sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Pendidikan

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Kesejahteraan Nelayan Jawa Timur Meningkat, Ini Faktor Penyebabnya

Pelabuhan Perikanan Tamperan, Pacitan, Jawa Timur.
Surabaya, Larast Post - Kesejahteraan para nelayan di Jawa Timur terus meningkat, ini sehubungan dengan jumlah tangkapan di sejumlah pelabuhan perikanan di provinsi ini yang juga mengalami kenaikan.

Dari laporan yang disampaikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau yang dikenal dengan Food and Agriculture Organization (FAO) berjudul "The State of World Fisheries and Aquaculture: Meeting the Sustainable Development Goals" tahun 2018, disebutkan bahwa produksi perikanan dunia mengalami lonjakan volume, dari 167,7 juta ton (2015) menjadi 170,9 juta ton (2016). Dari jumlah ini, 40,34 juta nelayan menyumbang 90,9 juta ton dan selebihnya dikontribusikan oleh 19,3 juta pembudidaya ikan di dunia.

Tak hanya itu, FAO juga menyebut bahwa Indonesia merupakan produsen perikanan tangkap kedua terbesar di dunia setelah China (12,24 juta ton) dengan volume produksi mencapai 6,10 juta ton. Disusul Amerika Serikat (4,89 juta ton), Rusia (4,46 juta ton), dan Peru (3,7 juta ton). Yang tak dapat dipungkiri bahwa Jawa Timur adalah provinsi yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan sektor perikanan tangkap di Indonesia. Yakni mencapai 407.832,90 ton/tahun serta kontribusi sekitar 25% dari total produksi perikanan di Indonesia.

Hal ini seperti yang disampaikan Dr. H. Akhmad Sukardi kala menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur waktu itu.

"Jatim adalah provinsi yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan sektor perikanan tangkap di Indonesia. Yakni mencapai 407.832,90 ton/tahun serta kontribusi sekitar 25% dari total produksi perikanan di Indonesia. Produksi diatas belum termasuk produksi ikan budidaya dan perairan umum," katanya seperti dikutip dalam laman resmi Kemendagri RI, Kamis, (22/2) lalu.

Sementara soal Pendapatan Jatim, sektor ini mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi PDRB Jatim. yakni sebesar Rp. 50,99 triliun atau 2,53% dari total PDRB Jatim yang sebesar Rp. 2.019,2 trilyun pada tahun 2017. Sedangkan capaian ekspor hasil perikanan Tahun 2017 sebesar 198.866,761 ton dengan nilai sebesar 1,2 milyar US$ atau sekitar Rp. 16 triliun.

Karena itu, Pemprov Jatim melalui Dinas Kelautan dan Perikana (DKP) Jawa Timur terus mengembangkan sektor ini mulai hulu hingga hilir agar hasilnya lebih optimal, dan memberikan dampak positif bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan jalan menerapkan konsep asli Jatim, pengembangan hulu hingga hilir perikanan, dengan memberikan nilai tambah komoditi perikanan masyarakat melalui industrialisasi di petani. Kemudian, peningkatan mulai Sumber Daya Manusia (SDM), akses permodalan, teknik pengolahan, hingga strategi penjualan produk perikanan.

Di Kabupaten Pacitan misalnya, Hasil tangkapan ikan Tuna pada bulan April di Pelabuhan Tamperan Kabupaten Pacitan cukup melimpah. Sejak fenomena Siklon Tropis pada bulan Februari-Maret berakhir, dan cuaca di perairan laut sekitar Pacitan yang sudah membaik menyebabkan hasil tangkapan ikan Tuna meningkat.

Kepala UPT P2SKP Tamperan, Kabupaten Pacitan, Dr.Ir. Ninik Setyorini, MT mengatakan bahwa cuaca di perairan laut selatan Kabupaten Pacitan sudah mulai membaik, sehingga nelayan setempat atau nelayan andon banyak yang berlayar mencari ikan.

Fenomena siklon Tropis mempunyai dampak gelombang tinggi, hujan deras dan angin kencang, sehingga dapat berpotensi untuk menenggalamkan kapal. Siklon tropis dapat memutar air dan menimbulkan angin kencang dan gelombang laut yang tinggi.

Kepala UPT P2SKP Tamperan, Dr. Ir. Ninik Setyorini, MT menambahkan bahwa adanya peningkatan hasil tangkapan ikan tuna antara lain juga disebabkan telah kembali beroperasinya kapal Purse Seine sebanyak 44 unit dan kapal sekoci sebanyak 46 unit di Pelabuhan Perikanan Tamperan yang sebelumnya tidak berani untuk melaut atau tidak bisa beroperasi nangkap ikan akibat cuaca buruk dan angin kencang.

Adapun jenis Ikan Tuna yang menjadi hasil tangkapan nelayan di antaranya Yellowfin Tuna, Bigeye Tuna, Baby Tuna / Cakalang, dan Tongkol.
Bukan hanya soal jumlah tangkapan ikan oleh nelayan Jawa Timur yang berkontribusi secara langsung bagi kesejahteraan mereka. Harga ikan hasil tangkapan pada dua bulan terakhir juga terus mengalami kenaikan. Tentu saja hal tersebut memberi dampak positif bagi tingkat kesejahteraan para nelayan.

Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur terkait tingkat kesejahteraan nelayan yang biasa dikenal dengan Nilai Tukar Nelayan (NTN) Jawa Timur bulan Juli 2018 naik 0,47 persen dari 127,18 di bulan Juni 2018 menjadi 127,78 di bulan Juli 2018. Kenaikan ini disebabkan karena indeks harga yang diterima nelayan naik sebesar 1,54 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar nelayan hanya naik sebesar 1,06 persen.

"Perkembangan NTN bulan Juli 2018 terhadap Desember 2017 tahun kalender Juli naik sebesar 2,07 persen. Adapun perkembangan NTN bulan Juli 2018 terhadap bulan Juli 2017 year-on-year mengalami kenaikan sebesar 3,69 persen." ucap Teguh Pramono SH, selaku Kepala BPS Jawa Timur, Jumat (3/8).

Dari enam provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTN pada bulan Juli 2018, empat provinsi mengalami kenaikan NTN, dan dua provinsi mengalami penurunan NTN. Kenaikan NTN terjadi di Provinsi DKI Jakarta sebesar 1,28 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,99 persen, Provinsi D.I. Yogyakarta sebesar 0,59 persen, dan Provinsi Jawa Timur naik sebesar 0,47 persen. Sedangkan penurunan NTN terjadi di Provinsi Jawa Barat, yaitu sebesar 0,32 persen, dan Provinsi Banten turun sebesar 1,14 persen.(Muji)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda