sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Megapolitan

Polkam

Agraria

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Bisnis

LARAS JATENG

Olah Raga

Seni Budaya dan Hiburan

Pendidikan

Wisata

Selebrity

» » Kabasarnas: Meolut Informasi Cepat Dalam Mendukung SAR

Dalam Hitungan Detik Satelit Meolut Dapat Mendeteksi Objek Emergency
Kabarnas Marsda Syaugi saat memberikan keterangan pers usai persmian Meolut, Badiklat Basarnas, Cariu, Jonggol, Bogor, Jumat (4/5).

Bogor, Larast Post - Saat ini era globalisasi semakin cepat, dalam sekian detik publik dapat mengetahui informasi lewat dunia digital.

Dalam mengimbangi perkembangan teknologi dunia digital itu Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pula melakukan pembenahan tentang pentingnya sebuah informasi yang cepat dan akurat terutama dalam menunjang SAR (search and rescue).

Untuk itu dalam rangka meningkatkan pelayanan SAR kepada masyarakat Basarnas secara resmi meluncurkan teknologi radar canggih Meolut - IDMCC di Badan Diklat Basarnas Desa Cariu, Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor, Jumat (4/5). 

Pada kesempatan itu Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M. Syaugi didampingi Sekretaris Utama Basarnas, Dadang Arkuni, Direktur Sistem Komunikasi, Brigjen TNI (Mar) Suprayogi melakukan penekanan tombol tanda peresmian radar Meolut beroperasi. 

Kabasarnas mengatakan, beroperasinya Meolut agar informasi yang didapat dari satelit dapat lebih cepat dan akurat keberadaan objek emergency, serta diharapkan agar tuntutan pelayanan profesional terhadap masyarakat lebih ditingkatkan lagi dalam pencarian dan pertolongan. 

"Stasiun Bumi Satelit SAR Indonesia hanya ada di sini, alat tersebut untuk mendekteksi kejadian-kejadian baik kecelakaan udara kecelakaan laut maupun kecelakaan darat yang dilengkapi dengan alat emergency indikator," terang Kabasarnas Marsda Syaugi saat memberikan keterangan pers usai meresmikan beroperasinya radar Meolut - IDMCC di Badan Diklat Basarnas Desa Cariu, Jonggol Kabupaten Bogor, Jumat (4/5).

Diterangkan Syaugi, alat kecelakaan yang dimiliki transportasi laut bernama kipet emergency position indikator radio piket, sedangkan yang dimiliki transportasi udara bernama ILT emergency position indikator radio piken. Sementara transportasi darat bagi yang memiliki personel lukiter piket.

"Jadi hal-hal yang dipancarkan dari ketiga alat tadi kita bisa mendekteksi ini sudah kelas dunia, jadi kita bisa memantau kejadian di manapun di Indonesia," ucap Kabasarnas seraya megatakan bahwa dengan Meolut tersebut Basarnas dapat cepat melakukan evakuasi terhadap kejadian kecelakaan tersebut dengan cepat.

Basarnas juga mengatakan, alat itu sudah dibuktikan keakuratannya dalam mendeteksi objek emergency yang sedang mengalami musibah. "Kita tadi sudah buktikan tidak sampai satu menit alat itu sudah memancarkan sinyal yang warnanya merah, merah itu belufem, sedangkan hijau pasti posisinya di situ, sinyal hijau itu (menyala) tidak lebih dari lima menit, dan itu sudah kami buktikan," terang Basarnas.

Apa alasan Basarnas memiliki Meolut, Syaugi mengatakan, agar meningkatkan operasional dalam rangka melayani masyarakat dalam melakukan evakuasi kecelakaan. 

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M. Syaugi didampingi Sekretaris Utama Basarnas, Dadang Arkuni (kanan), Direktur Sistem Komunikasi, Brigjen TNI (Mar) Suprayogi saat melakukan penekanan tombol tanda peresmian satelit Meolut beroperasi di Stasiun Bumi Satelit SAR Indonesia, Jonggol.

"Apabila sesuatu yang tidak kita inginkan kita bisa dengan cepat untuk mencari (melakukan pencarian dan pertolongan). Dalam satu bulan ini hampir bisa mendekteksi hampir 70 persen kejadian-kejadian di manapun itu adanya," terangnya lagi.

Sedangkan alat yang lama bernama Leolut, itu memerlukan waktu lama dalam mendeteksi sinyal _yang dimiliki alat emergency transportasi_. "Bisa dua sampai tiga hari kita baru tahu (posisi objek emergency indikator) misalkan di Cariu di sini ada kejadian itu menunggu tiga hari," jelas Syaugi.

Syaugi juga mengatakan, cara kerja Meolut melalui satelit yang dipancarkan signal ke stasiun bumi di Cariu ini. "kita menerima signyal jadi yang namanya distramisit itu mengirimkan signyal kesatel kita bisa tangkap di sini jadi seperti itu, operater kita selalu kita tingkatkan kualitas sdm sampai sekarang kita bisa operasikan," ucapnya

Syaugi menyebut setelah Meolut dapat menerima signal distramisit, kemudian juga operator di Badiklat dapat memancarkan sinyal ke alat yang ada di Basarnas Pusat. "Pusatnya di sini (Badiklat Cariu) tapi kita juga menarik barang ini (memancarkan sinyal kembali) ada yang namanya di Basarnas Konen Senter di Kantor Pusat jadi kita bisa melihat dengan layar lebih besar yang gampang dilihat sehingga kita bisa  meneruskan informasi tadi," ucapnya.

Radar Meolut terdapat 4 penjuru berbentuk segi empat untuk menerima signal dari satelit pemantau transportasi dan kemaritiman.

Sebelumnya Basarnas hanya memiliki alat pendeteksi dini yang baru bernama LEOSAR dan MEOSAR namun radar Meolut dinyatakan alat lebih canggih dan modern dari alat pendeteksi yang ada.

Basarnas sendiri telah mengoperasikan peralatan deteksi dini (LEOLUT) sejak 1991 dan hingga saat ini 2018. Pengembangan sistem komunikasi deteksi dini Basarnas bermula dari sistem LEO SAR (Low Earth Orbit SAR) yang memiliki orbit polar bergerak dari kutub ke kutub dan mengitari bumi pada ketinggian 800-1000 km.

Tahun 2017, Basarnas membangun sistem deteksi dini terbaru dengan menggunakan orbit satelit MEOSAR (Medium Earth Orbit SAR) berada pada ketinggian 24.000 km. 

Selain itu MEOSAR juga memiliki cakupan wilayah pendeteksian lebih luas serta hasil yang lebih cepat dan akurat dibandingkan LEOSAR. 

Bedanya jika Leo, “begitu ada sinyal membutuhkan agak lama untuk terdeteksi di kantor Basarnas, kita ingin tahu posisinya di mana, tergantung satelit, karena satelit yang mtch dengan Leo sedikit sekali, hanya bisa 1 hari, jadi baru besok menerimanya,” lanjutnya.

Dijelaskannya, alat Meolut ini sampai 5 menit, kita sudah buktikan sudah dicek, kita pesan baca pesan emergency, maksimal 5 menit sudah terdeteksi, faktor erronya kecil, sehinggga bisa mendeteksi sinyal. (Fer, min, sg)

Sementara Brigjen TNI (Mar) Suprayogi mengatakan, selain pendeteksian radio beacon di wilayah Indonesia, Stasiun Bumi Satelit SAR Indonesia dapat mendeteksi radio beacon yang dipancarkan dari negara lain.

Pengadaan MEOLUT MCC ini menggunakan dasar UU No.29/2014 tentang pencarian dan pertolongan yang tertuang pada pasal 61 tentang Pengoperasian Sistem Deteksi Dini; Surat Perjanjian Kerja No. 04/PPK-08/PERJ/III/SAR-2017 Tanggal 20 Maret 2017, tentang Pekerjaan Pengadaan MEOLUT MCC Badan SAR Nasional Pencarian Dan Pertolongan TA 2017.

"Selain Indonesia, negara lain di kawasan Asia Tenggara yang juga memiliki satelit SAR buatan Amerika tersebut adalah Singapura, dan Australia," pungkas Suprayogi ketika memberikan sambutan.(fer, sg, min)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda