sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Pendidikan

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Gelar Seminar di Luwu Timur, Kemendag Dorong Pengembangan Ekspor Lada

Dirjen PEN Kemendag, Arlinda

Jakarta, Larast Post - Lada di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan daerah bila dipromosikan dengan baik. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar dan pertemuan Kementerian Perdagangan dengan para pelaku usaha lada di Kabupaten Luwu Timur, Kamis (2/8) lalu.

“Lada dari Luwu Timur berkualitas baik dan memiliki after-taste yang unik. Namun, masih kalah pamor dibanding lada dari daerah lain seperti lada muntok white dari Bangka Belitung. Lada Luwu Timur perlu memaksimalkan promosi dan branding, serta menjalankan mekanisme pemasaran yang tepat,” ungkap Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Arlinda pada siaran pers humas Kemndag, Jumat (10/8).

Ditjen PEN Kemendag mengadakan seminar mengenai lada di Kabupaten Luwu Timur untuk membangkitkan semangat petani lada di daerah tersebut. Seminar juga bertujuan mengajak para petani lada di Luwu Timur mengembangkan produk secara ekstensif. Sehingga, lada Luwu Timur dapat bersaing di tengah lesunya pasar dan saat sedang rendahnya harga lada sebagai bahan baku.

Seminar diikuti para pelaku usaha lada, petani lada, asosiasi lada, serta Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Selain seminar, dilaksanakan juga kunjungan ke lahan perkebunan lada dan gudang lada milik pedagang pengumpul di Kecamatan Towuti, Luwu Timur.

Pada tahun 2017, luas lahan pertanian lada di Luwu Timur mencapai 5.871 hektare dengan kapasitas produksi sebesar 4.323 ton. Hasil ini sangat cukup untuk memenuhi permintaan ekspor dari pembeli luar negeri. Hal yang perlu menjadi fokus agar lada dari Luwuk Timur dapat menjadi salah satu penggerak peningkatan ekspor Indonesia sebesar 11% di tahun 2018 adalah inovasi dan peningkatan nilai tambah.

Saat ini produk lada Indonesia banyak diekspor ke Vietnam, Amerika Serikat, Singapura, dan India. Badan Pusat Statistik mencatat, nilai ekspor lada Indonesia ke dunia tahun 2016 sebesar USD 430 juta  dengan  kapasitas  53.099  ton.  Sementara  itu,  di  tahun  2017  harga  lada  yang  anjlok menurunkan  nilai  ekspor  menjadi hanya  USD  236  juta dengan  kapasitas  42.687  ton.  Capaian tersebut masih jauh dari potensi ekspor komoditas ini yang dapat menyentuh angka USD 1 miliar. Sehingga, masih banyak ruang untuk terus mendorong ekspor lada Indonesia termasuk dari Luwu Timur.

Dalam seminar, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan memaparkan promosi dalam taraf yang lebih tinggi adalah mendorong lada Luwu Timur mendapatkan indikasi geografis   dan   sertifikat   organik,   sehingga   memperoleh   harga   yang   lebih   baik   di   pasar internasional.

“Selanjutnya diharapkan lada Luwu Timur menjadi produk indikasi geografis agar mendapatkan pengakuan atau brand lada Luwu Timur. Hal ini dapat didorong melalui program pembinaan pelaku usaha ekspor,” kata Marolop.

Marolop juga mengajak pihak swasta dan perusahaan-perusahaan untuk mendukung pengembangan lada lewat program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

“Salah satunya PT Vale Indonesia, yang menyisihkan sumber dayanya sejak beberapa tahun lalu dan menyatakan siap melanjutkan dukungan kepada petani lada melalui program yang disupervisi Kemendag,” pungkas Marolop.(sg, wan)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda