sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Prediksi Ketersediaan Air, Dinas PU SDA Kab Malang Andalkan Alat Ukur Hujan

Kepala Seksi Pengembangan Sumber Daya Air PU Kabupaten Malang Aptu Andy.

Malang, Larast Post - Guna memprediksi debit air hingga pada pembangunan atau rehabilitasi saluran irigasi maupun bendungan air, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Malang menghasilkan suatu keputusan dalam menerbitkan kebijakan. 
       
Sebagaimana disampaikan Kepala Seksi (Kasie) Pengembangan Sumber Daya Air PU SDA Kabupaten Malang Aptu Andy belum lama ini bahwa pihaknya telah menghasilkan suatu keputusan dalam menerbitkan kebijakan untuk mengetahui neraca air di seluruh wilayah Kabupaten Malang melalui alat ukur hujan.
     
"Kami bisa menghitung berapa besaran air yang masuk dan keluar untuk kebutuhan-kebutuhan masyarakat. melalui alat ukur hujan ini mas, dan setiap hari dipantau serta dicatat volume airnya," kata Aptu.
     
Dikatakannya, hal ini banyak pihak yang tidak mengetahui bahwa rumusan kebijakan Dinas PU SDA mengandalkan penakar hujan. "Penakar hujan ini ada 40 unit yang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Malang yang diramu. Jadi dari alat penakar hujan inilah Dinas PU SDA dapat menerbitkan berbagai perencanaan," lanjut dia.

“Dengan adanya alat tersebut, Dinas PU SDA Kabupaten Malang juga bisa memprediksi ketersedian air di suatu wilayah,” ujarnya. 

Masih lanjut Aptu, dari 40 unit alat penakar hujan tersebut, 38 unit manual dan 2 yang otomatis. Jadi adanya alat ini, membuat dinas di bawah kepemimpinan Moch Anwar cukup tergantung dengan pelaporan para juru hujan yang ditugaskan.
      
“Akan tetapi hal ini akan berakibat fatal, apabila data tidak kontinyu dan tidak valid, bisa-bisa saluran air irigasi jebol karena kelebihan debit atau bahkan kekurangan dikarenakan data tidak valid," jelas Aptu. 
      
Menurutnya, alat tersebut selain berfungsi sebagai penghitung kebutuhan air dan penakar hujan, juga bisa dijadikan alat untuk memprediksi atau mendeteksi musim serta sebagai pengendali banjir dan polusi. 

Untuk itu, keberadaan para petugas penakar hujan dilapangan menjadi sangat vital dalam merumuskan kebijakan dalam pengelolaan air di Kabupaten Malang.  
       
Mengenai pola kerja penakar hujan tersebut, untuk yang menggunakan alat ukur manual dilakukan dengan cara mengukur volume setiap interval air hujan yang tertampung pada penampungan setiap waktu tertentu atau setiap satu kejadian hujan. Sedangkan untuk penakar hujan otomatis, mekanisme pencatatan hujannya bersifat otomatis (perekam).
       
“Untuk saat ini, Dinas PU SDA baru memiliki 2 unit alat ukur hujan otomatis yang mana dapat mengukur curah hujan tinggi maupun rendah, Karena anggaran masih terbatas,” tutup Aptu. (ed)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda