sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Stafsus Presiden: Stop Fitnah Terhadap Lambang Negara

Staf Khusus Presiden, Lenis Kagoya.

Jakarta, Larast Post - Staf Khusus Presiden, Lenis Kagoya mengecam keras pernyataan Natalius Pigai yang selalu memberikan kritik tak mendasar, bahkan berbau fitnah kepada Presiden Jokowi Widodo.

Untuk itu Lenis Lagoya memberi peringatan kepada Natalius Pigai agar mengakhiri kritikannya itu. "Hari ini saya baru angkat bicara, bahwa saudara Natalius Pigai selalu memberikan pernyataan fitnah kepada lambang negara yaitu Presiden Republik Indonesia. Agar Stop bicara," tegas Lenis Kagoya ketika meberikan pernyataan pers terkait kritikan dan fitnah yang telah disampaikan Natalius Pigai, di Gedung Kemensesneg Timur, Jl. Veteran III, Jakarta, Jumat (27/4) petang. 

Lenis mengatakan bahwa untuk masalah Papua dan Papua Barat, dirinya selaku Ketua Tim Relawan Nusantara di Papua dan sebagai Kepala Suku Papua bertanggung jawab untuk menyampaikan jawaban kritik yang disampaiakan Natalius Pigai.

"Bahwa saya yang telah mendorong Jokowi menjadi Presiden maka saya bertanggung jawab menyampaikan beberapa hal kalimat fitnah terhadap Presiden yaitu saudara Natalius," ucap Lenis.

Lenis menyebutkan, bahwa tidak ada budaya di Papua untuk kekerasan dan kritikan maupun fitnah, siapapun presidennya dari Presiden kesatu sampai Presiden keenam orang Papua tak pernah melakukan kritik kepada pejabat negara.  Kepada siapapun baik kepada Menteri atau lingkungan pemerintahan. "Malah sebaliknya karakter orang Papua itu ramah, walaupun di Papua suka ada perang dan sebagainya. Tapi keragaman di Papua dan kebersamaan di Papua, baik masalah agama, kristen nasrani (maupun agama lain) yang ada di Papua (tetap rukun). Contoh Indonesia cukup belajar dari Papua," terang Lanis. 

Untuk itu, Lenis juga menyampaikan kepada Natalius yang memiliki karakter suka mengkritik terhadap Presiden sebagai lambang negara. "Saya sebagai Kepala Suku Papua semuanya tolak (kritikan tersebut), dan dia tak punya hak mengkritik Presiden. Kalau dia mau belajar sama dengan presiden lebih baik dia pulang kampung, di sana dia bangun kepintarannya dengan kemampuannya itu. Belajar lapangan di sana," ucap Lenis. 

"Saya sampaikan (kepada Natalius Pigai) stop bicara, mulai dari detik ini saya sudah larang kritik Presiden, sebagai Kepala Suku saya sudah sangat marah," tegas Lenis dengan geram.

Lenis mengakui dirinya telah membawa Presiden ke Papua setahun tiga kali, Jokowi masuk ke kampung, pedalaman dan daerah daerah rawan pun tetap dikunjungi Jokowi. 

"Natalius Pigai harus mengerti dan memahami baik baik, jangan asal bicara, jangan asal fitnah tapi harus belajar baik baik, karakter Jokowi bukan untuk mematikan orang orang Papua, tapi menghidupkan orang orang Papua. Dan Jadikan mereka orang Papua sila kelima dari Sabang sampai Merauke yang sama. "Sila kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itu yang dibuat hanya Jokowi saja tidak ada yang lain lagi," tegasnya lagi.

Lenis juga mengakui pada setiap kunjungan ke Papua dirinya selalu mendampingi. Tak terhitung berapa banyak pembangunan di Papua yang telah dilakukan Presiden Jokowi. Berapa persen pembangunan Papua, Pembangunan Jalan, Pembangunan Pasar, Pendidikan Papua kini lebih baik dari sebelumnya, berapa orang Papua yang saat ini bekerja di Kementerian, dulu orang Papua (baik anggota TNI maupun Polri) jarang naik bintang, sekarang sudah banyak orang Papua berpangkat jenderal.

Untuk itu, Saudara Natalis Pigai ini yang terakhir, Stop bicara, kalau dia tak mau stop bicara saya cari dia (Natalius Pigai)," ucap Lenis memberi peringatan pada Natalius Pigai.          

Bantah Kritik Sebagai Fitnah

Sementara itu Natalius Pigai membantah anggapan bahwa kritik yang kerap ia sampaikan sebagai bentuk fitnah terhadap pemerintah.

Menurut Pigai, kritiknya terhadap pemerintah selalu berdasarkan data dan fakta di lapangan. Ia menceritakan rekam jejaknya sebagai peneliti dan komisioner Komnnas HAM selama lima tahun.

"Saya ini bersertifikat sebagai peneliti Depnakertrans, sertifikatnya dari LIPI. Kedua saya ini memiliki sertifikat statistik dan saya pernah jadi kepala bidang statistik di depnaker. jadi saya tahu bagaimana data," ucap Pigai seperti yang dilansir kompas.com, Jumat (27/4).

"Saya ini juga pernah jadi penyelidik Komnas HAM yang menjabat selama lima tahun. Semua kritik saya itu profesional, terukur, dalam rangka mengisi ruang-ruang kosong yang tidak pernah diisi oleh negara," pungkasnya.(her, sg)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda