sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Bisnis

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Agraria

LARAS JATENG

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Selebrity

Pendidikan

Olah Raga

» » Menkopolhukam dan Kapolri Sepakat, Hadapi Teroris Dilakukan Bersama sama

Menkopolhukam bersama Kapolri saat menggelar jumpa pers terkait penaggulangan dan pencegahan terorisme, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5) petang.

Jakarta, Larast Post - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, teroris merupakan musuh bersama yang harus dihadapi secara bersama sama. 

"Karena yang menjadi korban bukan hanya polisi, yang mereka lakukan meneror rakyat mengancam rakyat bahkan membunuh rakyat juga," tegas Wiranto saat menggelar jumpa pers usai menghadiri memimpin rapat terbatas tentang pencegahan dan penanggulangan terorisme di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5) petang.

Untuk itu, Wiranto menambahkan, harus ada sinkronisasi seluruh komponen bangsa dalam menghadapi aksi terorisme secara bersama sama. Kemenpolhukam telah mengadakan satu tekad, terus mengkonsolidasikan kekuatan, mensingkronisasikan kegiatan bersama Kementerian kementerian terkait dan lembaga lembaga negara.

"Lalu bagaimana kita mencoba menetralisir kegiatan terorisme dari mulai awal  sampai ujung, dari mulai kutub yang paling ujung di sana proses rekruitmen dan organisasi sampai paling ujung di sana aksi mereka. Itu yang kita bicarakan, singkronkan," jelas Wiranto.

Untuk itu, Wiranto mengharapkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi terorisme tersebut. 

Terkait perhelatan yang akan digelar beberapa bulan lagi, Menkopolhukam menyebutkan bahwa keamanan harus diutamakan karena itu menyangkut harga diri bangsa.
  
"Dan yang paling penting kita dapat menggelar event event internasional tahun ini dan tahun depan. Ada Asian Game, Pilkada serentak ada juga perhelatan di Bali IMF dan nanti tahun depan ada pemilihan legislatif dan (Pemilihan) Presiden, semuanya event event tersebut penting yang harus kita amankan bersama sama," pungkas Wiranto.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kepala BNPT usai menghadiri rapat terbatas penanggulangan terorisme di Kantor Presiden, Jakarta, (22/5).

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebutkan bahwa dari kepolisian sendiri dia berharap revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dapat segera dilaksanakan.

"Dengan Undang-Undang baru bisa komprehensif dengan melibatkan banyak pihak tapi tetap menghargai nilai-nilai demokrasi dan HAM. Jadi penanganan pencegahan yang melibatkan banyak pihak," tutur Tito.

Menurut Tito, aksi terorisme adalah puncak gunung es. Sementara akar gunung es meliputi permasalahan komprehensif ekonomi, ideologi, keadilan, dan ketidakpuasan.

"Ini yang perlu ditangani, ada prosesnya untuk menuju aksi terorisme. Di Surabaya prosesnya cukup panjang. Dengan rapat tadi Presiden beri arahan baik _hard power_ penegakan hukum, melibatkan stakeholder terkait BIN, TNI, BNPT, dan langkah-langkah komprehensif pencegahan dan pascaperistiwa terutama untuk ubah _mindset_ ideologi terorisme," lanjutnya.

Tito mengatakan Polri juga mengajukan agar dibangun rutan dengan penjagaan maksimum. Ada masa penangkapan, penyidikan, penuntutan, persidangan di mana tersangka atau terdakwa ditempatkan di tempat khusus yang tidak sama dengan rutan Salemba dan Cipinang.

Dugaan Kuat Keterlibatan Kelompok JAD Apiliasi ISIS
Sebelumnya Kapolri memberikan gambaran pasca terjadinya bom di Surabaya. Wakapolri telah mengadakan investigasi, termsuk kita mendeteksi jaringannya dari hasil operasi kita, kita meyakini atau katakanlah dugaan yang sangat kuat bahwa aksi yang di Surabaya itu terkoneksi denga penyerangan Polda Riau, juga insiden di Mako Brimob yaitu dilakukan oleh kelompok yang bernama jamaah JAD yang memiliki apiliasi dengan ISIS," terang Tito. 

Kemudian dari informasi itu, dengan didukung TNI, Polri melakukan penindakkan. "Hingga dalam waktu delapan hari 12 Mei sampai 21 Mei sudah 74 orang yang ditangkap dan 14 diantaranya meninggal dunia karena melawan pada saat ditangkap. Antara lain di Jawa Timur 31 orang Jawa Barat 8 orang dan Banten 4 orang. Kemudian Sumsel 4 orang Riau 9 orang dan Sumut 6 orang," jelas Kapolri.

Kapolri menyebutkan dari hasil operasi tersebut terdapat sejumlah barang bukti yang disita, ada bom yang siap pakai maupun materi bahan peledak lainnya. Kemudian baterai, swict dan lain lain.(her, sg)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda