sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Agraria

LARAS JABAR

Selebrity

Pendidikan

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Selama 4 Tahun Nilai Inflasi di Bawah 4 Persen

Presiden Jokowi saat membuka acara Rakornas Pengendalian Investasi Tahun 2018
Jakarta, Larast Post – Selama 4 Tahun nilai inflasi berada di bawah empat persen, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap kedepan inflasi semakin menurun hingga berkisar antara satu atau dua persen.

“Tahun 2015 di angka 3,35%, 2016 3,0%, 2017 3,1%. Lompatan seperti ini harus terus kita lanjutkan karena saya lihat sekarang koordinasi antara pusat dan daerah semakin baik, ada Satgas pangan dan juga yang ada di pusat dan daerah juga bekerja dengan baik,” ujar Presiden saat Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2018, pada Kamis (26/7/2018) di Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Presiden menyampaikan apresiasi kepada seluruh kepala daerah dan anggota tim pengendali inflasi, baik di pusat maupun daerah, yang telah berkoordinasi dengan baik dalam mengendalikan inflasi, sehingga stabil dan diharapkan semakin turun.

Menurut Presiden, problem sekarang adalah ketidakpastian ekonomi global sulit diprediksi dan dikalkulasi karena kebijakan-kebijakan memang pada posisi transisi yang menuju pada norma yang baru. 

Untuk itu, persiapan antisipasi itu, betul-betul harus terus dilakukan dan merespons perubahan-perubahan yang ada. “Ada dua problem besar yang terus selalu saya sampaikan, yang ini menjadi kewajiban kita bersama, yang masih harus kita carikan jalan keluarnya bagi negara kita, problem defisit transaksi berjalan, problem defisit neraca perdagangan,” ujarnya. 

Jika fundamental ini bisa diperbaiki, lanjut Presiden, Indonesia akan menuju pada negara yang tidak akan terpengaruh oleh gejolak-gejolak ekonomi dunia.

Mengenai neraca perdagangan, Presiden menyampaikan, terkait urusan impor dan ekspor posisi saat ini masih defisit. Ia menambahkan bahwa penyebabnya karena impor lebih banyak sedangkan ekspor lebih sedikit.

Problemnya, lanjut Presiden, adalah di investasi, di ekspansi-ekspansi usaha. “Oleh sebab itu, saya titip pada Gubernur, Bupati, Wali Kota, urusan yang berhubungan dengan investasi yang orientasinya ekspor, atau investasi yang itu adalah substitusi barang yang impor, sudahlah jangan ada pembicaraan lagi,” ungkapnya seraya meminta untuk para investor untuk bangun perusahaan tersebut.

Kepala Negara menambahkan bahwa investasi dan orientasi ekspor harus dibuka lebar-lebar. Saat ini, lanjut Presiden, di pusat juga sudah ada online single submission (OSS). Program OSS ini, bisa dilaksanakan hingga ke provinsi, kabupaten, dan kota, serta dapat di-trace pengurusan izin berhenti di mana. Kalau sudah surplus neraca perdangan, sambung Presiden, mau ada gejolak apapun tidak akan ada masalah.

“Pertama, saya titip itu, investasi orientasinya ekspor. Yang kedua, investasi yang berkaitan dengan subtitusi barang-barang impor, buka lebar-lebar,” tegasnya.

Hadir mendampingi Presiden, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Wamen ESDM Archandra Tahar, dan Gubernur BI Perry Warjiyo. (her, sg)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda