sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Agraria

LARAS JABAR

Selebrity

Pendidikan

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Kolaborasi Kain Cepuk Bali dan Starbucks Promosikan Budaya Nusantara

Didiet Permana dan Direktur Starbucks Indonesia saat menggelar jumpa pers promosikan kolaborasi kain cepuk Bali dan Starbucks.

Jakarta, Larast Post - Untuk melestarikan kearifan lokal baik pemerintah pusat maupun daerah terus mempromosikan baik melalui event event nasional maupun internasional. Salah satunya kain nusantara.

Untuk itu salah seorang desainer Didiet Maulana segala cara dilakukannya untuk terus mempromosikan kain nusantara yang merupakan kekayaan kultural. Mulai dari merancang baju renang bermotif tenun, hingga memberikan sentuhan tenun lokal di kedai kopi global. 

Kali ini, Didiet memilih motif tenun cepuk dari Bali yang dikolaborasikan bersama brand kopi ternama dunia, Starbucks. Cepuk Bali akan dijumpai di serangkaian produk Starbucks seperti tas, cup sleeve, boneka, tumbler, pouch dan pajangan.

Direktur Starbucks Indonesia, Anthony Cottan mengatakan, memilih Ikat Indonesia by Didiet Maulana sebagai dukungan promosi budaya lokal. 

"Kolaborasi ini juga untuk menginspirasi masyarakat luas khususnya generasi muda agar lebih dekat dengan kearifan lokal. Serta mengapresiasi motif kain lokal yakni tenun ikat," kata Anthony saat gelar jumpa pers di gerai Starbucks Plaza Indonesia, Senin (14/5).

Soal harga, Starbucks membanderolnya mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 305 ribu. "Starbucks Indonesia ingin sekali terlihat seperti warung kopi di Indonesia, tetapi tidak meninggalkan standarisasi starbucks dunia."

Sementara Didiet pun menceritakan awal mula semangatnya mengenalkan batik dan tenun ke dunia. Bermula sejak 7 tahun lalu, ketika publik ribut soal kain asal nusantara yang diklaim negara tetangga. 

Tepat 29 Juli 2011, akhirnya Didiet mendirikan IKAT Indonesia. Lewat produknya ini, Didiet ingin mengenalkan warisan budaya dengan gaya edgy yang bisa diterima kalangan muda. 

"Iya lahirnya IKAT Indonesia itu berawal dari kegaduhan masyarakat yang khawatir Batik diakui Malaysia padahal sebelumnya enggak terlalu aware ketika seperti ini baru ribut. Nah saya berpikir gimana caranya agar masyarakat suka memakai kain jadi saya ciptakan ini," ujar Didiet Maulana kepada sejumlah awak media.

Tujuh tahun berjalan, perlahan tapi pasti Didiet sukses merangkul keinginan kaum urban untuk kembali memakai kain. Ini ditambah pula dengan pengalamannya yang pernah bekerja di dunia retail fesyen sehingga sudah mengetahui langkah dan porsi di perputaran bisnisnya.(maslim)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda