sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Presiden Jokowi Kecam Terorisme

Presiden Jokowi berbincang bersama pimpinan Ikhwanul Muballighin
Surabaya, Larast Post – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecam tindak terorisme bom bunuh diri, di Surabaya, pada Minggu (13/5/2018) dan Senin (14/5/2018). 

Presiden menilai, aksi terorisme merupakan tindakan tidak bermartabat, apalagi tindakan tersebut melibatkan anak berusia 9 tahun sampai 12 tahun.

“Ini adalah kewajiban bersama, para mubalig untuk mengingatkan kepada santri-santrinya, untuk mengingatkan kepada jamah-jamaahnya, untuk mengingatkan kepada umat-umatnya bahwa agama Islam tidak mengajarkan seperti itu,” ujar Presiden, saat pembukaan Halaqoh Nasional Hubbul Wathon dan Deklarasi Gerakan Nasional Mubalig Bela Negara (GN-MBN), pada Senin (14/5/2018) siang, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.

Presiden menegaskan, Islam tidak mengajarkan sesuatu dengan kekerasan. “Islam mengajarkan kita untuk lemah lembut, sopan santun, menghargai orang, menghormati orang lain, tawadu, rendah hati. Saya kira itu yang diajarkan oleh Nabi besar kita kepada kita,” tuturnya.

Perbedaan Merupakan Anugerah 
Presiden Jokowi mengingatkan, Indonesia merupakan negara besar memiliki penduduk mencapai 263 juta yang tersebar di 17.000 pulau  dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote.

“Bangsa Indonesia memiliki 714 suku yang berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi, berbeda-beda agama. Inilah anugerah Allah yang diberikan kepada kita bangsa Indonesia, memang beragam, memang berbeda-beda, dan memang majemuk. Ini anugerah Allah yang diberikan kepada bangsa kita,” ucap Presiden Jokowi.

Kepala Negara mengingatkan, anugerah ini harus dipelihara salah satunya dengan mempererat persaudaraan. “Sudah menjadi kewajiban kita semuanya atas izin Allah untuk merawat, memelihara ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan lebih besar lagi ukhuwah insaniyah dan ukhuwah basariyah,” ungkapnya.

Jangan sampai karena kepentingan politik, lanjut Presiden, persaudaraan ini menjadi retak. Jangan sampai gara-gara pemilihan bupati, wali kota, gubernur, dan nanti ada pemilihan presiden semua menjadi tidak merasa sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

“Kalau ada pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan wali kota, pilihan presiden silahkan pilih pemimpin-pemimpin yang paling baik, dicoblos yang paling baik. Setelah itu, rukun-rukun kembali sebagai saudara sebangsa dan setanah air,” tuturnya.

Presiden menegaskan, ini menjadi tugas bersama, tugas mubalig, tugas para kiai, tugas ulama, untuk mengingatkan, menyadarkan kepada kesemuanya bahwa keragaman ini sudah menjadi kehendak Allah.

Jangan sampai gara-gara pemilihan bupati, wali kota, gubernur, dan presiden antar saudara saling menjelekkan, mencela, mencemooh, dan memfitnah. “Itu namanya suul tafahum, hanya curiga, hanya gampang benci terhadap orang lain, gampang dengki kepada orang lain, kurang pengertian, berpikir jelek. Mestinya yang benar ini kita husnul tafahum, berpikran positif, berpikiran baik kepada orang lain, berpikir dengan penuh kecintaan terhadap orang lain, tawadu, rendah hati, selalu berprasangka baik,” jelas Presiden Jokowi.

Hadir dalam kesempatan itu antara lain Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Umum DPP Ikhwanul Muballighin K.H. Mujib Khudlori, Dewan Pembina Ikhwanul Muballighin K.H. Nur Muhammad Iskandar, dan Ketua Dewan Pakar Ikhwanul Muballighin Rokhim Dahuri. (her, sg)


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda