sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Pendidikan

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Mendag: Motor Penggerak Ekonomi Indonesia Tingkatkan ekspor dan investasi

Mendag Enggartiasto Lukita saat memberikan kuliah umum di FE dan Bisnis Univ Airlangga Surabaya. (foto: hmskemnedag.

Surabaya, Larast Post - Motor penggerak utama ekonomi Indonesia adalah ekspor dan investasi. Untuk itu, banyak kebijakan yang dikeluarkan untuk menarik investasi, terutama yang berorientasi ekspor.

Namun ada pengaruh eksternal yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah perang dagang Amerika Serikat (AS)-China. Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ketika Kuliah Umum Dies Natalis ke-57 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/8).

“Dalam ekonomi global yang tengah dipengaruhi perang dagang itu, Indonesia tidak perlu ikut melakukan  perang  dagang  dengan  negara  lain.  Indonesia  justru  harus  bisa memanfaatkan peluang yang muncul dari kondisi ini bagi kepentingan Indonesia,” ucap Mendag.

Mendag menyebutkan, dampak langsung perang dagang AS-China terhadap Indonesia dalam jangka pendek diperkirakan relatif kecil. Hal ini dikarenakan pengaruh keterkaitan ke depan antara Indonesia dengan China maupun AS untuk produk-produk yang dinaikkan tarifnya juga sangat kecil, yakni antara 0,01%  0,03%.

Dengan kenaikan tarif yang ditetapkan AS dan China, maka akan terjadi pengalihan dagang untuk produk-produk  tersebut.  Artinya,  AS  dan  China  akan  mencari  pasar  alternatif ke  negara  lain, termasuk Indonesia. Apabila penerapan tarif tersebut meluas ke produk-produk lainnya, maka dapat mengganggu hubungan Indonesia-AS dan Indonesia-China. Hal ini juga dapat menimbulkan potensi pengalihan pasar yang lebih besar yang dapat menganggu industri di dalam negeri.

“Perang dagang AS-China juga akan membuat perekonomian negara-negara tujuan ekspor kita yang lain terganggu. Namun, hal ini tergantung dari daya tahan masing -masing negara dalam mengendalikan pertumbuhan ekonomi,” kata Mendag.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia berupaya menjalin kemitraan perdagangan yang lebih kuat dengan negara-negara lain, termasuk AS dan China. AS misalnya, pada 24—27 Juli 2018, Mendag bersama pengusaha Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Washington, DC, AS, guna memperkuat perdagangan bilateral kedua negara. 

Indonesia ingin menjalin perdagangan yang lebih  positif  dengan  Pemerintah  dan  pelaku  bisnis  AS  sehingga kedua  negara  sama-sama mendapatkan manfaat yang lebih besar daripada melakukan perdagangan sepihak.

Mendag menegaskan, Indonesia dan AS dapat meningkatkan nilai perdagangan karena keduanya saling membutuhkan. "Misalnya, Indonesia membutuhkan kapas seperti halnya AS membutuhkan pakaian jadi. Selain itu, Indonesia memerlukan penambahan armada pesawat udara untuk memperkuat  keterkaitan  domestik,  sedangkan  AS  memerlukan  aluminium  untuk  membuat pesawat udara,” tambah Mendag.

Di tengah kecenderungan peningkatan proteksi perdagangan, Kemendag berupaya memperkuat negosiasi dan diplomasi perdagangan. Kemendag selalu berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya untuk menyiapkan posisi Indonesia dalam berdiplomasi dan bernegosiasi.

“Pesan, posisi, dan sikap Indonesia dalam berdiplomasi dan bernegosiasi dalam forum bilateral, regional, dan multilateral, harus holistik. Artinya, mencakup aspek -aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan. Hal itu akan melibatkan juga perwakilan perdagangan di luar negeri,” pungkas Mendag.(sg, wan)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda