan Ibu Iriana di Kabul, Afghanistan seperempat hari terlalu singkat. Tapi bagi Presiden Jokowi sudah cukup untuk menggambarkan keteguhan hatinya yang ingin perdamaian segera terwujud di Afghanistan. Demikian pula bagi Presiden Gani, kehadiran Presiden Jokowi di Afghanistan sudah cukup untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mampu memberikan jaminan keamanan kepada tamu negara dan perdamaian harus segera diwujudkan.


Dianggap Lakukan Pencitraan 

Sebelumnya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menganggap Jokowi melakukan pencitraan saat menjadi imam sholat di Afghanistan.

Ia pun menganggap biasa saja saat Jokowi menjadi imam sholat.

Ia menilai, sebagai Presiden, Jokowi semestinya menjadi imam bagi seluruh rakyat Indonesia dan membawa mereka ke arah yang lebih baik.

"Kalau imam sholat kan biasa yah, presiden seharusnya imam dari rakyat Indonesia membawa apa yang diharapakan. Kalau jadi imam bagus-bagus aja. Saya kira itu pencitraan yang bagus lah," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018).(her, sg)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Silahkan berikan komentar anda