sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Agraria

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Peristiwa

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

INFO BOLA

» » Budidaya Udang Vaname Berhasil, DKP Jatim Ungkap Kunci Keberhasilan

Udang Vanami.

Surabaya, Laras Post - Budidaya udang Vaname merupakan budidaya utama yang saat ini dikembangkan oleh sebagian Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) dibawah naungan Unit PelaksanaTeknis (UPT) Pengembangan Budidaya Air Payau (PBAP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur. Salah satunya adalah, IBAP Prigi, kabupaten Trenggalek. IBAP ini berada dibawah naungan UPT PBAP Bangil, kabupaten Pasuruan.

Budidaya udang Vaname yang dilakukan oleh IBAP Prigi Trenggalek berbeda dengan model penanganan pada pusat budidaya-budidaya kebanyakan. Karena pada budidaya ini, manajemen pengelolahan air payau lebih ditekankan saat persiapan maupun pada saat proses sedang berjalan.

Sistem yang digunakan sama dengan teknologi Bioflok dan sangat minim proses penggantian air bahkan air yang masuk hanya sebatas untuk mengganti air yang terbuang saat proses penyimpanan. Pengelolan air dengan aplikasi Probiotik berbasis Herbal inipun, dapat diperbanyak sendiri agar efisien dan hemat dalam aplikasinya.

Kedua, kunci keberhasilan terletak pada managemen pengelolaan pakan. Di IBAP Prigi, pengelolahan pakan menggunakan pakan fermentasi. Sublandri, selaku penngelolah IBAP mengungkapkan, tujuan dengan cara ini adalah untuk meningkatkan sistem pencernaan (daya cerna) dan penyerapan nutrisi pakan sekaligus untuk efisiensi penggunaan pakan.

"Meningkatkan ketahanan tubuh, juga dapat menekan pertumbuhan bakteri pathogen serta mencegah rusaknya kualitas air akibat aktivitas dari bakteri pengurai yang bersifat patogen dan dapat mengakibatkan peningkatan racun Ammonia (NH3) dan turunnya kadar oksigen terlarut (DO) dalam media budidaya," lanjutnya.

Sistem budidaya menggunakan teknologi bioflok, dijelaskannya, tidak hanya menawarkan penghematan pakan karena mampu menekan rasio konversi pakan (FCR), tetapi juga mampu menjawab permasalahan lingkungan.

Selama ini, aktivitas budidaya udang intensif dan super intensif menghasilkan limbah perikanan yang tidak sedikit. Bahan polutan ini berasal dari sisa pakan yang tak termakan ikan serta bahan-bahan organik hasil metabolisme ikan dan udang dalam bentuk feses, urin, dan bentuk lainnya.

"Terakumulasinya senyawa organik dalam perairan, berdampak merugikan, baik bagi lingkungan maupun kegiatan budidaya ikan itu sendiri," katanya.

Ia menambahkan, nitrogen yang melimpah di dalam air, dalam bentuk senyawa amoniak, merupakan racun bagi ikan dan udang, di samping itu, unsur fosfor dari sisa pakan yang tak termakan akan terakumulasi dan menimbulkan masalah lingkungan, antara lain eutrofikasi dan blooming populasi alga hijau biru (blue green algae) yang merugikan ikan.

Dengan adanya metode budidaya Bioflok mampu meramu bahan-bahan yang sejatinya polutan menjadi pakan ikan yang bermanfaat. Hal ini tak lain karena adanya peran berbagai jenis mikroorganisme yang mampu menyintesis kelimpahan nitrogen menjadi senyawa protein yang dibutuhkan ikan.

"Data hasil panen budidaya udang vannamei pada tanggal 12 April 2018 dapat dianalisa bahwa pertumbuhan udang vannamei dengan sistem ini sangat pesat sekali dengan padat tebar 200 ekor/m2 dalam umur 68 hari sudah dapat dipanen dengan size (ukuran) 40-50 ekor/kg dengan total panen udang sebanyak 7,2 ton serta FCR 1,2, sungguh merupakan hasil panen yang sangat menggiurkan untuk prospek budidaya udang vannamei, kedepannya kami akan terus menggiatkan dengan memenegemen dalam bentuk inovasi terbaru lagi," pungkasnya.

Pemprov Jatim Gelontorkan Anggaran Bagi Petambak Udang

Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan mengalokasikan anggaran program Agromaritim Hulu Hilir sebesar Rp 8 Miliar ke Kabupaten Pasuruan. Dana itu, bakal disalurkan untuk pinjaman ke petambak, pengguna teknologi Busmetik (Budidaya Udang Skala mini empang plastik di tambak ikan).

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan, Slamet Nurhandoyo mengungkapkan, selama ini petambak kesulitan memperoleh pinjaman modal dari perbankan. Pasalnya, petambak dikategorikan dalam pekerjaan beresiko tinggi.

Sehingga dari program Agromaritim ini, petambak melalui fasilitasi Bank Jatim dapat mengajukan bantuan modal untuk tambak Busmetik.

Anggaran Rp 8 Miliar itu, dipergunakan untuk peminjaman, dengan ‘catu’ antara Rp 250 juta–Rp 400 juta dengan bunga ringan, sebesar 6%.

Saat ini, kurang lebih 15 Hektar tambak sudah dimanfaatkan untuk teknologi Busmetik di Kabupaten Pasuruan. Kata Slamet, pihaknya menargetkan, peningkatan jumlah petambak udang, yang menggunakan teknologi terpal itu, untuk produksinya.

“Kalau kita hitung sampai sekarang, baru Rp 4,8 Miliar yang telah memanfaatkan pinjaman ini. Saya berharap lebih banyak lagi, karena keuntungan dari penggunaan teknologi Busmetik ini besar sekali kalau berhasil,” kata Slamet beberapa waktu lalu.

Dari Rp 4,8 Milyar, jumlah yang memanfaatkan pinjaman sebanyak 13 petambak, dengan rata-rata untuk kebutuhan penguatan modal. Dijelaskan Slamet, pencairan dana diperkirakan pada awal Mei 2018 ini. Tentu saja setelah pihak bank melakukan verifikasi.

“Harapan makin banyak petambak yang menggunakan teknologi Busmetik ini, karena dari hasil panennya bisa puluhan kali lipat lebih banyak dari yang tambak tradisional,” pungkasnya.(Muji)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar:

Posting Komentar