sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Bisnis

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Agraria

LARAS JATENG

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

Pendidikan

Olah Raga

» » Gagal Dalam Kesulitan, Gagal Pula Dalam Kesenangan

Bersama : Abu Salman

Menurut ustad semasa sekolah ibtidaiyah dulu, ujian bagi manusia ada dua macam yakni berupa kesulitan dan kesenangan.

Sekelompok manusia ada yg berhasil melewati ujian kesulitan tapi gagal ketika mendapat ujian kesenangan. Demikian juga sebaliknya, ada sekelompok manusia lainnya yg berhasil melewati ujian kesenangan tapi gagal ketika mendapat ujian kesulitan.

Namun, lanjut ustad, ada manusia yang lebih lemah dari itu, karena gagal ketika mendapat ujian kesulitan dan gagal pula ketika mendapat ujian kesenangan.

Kemudian ustad mengisahkan tentang suatu hikayat, pada satu waktu di suatu negeri, hidupla, sebut saja, si Pulan, yang sedang mendapat ujian berupa kesulitan ekonomi, hingga untuk mengisi perutnya saja sering terancam.

Dalam kondisi seperti itu, si Pulan bukannya giat berusaha atau bekerja, tapi malah mengandalkan bantuan teman atau kenalannya.

Dengan dalih bersilaturahmi, nyaris setiap hari mendatangi teman dan kenalannya secara bergilir, sambil mengeluhkan kesulitan ekonomi agar teman dan kenalannya terenyuh dan memberi bantuan, sesekali ia berjanji akan membalas kebaikan teman dan kenalannya

Bahkan ia juga beberapa kali meminjam uang dengan alasan untuk modal usaha, namun nyatanya uang pinjamam tidak digunakan modal usaha, tapi digunakan untuk kebutuhan sehari hari.

Menurut penilaian Ustadz, si Pulan tidak berhasil melewati ujian kesulitan, karena telah mengekploitasi kesulitannya agar mendapat bantuan, dan mengandalkan pemberian orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Singkat cerita, dengan kekuasaan Allah SWT, kondisi ekonomi si Pulan membaik dan bentuk ujian pun berubah menjadi ujian kesenangan.

Mendapat ujian kesenangan, berupa keadaan ekonomi yg membaik, Pulan bukannya besyukur tapi justru seperti lupa diri, sikap dan perangainya berubah, ia menjadi temperamen dan seperti mudah tersinggung, sikap lemah lembut dan sabar hilang, wajah yang dulu layu mengundang belas kasihan, kini menjadi kaku dan angkuh.

Ia juga lupa dengan teman dan kenalan yang dulu membantunya, jangankan datang bersilaturahmi, kirim salam pun tidak ia lalukukan. Apalagi membalas budi dan membayar hutang yang dijanjikan, tentunya tidak ia lakukan pula. Si Pulan yang dulu sering berkata pentingnya silaturahmi kini memutus tali silaturahmi.

Menurut Ustadz, dengan sikapnya itu, si Pulan menunjukan telah gagal pula melewati ujian berupa kesenangan.

Dan, selemah lemahnya manusia, kata Ustadz, ialah manusia yang gagal ketika mendapat ujian kesulitan dan gagal pula saat mendapat ujian berupa kesenangan. Ach..Pulan..Pulan..

Semoga kita senantiasa terhindar dari segala cobaan dan godaan.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda