sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Agraria

LARAS JABAR

Selebrity

Pendidikan

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Sasar Pasar AS Dua Merek Fesyen Indonesia Ikuti Pameran di Los Angeles

Suasana pameran Liberty Fashion and Lifestyle Fairs.
Los Angeles, Larast Post - Indonesian Trade Promotion Center Los Angeles (ITPC  LA) mengusung dua merek fesyen lokal Indonesia untuk menjajal pasar pakaian pria di Amerika Serikat (AS) melalui pameran "Liberty Fashion and Lifestyle Fairs" pada 13─15 Agustus 2018 di Las Vegas, AS. 

Kedua merek tersebut yaitu Old Blue Co dan Unionwell. Pameran tersebut juga menampilkan berbagai merek pakaian pria internasional kelas atas yang telah diseleksi seperti Karl Lagerfeld Paris, Levi’s Strauss & Co, John Varvatos, Tommy Bahama, dan Hugo Boss.

"Partisipasi Old Blue Co dan Unionwell merupakan salah satu upaya ITPC LA memperkenalkan merek pakaian Indonesia ke pasar AS dan menangkap peluang dari tren pakaian pria yang dinamis di AS. ITPC LA juga akan terus mencari cara-cara inovatif lainnya untuk mendukung penetrasi merek Indonesia ke pasar AS," kata Kepala ITPC LA, Antonius A. Budiman dalam siaran pers Humas kemendag, Selasa (21/8).

Pada  periode  Januari–Juni  2018,  impor  produk  luaran  (outerwear)  dan  celana  pria  AS  dari  dunia sebesar USD 4,2 miliar atau meningkat 2,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang tercatat sebesar USD 4,1 miliar. Periode Januari–Juni 2018, Indonesia merupakan negara asal impor ke-5 untuk produk pakaian pria AS yang tercatat senilai USD 138,7 juta atau meningkat 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang sejumlah USD 129,6 juta.

Selama  pameran,  Unionwell  menghadirkan  fesyen  gaya  pakaian  jalanan  pengguna  sepeda  motor seperti jaket kulit, jaket kain, kaos sablon, dan berbagai aksesori dengan menampilkan ciri khas Indonesia.  Menurut  beberapa  buyer,  merek  Unionwell  memiliki  potensi  yang  sangat  baik  untuk diterima pasar AS. Kualitas produk dan desainnya yang unik yang mencerminkan gaya subkultur sepeda motor vintage AS, menciptakan tren sendiri. Selain itu, pemilihan nama Unionwell juga memberi kesan yang sangat kuat dan bernilai jual tersendiri di pasar AS.

"Ekspektasi buyer yang tinggi kami jadikan sebagai pembelajaran untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan produk sehingga Unionwell bisa semakin siap melakukan penetrasi pasar ke AS," ungkap salah satu pemilik Unionwell, Pramadita Tasmaya.

Sedangkan Old Blue Co menampilkan celana jins berbahan raw denim dengan ciri khas yang berat dan tidak banyak diproses. Tema desain utama dari merek ini berasal dari budaya denim yang digunakan penambang jaman dulu. Selama pameran, Old Blue Co juga mendapatkan respons yang positif dan beberapa buyer skala grosir sudah melakukan trial order.

"Banyak buyer potensial atau pengamat produk denim yang tidak menyangka bahwa celana jins ini buatan Indonesia. Hal ini karena pada umumnya penjual produk celana jins berbahan raw denim yang berkualitas tinggi berasal dari AS, Jepang, dan Eropa. Namun, produk-produk Old Blue Co berhasil membuktikan bahwa produk Indonesia bisa sejajar dengan produk-produk berkelas dunia lainnya," ujar pendiri Old Blue Co, Ahmad Hadiwijaya.(sg) 

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda