sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Bisnis

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Agraria

LARAS JATENG

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

Pendidikan

Olah Raga

» » Lippo Group Tersandung Holland Village Manado dan Meikarta?

Pembeli rumah di Holland Village Manado saat memprotes pimpinan Lippo Group
Jakarta, Larast Post - Belum dibangunnya rumah  di Holland Village Manado,  Sulawesi Utara, membuat para pembeli di perumahan tersebut gusar. 

Dan imbasnya, seperti dilansir dari tribunews.com, Presiden Komisaris Lippo Group Theo L Sambuaga dan Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya, saat berada di ruangan Talaud Satu lantai lima Aryaduta Hotel Manado, Rabu (30/5/2018), disandera para pembeli hampir dua jam. 

Dua pintu keluar tampak ditutup dengan kursi dan meja agar pimpinan Lippo Group tak bisa meninggalkan ruangan.

Ternyata mereka meminta agar kedua pimpinan Lippo Group ini bisa menandatangani pernyataan hitam di atas putih yang menyatakan bahwa jika sampai pada tanggal 1 Juli 2018 tidak memenuhi janji membangun rumah, maka pihak Lippo Group akan mengembalikan uang yang telah mereka keluarkan.

"Saya sudah bayar uang sampai Rp1,9 miliar untuk dapat rumah di Holland Village, tapi sampai sekarang tidak ada pembangunan sama sekali," ujar Rivai Rompis, seorang pembeli.

Ia bahkan meminta agar pihak manajemen Lippo Group berhenti membohongi para pembeli.

"Ini sudah pertemuan kelima, dan saya sudah menunggu empat tahun untuk mendapatkan rumah itu. Tapi, jangankan kunci, rumahnya pun sampai sekarang belum ada," tandasnya.

Namun, permintaan menandatangani pernyataan hitam di atas putih dari konsumen itu tak dipenuhi oleh kedua pimpinan Lippo Group.

"Bulan Juni nanti kami sudah akan mulai membangun, jadi kami tidak ingin menandatangani apa saja perjanjian hitam di atas putih," ujar Theo Sambuaga.

Ia menambahkan, kedatangannya dari Jakarta ke Sulut adalah untuk menyelesaikan masalah ini.

“Jika bapak dan ibu tak mau menerima usulan kami, maka silahkan lapor ke polisi. Tapi, yang jelas saya datang dari jauh ke sini untuk memastikan kalau pembangunan akan dilakukan dengan serius," tukasnya.

Theo juga menjanjikan akan memberikan kunci rumah pada pembeli pada bulan Desember 2018.

"Tahap satunya akan diserahkan Bulan Desember 2018, tahap kedua tiga bulan setelah itu," papar Theo L Sambuaga yang pernah menjabat menteri ini.

Pembeli lainnya, Yongki Mailuhu, juga mempertanyakan nasib dari pembeli yang rumahnya berada di bantaran sungai.

"Lalu bagaimana dengan kami yang memilih tempat disekitaran bantaran sungai? Karena, sesuai aturan harus 15 meter jauhnya dari bantaran sungai. Tapi, ini sudah sangat dekat," terangnya.

Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya menambahkan, bagi pemilik rumah di bantaran sungai akan dipindahkan sesuai keinginan.

"Bapak dan ibu bisa pilih langsung tempatnya, karena kami masih mempertimbangkan faktor keselamatan juga," cetusnya.

Sekitar 45 menit kemudian Kapolresta Manado, Kombes Pol FX Surya Kumara dan belasan polisi datang ke lokasi.

Kapolresta meminta bagi para konsumen yang belum puas dengan hasil mediasi ini, silakan menempuh jalur hukum.

"Silakan laporkan saja, di sini ada Kasat Reskrim pasti ditindaklanjuti," urainya.

Mengingat waktu yang sudah semakin malam, perwira tiga bunga itu lalu membubarkan pertemuan tersebut. 


Pembeli tanyakan kejelasan

Puluhan pembeli rumah itu sempat mengamuk dalam acara mediasi dilakukan di Aryaduta Hotel Manado, Rabu (30/5/2018) 

Mereka datang untuk menanyakan kejelasan dari pembangunan rumah yang tak kunjung terealisasi di Holland Village Manado.

"Sekarang sudah menjadi klimaks dari pembeli di Holland Village karena sudah merasa jadi korban penipuan. Kami sudah membayar uang yang tidak sedikit untuk membeli rumah ini. Tapi, sampai saat ini tak ada tanda-tanda sudah akan dibangun," ujar Pingkan Nuah, salah satu pelanggan.

Theo Sambuaga kemudian meminta para pembeli  bersabar. "Mohon bersabar, pembangunan akan dimulai pada Juni 2018," papar dia.

Targetnya pada Desember 2018 para pembeli sudah mendapatkan rumahnya.

"Untuk tahap pertama akan diserahkan pada Desember 2018, tahap kedua tiga bulan setelah itu," tandasnya.

Uang minta dikembalikan

Di antara para nasabah Holland Village yang melakukan mediasi, Rabu (30/5/2018) juga ada yang meminta agar pihak Lippo Group mengembalikan saja uang yang sudah dibayarkan pembeli rumah.

"Saya sudah bayar rumahnya lunas, tapi sampai hari ini hanya tiang berkarat yang dibangun," kata Lendi Maramis salah satu pelanggan, dengan nada kesal.

"Kembalikan uang saya, karena sudah tiga tahun kami menunggu," pintanya.

Theo Sambuaga kembali menegaskan pihaknya akan membangun mulai Juni 2018.

"Kalau tidak dibangun, kami akan kembalikan uang kompensasi," ujarnya saat mediasi dengan nasabah di Hotel Aryaduta.

Pada Selasa (29/05/2018) dalam perjamuan makan malam bersama para jurnalis di Sulut di Hotel Aryaduta Manado, Presiden Komisaris Lippo Group Theo L Sambuaga mengatakan pihaknya berkomitmen membangun Sulawesi Utara.

Komitmen itu tak hanya diwujudkan lewat pembangunan perumahan, melainkan juga sekolah, rumah sakit, hotel, dan juga mal. Selain Hotel Aryaduta, Lippo Plaza Kairagi, Siloam Hospitals Manado, Lippo juga tengah menyelesaikan Monaco Bay dan Holland Village.

Meski dalam penyelesaian pembangunan ada berbagai kendala eksternal, kata Theo, namun pihaknya tetap berkomitmen membangun provinsi di ujung utara Indonesia ini.

Seperti Holand Village, yang rencananya akan merampungkan 400 unit rumah, paparnya, pembangunan akan terus dilakukan sampai sesuai target yang ditetapkan. Dari jumlah itu, sudah ada sekitar 90 unit yang sudah diserahterimakan.

Rencananya, sebelum Lebaran juga akan diserahkan 20 unit. Namun, karena banyak tukang yang mudik Lebaran, kemungkinan akan diserahterimakan setelah Lebaran. "Kami akan tetap menyelesaikannya," lanjutnya.

Ketut menegaskan bahwa semua proyek yang dikerjakan Lippo Group, akan selalu diselesaikan dan dikelola dengan baik. "Oleh karena itu, di Sulut pun kami akan menyelesaikan seluruh proyek yang ada dengan sebaik-baiknya," tegasnya. 

Tersandung kasus hukum

Ternyata permasalahan Lippo Group bukan hanya pada kasus Holland Village Manado, kasus hukum kini tengah melanda PT Mahkota Sentosa Utama (MSU), anak usaha Lippo Group yang menggarap megaproyek Meikarta.

MSU tengah tersangkut kasus hukum di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. MSU  harus menghadapi permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). 

Dikutip dari laman Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SlPP) Pengadilan Negeri Jakarta Pusat & Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (30/5/2018), pihak yang memohonkan PKPU MSU adalah PT Relys Trans Logistic dan PT Imperia Cipta Kreasi. 

Permohonan PKPU itu terdaftar sejak Kamis (24/5) dengan nomor perkara 68/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Jkt.Pst. Sejauh ini, pihak Pengadilan belum menetapkan jadwal persidangan perdana PKPU ini digelar. 

Relys Trans Logistic dan Imperia menuntut agar pengadilan menetapkan MSU  dalam keadaan PKPU dengan segala akibatnya. 

Di samping itu, meminta mengangkat enam pengurus PKPU sekaligus. Mereka adalah Fadlin Avisena Nasution, Irfan Nadira 

Nasution, Muhammad lazuardi Hasibuan, Fajar Romy Gumilar, Andry Abdillah, dan Mulyadi. 

Seperti dilansir dari Kontan.co.id, Imperia Cipta Kreasi merupakan perusahaan advertising agency yang menjual jasa aktivasi merek (brand activation). Pun salah satu unit usahanya 

yang bernama Ocean Creative Wave punya klien-klien terkenal macam Axis, Honda, Hoka-Hoka Bento, Kotex, Titis Sampurna, dan lainnya. 

Untuk diketahui, dalam riset Nielsen pada 2017 Meikarta tercatat paling boros menggelontorkan biaya iklan di Indonesia, dengan nilai lebih dari Rp1,5 triliun. (tim

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda