sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Agraria

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Peristiwa

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

INFO BOLA

» » Korban Perkosaan Dihukum, Pasukan Jarik: Segera Bebaskan

Pasukan Jarik yang menyuarakan agar korban pemerkosaan dibebaskan.
Jakarta, Larast Post - Keputusan Pengadilan Negeri Muara Bulian Jambi, yang memidana korban perkosaan karena melakukan aborsi, diprotes lebih dari 15 ribu orang melalui petisi online change.org/JanganPenjarakanKorban. 

Korban yang diperkosa saudara kandungnya sendiri itu tercatat masih di bawah umur.

Dalam petisinya, Konsorsium Perempuan Jambi mengatakan, “Putusan ini menunjukkan bahwa hukum di negeri ini belum berpihak bagi korban perkosaan.” 
Konsorsium Perempuan Jambi terutama meminta Pemerintah Provinsi Jambi untuk memberikan pemulihan Hak Anak dan tidak menempatkan korban di Lapas Sungai Buluh, melainkan menempatkan korban di Panti Rehabilitasi Sosial yang sesuai untuk anak.

Pasukan Jarik, kelompok yang menggagas petisi change.org/15yearsnotenough untuk merevisi hukuman predator seksual anak, juga menyatakan dukungannya terhadap petisi yang digagas Konsorsium Perempuan Jambi.

“Penjatuhan pidana pada anak korban perkosaan yang melakukan aborsi merupakan pelanggaran serius terhadap hak anak, hak korban kekerasan seksual sekaligus korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Apalagi vonis itu keluar bertepatan dengan Hari Anak Indonesia pada tanggal 23 Juli,” ucap Cita Tahir dari Pasukan Jarik dalam siaran persnya (4/8).

Menurut Cita, putusan ini tidak mencerminkan rasa keadilan dan terjadi banyak pelanggaran serius dalam proses persidangan. Pertama karena korban tidak mendapatkan pendampingan hukum yang efektif dan kredibel. Penasihat hukum yang mendampingi korban adalah penasihat hukum yang juga mendampingi pelaku perkosaan. 

"Di samping kepentingan keadilan (interest of justice) antara pelaku dan korban yang berbeda, situasi ini juga merugikan korban karena menempatkan pelaku dan korban dalam satu pendampingan," ucapnya lagi.

“Majelis hakim tidak memberikan hak untuk membela diri yang memadai bagi korban. Padahal berdasarkan Konvenan Hak Sipil dan Politik serta KUHAP setiap terdakwa berhak atas proses pemeriksaan yang adil (unfair trial),” kata Cita.

Lanjut Cita, selama persidangan, pengadilan malah menahan korban. Padahal berdasarkan Konvensi Hak Anak penahanan terhadap anak, penahanan harusnya jadi upaya terakhir (last resort). Apalagi dalam hal ini anak merupakan korban perkosaan yang membutuhkan pemulihan dari trauma fisik dan psikologis.

Menurut Pasal 75 ayat (2) UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, disebut aborsi dapat dilakukan berdasarkan alasan kehamilan terjadi akibat perkosaan yang dapat mengakibatkan trauma psikologis. 

Pasal 31 PP No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi juga mengatur tentang tindakan aborsi terhadap kehamilan akibat perkosaan. Menurut PERMENKES no 3 tahun 2016, seharusnya anak perempuan tersebut dilindungi dalam kasus aborsi yang disebabkan oleh perkosaan, apalagi perkosaan ini adalah incest dan di usia anak.

Selain itu kami juga menilai ada pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang mewajibkan hakim untuk berperilaku adil dan tidak beritikad semata-mata untuk menghukum. Penjatuhan pidana pada anak korban perkosaan yang melakukan aborsi sama sekali tidak mencerminkan rasa keadilan. 

"Hakim juga diwajibkan untuk meningkatkan pengetahuan agar dapat melaksanakan tugas-tugas peradilan secara baik. Sayangnya putusan perkara a quo tidak mencerminkan bahwa hakim menggunakan peraturan perundang-undangan yang memperbolehkan aborsi dilakukan dengan alasan perkosaan,” jelas Cita.

Pasukan Jarik mendesak Pemerintah Provinsi Jambi untuk segera membebaskan korban serta merehabilitasi dan memulihkan psikologis korban.

“Pemerintah juga harus memberi perlindungan lebih maksimal kepada para korban agar jangan sampai ada kriminalisasi lagi terhadap perempuan dan anak-anak korban kekerasan seksual,” pungkas Cita.(sg, suheri)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda