sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Agraria

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Bisnis

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

Pendidikan

Olah Raga

Jadwal PD 2018

Update Hasil Pertandingan Piala Dunia 2018

Klasemen Piala Dunia 2018

» » Presiden Jokowi : Penduduk Muslim Kekuatan Politik Indonesia

Presiden Jokowi saat menghadiri acara silaturahmi dengan BKPRMI
Jakarta, Larast Post - Dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi negara yang besar.

"Itu merupakan kekuatan politik Indonesia," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat silaturahmi dengan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), pada Rabu (25/4), di Asrama Haji Pondok Gede, Pinang Ranti, Jakarta Timur.

Presiden menyatakan, hal ini telah disampaikannya di mana-mana dalam setiap forum, bahwa dengan penduduk muslim terbesar di dunia itu merupakan kekuatan politik Indonesia.

Kepala Negara mengaku, pernah terbang dari Banda Aceh langsung menuju ke Wamena selama 9 jam 15 menit yang hampir sama dengan perjalanan dari London, Inggris, sampai ke Istanbul, Turki yang melewati enam, tujuh bahkan mungkin delapan negara.

“Artinya betapa negara ini sebuah negara yang sangat besar sangat luas, inilah anugerah yang diberikan Allah kepada kita, beragam, majemuk, bersuku-suku, beda adat istiadat, beda tradisi, beda agama,” papar Presiden.

Presiden mengajak semua untuk merawat, menjaga, dan memelihara, anugerah yang diberikan Allah kepada Bangsa Indonesia.

Negara Indonesia, lanjut Presiden, untuk menjadi besar dan memiliki kekuatan ekonomi harus melalui cobaan, rintangan, dan berbagai hambatan yang ada.

“Kita harus ngomong apa adanya masih banyak ketimpangan, masih ada kesenjangan, masih ada kemiskinan. Saya berikan contoh saja sekarang ini kita sedang fokus dan konsentrasi membangun infrastruktur,” ujarnya.

Presiden kemudian menyebut contoh pembangunan yang sedang berjalan baik pelabuhan, bandar udara (bandara) maupun jalan tol untuk mengurangi ketimpangan.

Contoh di Papua, lanjut Presiden, jalan yang ada di Merauke, Papua ke arah Boven Digoel yang merupakan jalan utama sepanjang 100 kilo meter (km) harus ditempuh selama 3 hari perjalanan.

“Saya hanya ingin memberikan bayangan ini jalan trans Papua yang sekarang ini baru dalam proses kita bangun dan Insyaallah nanti 2019 akan bisa terhubung antara kabupaten/kota dan antar provinsi. Ini sudah tapi belum teraspal, tapi sudah kita buka,” tutur Presiden.

Ia menyebutkan, penyelesaian infrastruktur perlu segera dilakukan untuk menyiapkan persaingan dengan negara-negara lain.

Pada kesempatan itu, Presiden mengajak semua untuk konsentrasi membangun negara ini. Jangan sampai energi habis hanya untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

Lebih lanjut Presiden mempersilahkan masyarakat untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah.

"Memberikan masukan silakan, memberikan saran silakan, saya selalu terbuka. Tapi tolong dibedakan antara kritik dan mencela, antara kritik dan fitnah, antara kritik dan memaki berbeda. Kritik dan mencela berbeda, kritik dan memaki berbeda, kritik dan fitnah itu berbeda. Kritik itu berbasis data dan memberikan solusi,” ungkapnya seraya memberikan contoh mengenai isu PKI yang menimpa dirinya.

Menurut Presiden, era digital yang sudah masuk di Indonesia dan harus dihadapi, ada sisi positif dan negatif. Untuk itu, Presiden mengajak mengambil manfaat sisi positif dari media sosial.

Jalin Kerjasama Dengan Timur Tengah

Lebih lanjut Presiden mengatakan, Indonesia sekarang ini sedang menggeser untuk mencari partner, menjalin hubungan yang lebih baik dengan negara-negara lain.

“Terutama karena kita sudah lama kalau berpartner itu selalu dengan Jepang, dengan Amerika, dengan Eropa, dengan Cina, dengan Korea Selatan, yang banyak ke sana. Ini dalam 3,5 tahun ini kita ingin menggeser agar investasi partner itu masuk ke negara-negara yang ada di Timur Tengah,” terangnya.

Presiden menjelaskan, mengenai pertemuan dirinya dengan pemimpin Saudi Arabia Sri Baginda Raja Salman, Uni Emirat Arab Syekh Mohammed, Qatar Syekh Tamim, yang telah hadir membalas kunjungan diantaranya yaitu Sri Baginda Raja Salman dan Syekh Tamim hadir ke Indonesia.

“Sekarang hubungan kita dengan beliau-beliau ini semakin baik. Saat saya ke Saudi Arabia semuanya kaget, saya sendiri juga kaget, dan itu tidak lazim, saya dijemput di depan pintu pesawat. Memang sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia kita ini di-respect-i. Negara lain itu respect ke kita,” tambah Presiden.

Karena negara-negara tersebut memiliki kekayaan minyak berlimpah, Presiden Jokowi menjajaki untuk menjalin hubungan bilateral agar mendapat peluang ekonomi yang bisa dikerjasamakan antara negara Timur Tengah dengan Indonesia.

Inilah hubungan-hubungan yang ingin dijalin, tambah Presiden, dengan negara-negara berpenduduk muslim yang banyak terutama Timur Tengah. Lanjut Presiden, kunjungan ke Cox’s Bazar untuk meninjau pengungsi Rohingya.

“Dan Indonesia, saya adalah Presiden pertama yang datang ke Cox’s Bazar. Apa yang ingin kita tunjukkan? Yang ingin kita tunjukkan adalah bahwa kita ini juga memiliki, ingin menjalin, tidak hanya ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniyah tapi juga ukhuwah basyariyah dengan Saudara-saudara kita yang ada di negara-negara lain,” kata Presiden.

Presiden juga bercerita tentang kunjungan ke Kabul, Afghanistan yang dalam kondisi tingkat kewaspadaan tinggi sehingga perlu ekstra dalam penjagaan keamanan baik dengan panser maupun helikopter.

“Saya yakin dan optimis Indonesia akan mampu meraih kemajuan dan kejayaan. Dan melalui masjid kita tebarkan persaudaraan, kita tebarkan ukhuwah, kita tebarkan persatuan masyarakat kita dan kita tebarkan keteduhan hati, keteduhan iman,” pungkas Presiden akhiri sambutan.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara ini Ketua DPD Oesman Sapta Odang, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. (her, sg)















«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda