sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Agraria

Regional

Hukrim

Laras Jatim

Bisnis

LARAS JATENG

Olah Raga

Seni Budaya dan Hiburan

Pendidikan

Selebrity

E-Papper

» » Artidjo, Sebuah Pakta Integritas

Dr. Artidjo
Jakarta, Larast Post - Firma hukum Ari Yusuf Amir & Erwin M. Singajuru and Partners dan AIL Amir and Associates menyelenggarakan buka puasa bersama, sekaligus pelepasan Dr. Artidjo Alkostar yang pensiun setelah 19 tahun menjabat hakim Mahkamah Agung, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Sabtu (2/6/2018).

Menanggapi hal itu, Pengamat politik Hamid Basyaib mengatakan, perilaku kedua firma hukum ini terasa cukup aneh, mengingat Artidjo lebih dikenal sebagai hakim yang kurang bersahabat dengan kaum advokat. Tapi perayaan itu, lebih personal daripada profesional karena kedekatan hubungan pribadi yang panjang antara para personel kedua firma dengan Artidjo.

“Kebanyakan mereka adalah eks mahasiswa Artidjo  di FH UII Yogyakarta, sekaligus anak-anak spiritual dan ideologisnya, orang-orang yang mendapat banyak inspirasi dari dosen Hukum Pidana itu. Terutama dalam soal integritas dan semangat keras untuk tak takluk pada kekuasaan yang menindas di masa mereka mahasiswa,” ujar Hamid Basyaib.

Sejajar Dengan Hoegeng

Buka bersama juga diisi tausiyah Prof. Mahfud MD, yang akhir-akhir ini mengaku gamang memberi ceramah semacam itu, berhubung kontroversi di seputar gaji di BPIP tempat ia menjadi salah satu penasihat. 

Pada kesempatan yang sama, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan cerita yang mengesankan. Ia menyejajarkan Artidjo di MA dengan Pak Hoegeng di Kepolisian dan Baharuddin Lopa di Kejaksaan. "Tokoh-tokoh seperti mereka hampir tak pernah ada lagi di instansi masing-masing," katanya,

Sebagai perwira di Polres Jakarta Pusat di awal 2000an, Tito menangani tawuran pemuda kampung di Kali Pasir dan Kwitang. Ia kaget ketika seorang warga memberitahu bahwa di salah satu gang kecil di sana, tinggal seorang hakim agung, yang tiap hari naik bajaj.

Hamid Basyaib mengaku, pernah ke rumah Artidjo yang dimaksud Jenderal Tito, saat Artidjo baru beberapa hari menempati rumah itu. “Di dalamnya belum ada meja-kursi tamu, jadi kami duduk menggeletak di lantai berlapis permadani murah,” ujarnya.

Menurut Hamid Basyaib, meski ia hapal gaya  dan kesederhanaan hidup Artidjo, kondisi rumahnya di gang kecil itu tetap mengejutkannya. Bahkan biaya kontrak rumah itu pun dari seorang mantan mahasiswanya. 

Hamid Basyaib menyebutkan, Artidjo tidak secara pasti mengetahui mendapat rumah dinas. "Kabarnya disediakan rumah dinas. Tapi saya tidak mau meminta-minta kepada pejabat yang berwenang dalam urusan itu (dia menyebut nama). Kalau memang jatah rumah itu ada, berikan saja. Tidak perlu diminta," kata Hamid Basyaib menirukan ucapan Artidjo.

Menurutnya, setelah beberapa tahun, Artidjo akhirnya mendapat jatah apartemen di Kemayoran. Sedikit lebih mewah dibanding kontrakannya di gang Kwitang, yang ia huni sampai pensiun; dan ia tidak "menyimpan" rumah-rumah pribadi di tempat-tempat lain.

Sekian tahun kemudian, lanjut Hamid Basyaib, Artidjo berhenti berbajaj, dan naik mobil dengan supir pribadi. Sebuah mobil mini bikinan Korea yang sama sekali tidak agung. Apa mau dikata, ia memang tak pernah peduli dengan hal-hal luaran dan tempelan. Artidjo tak pernah sudi meletakkan prestise dan martabat dirinya pada barang-barang konsumsi yang tak bersubstansi.

“Terlalu banyak sahabat, murid, bahkan musuhnya yang bisa bersaksi tentang keunikan Artidjo, yang bagi kami sebagai aktifis mahasiswa juniornya merupakan kompas moral, tempat kami menimba inspirasi dan energi perjuangan, terutama di saat situasi terasa kian suram,” ucap Hamid Basyaib.

Adik Minta Diluluskan

Hamid Basyaib juga mengisahkan, suatu malam dirinya dan teman-teman berkunjung ke rumah Artidjo, di sebuah kompleks perumahan baru yang sederhana di daerah Godean. “Sebelum masuk rumah, saya diseret ke suatu sudut oleh adik kandung Artidjo, yang bernama Maulana. Ia berbisik-bisik, meminta saya memohon kepada kakaknya agar segera meluluskan dia dari Fakultas Hukum,” tuturnya.

Maulana, lanjut Hamid Basyaib, mengaku sudah sembilan tahun kuliah. Semua mata kuliah sudah lulus. Tinggal satu saja yang belum lulus, Hukum Pidana II. 

“Saya “terganggu" dengan permintaan itu karena fakta-fakta di belakangnya. Maulana, bukan hanya tinggal menumpang di rumah kakaknya, tapi juga seluruh biaya kuliah ditanggung oleh sang kakak,” jelas Hamid Basyaib.

Hamid Basyaib mengaku terganggu karena bisa mengukur penghasilan Artidjo. Waktu itu ia direktur LBH Jogja. Sepeda motor bebek yang dipakainya sehari-hari pun milik pribadi, bukan kendaraan inventaris lembaga baru yang tak punya banyak dana itu. Artidjo juga dosen dengan gaji yang tidak besar. Kesederhanaan hidup masih dimuliakan di UII, tampaknya sampai sekarang.

“Ia memang membuka kantor advokat. Saya enggan ke sana; bangunan semi-permanen, agak di luar kota, dan barang paling mencolok di sana adalah timbunan koran. Tidak banyak klien yang mau menyerahkan kasusnya kepada seorang pembela para preman yang dibidik pasukan petrus,” ungkap Hamid Basyaib.

Semua orang mafhum belaka ia tak disukai oleh aparat negara di semua instansi. Jadi memasrahkan kasus kepada Artidjo jauh lebih mungkin kalah ketimbang menang. Mereka yang meminta jasa advokatnya pun pasti kaum miskin -- justeru karena miskin maka mereka datang ke kantor Artidjo.

“Cukup lama saya mencoba memahami situasi yang disajikan Maulana, seorang dosen dan direktur LSM berpenghasilan kecil, seorang advokat yang sepi klien, yang menanggung biaya kuliah adiknya, dan si adik tak kunjung lulus semata-mata karena ia belum juga meluluskan ujian mata kuliah yang diajarnya,” aku Hamid Basyaib.

Artinya, lanjut Hamid Basyaib, ia harus terus mengongkosi kuliah si adik. Beban itu dengan mudah bisa disingkirkannya karena keputusan untuk itu mutlak ada di tangannya. Dan ia tak melakukannya. Sebab ia berpegang teguh pada integritas akademis. Tidak setiap minggu saya disuguhi kisah seperti ini.

Konsisten 

Bertahun-tahun setelah Artidjo menjabat hakim agung, lanjut Hamid Basyaib, kondisi rumahnya di Jogja nyaris tak berubah itu. “Saya protes dan meledek kesederhanaan yang agak ekstrem itu. Artidjo hanya terkekeh-kekeh saja,” ungkapnya.

Demikian juga kondisi di dalam rumah, meja dan kursi tamunya masih yang itu-itu juga; identik dengan dua puluh tahun silam. Malah kini kursi goyang rotan favoritnya mulai bolong di beberapa bagian dudukannya.“Jadi, Artidjo memang tak peduli pada kursi. Ketidakpeduliannya pada kursi harfiah tecermin pada ketakacuhannya pada kursi simbolis alias jabatan,” terangnya. 

Hamid Basyaib menyebutkan, seorang Artidjo tipe larger-than-life. Tanpa pernah mengatakannya, ia konstan menunjukkan sikap bahwa nilai dirinya tak tergantung jabatan. Integritas pribadi dan kekokohan spirit akademisnya melampaui jabatan formal apapun. 

Memasuki usia 70, kini Artidjo pensiun. Ia tentu bisa lebih tekun merawat bonsai-bonsainya. Mungkin ia juga masih mengamalkan hobi lamanya: memelihara ayam pelung atau ayam kate, yang suka dibagikan kepada sahabat-sahabatnya, kadang dibawanya sendiri ke Jakarta.

Mereka yang pernah divonis berat olehnya di Mahkamah Agung boleh bersiap mengajukan Peninjauan Kembali, jika merasa punya bukti baru. “Mereka yang mendambakan kebersihan dunia hukum kita yang bobrok mungkin meratapi kepensiunan Artidjo the Untouchable. Kapolri Tito menyukuri fakta bahwa Artidjo husnul khatimah, mengakhiri karir cemerlang dengan bersih,” kata Hamid Basyaib.

Menanggapi hal ini, Artidjo justru mengatakan, penggantinya pasti lebih baik dibanding dirinya. “Kita harus terus optimistis terhadap bangsa besar ini," ujarnya.

Pada penghujung pernyataannya, Hamid Basyaib, menyampaikan terima kasih untuk pengabdian dan teladan Artidjo yang mengesankan. “Sebagian kesan itu direkam dalam buku terbitan Mahkamah Agung sebagai apresiasi terhadap tahun-tahun kerja kerasnya di lembaga yang sangat membutuhkan simbol kejujuran itu,” ungkapnya. (her)


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda