sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

Olah Raga

LARAS JATENG

Seni Budaya dan Hiburan

Agraria

LARAS JABAR

Selebrity

Pendidikan

Pernak Pernik

Feature

» » IA-CEPA Kerjasama Tingkat Tinggi Indonesia - Australia

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional,
Iman Pambagyo.
Jakarta, Larast Post - Australia merupakan negara maju yang menjadi salah satu mitra dagang penting bagi Indonesia. Dengan penduduk lebih dari 23 juta jiwa, dengan pertumbuhan ekonomi ril rata-rata 2,75% per tahun selama 5 tahun terakhir.

Untuk itu Indonesia - Australia melakukan kesepakatan kerjasama _ IA-CEPA red_ melalui Kemendag Indonesia dan Aautralia. Kesepakatan itu telah ditandatangani Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia, Simon Birmingham yang disaksikan langsung Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison di Istana Bogor, pada Jumat (31/8) lalu.

Australia merupakan salah satu negara investor utama Indonesia dengan lebih dari 400 perusahaan Australia yang beroperasi di Indonesia yang meliputi berbagai sektor seperti pertambangan, pertanian, infrastruktur, keuangan, kesehatan, makanan, minuman dan transportasi.

IA-CEPA momentum membawa hubungan kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi. Bagi Indonesia IA-CEPA adalah CEPA kedua setelah IJEPA 10 tahun yang lalu. Dengan IA-CEPA Indonesia menuju bagian dari global value chain dan siap bersaing secara global.

Kemitraan

A-CEPA bukan Free Trade Agreement (FTA) biasa, yang merupakan sebuah kemitraan komprehensif yang tidak hanya berisi perjanjian perdagangan barang, jasa dan investasi. Namun lebih pada itu kerja-sama ekonomi yang lebih luas (Vocational Education Training (VET); Higher Education; Health Sector) Kemitraan baru Indonesia - Australia diarahkan membentuk “economic powerhouse” di kawasan, dengan mengawinkan kekuatan kedua negara.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional, Iman Pambagyo mengatakan, Kerjasama Indonesia-Australia Business Partnership Group (IA-BPG). Terdiri dari para pelaku usaha yang bertujuan memberikan rekomendasi untuk perundingan IA-CEPA.

Perundingan IA-CEPA antara lain, Red Meat and Cattle, Kerja sama ini bertujuan untuk membantu swasembada sapi di Indonesia melaui investasi di bidang eternakan sapi di Indonesia. Jasa Keuangan, Berupa joint research, capacity building, joint seminars dan workshop. Fashion and Jewellery Design, kerja sama ini diharapkan akan meningkatkan peluang untuk penetrasi pasar ke negara ketiga.

Drug and Food Standard, kerja sama di bidang Drug and Food Control System termasuk pertukaran informasi di bidang standard. Herbal/Spa/Aroma Therapy, kerja sama untuk well-being diluar sektor farmasi.

"Tidak seperti CEPA/FTA lainnya, IA-CEPA memiliki kerja sama "early outcomes" yang diimplementasikan tanpa menunggu selesainya perundingan. Early outcomes disusun berdasarkan masukan para pemangku kepentingan dan merupakan bagian integral dari IA-CEPA," terang Iman saat memberikan penjelasan kepada para awak media di Kemendag, Jumat (7/9).

Keuntungan Bagi Eksportir dan Importir

Konsep 'Economic Powerhouse' IA-CEPA 'Economic Powerhouse' adalah merupakan kolaborasi kekuatan ekonomi untuk mendorong produktifitas produk industri dan pertanian, dan meningkatkan ekspor ke pasar negara ketiga.

Kedua negara dapat berkontribusi lebih besar pada 'global value chains' untuk memasok kebutuhan global. Indonesia diproyeksikan menjadi manufacturing powerhouse (pusat pengolahan), dengan
kemudahan akses berbagai bahan baku dan penolong murah serta berkualitas dari Australia. Sebagai contoh impor ternak bahan baku bagi industri pengolahan daging.

Salah satu bentuk kerja sama yang sudah diinisiasi, Grain Partnership Industri Besi dan Baja. Australia menyediakan bahan baku gandum, sorghum dan barley, dan kerja sama pengembangan industri makanan olahan Indonesia. Menangkap peluang ekspor kebutuhan konstruksi seiring pesatnya pembangunan global.

Akses Pasar Barang Australia mengeliminasi semua pos tarifnya (6474 pos tarif) menjadi 0% pada saat implementasi.

Beberapa produk Indonesia yang berpotensi ditingkatkan ekspornya ke Australia, produk otomotif (mobil, sepeda motor, dan lainnya). Kemudahan ekspor mobil hybrid dan listrik berupa ketentuan asal barang berupa, change in tariff heading (CTH) or qualifying value content (QVC) 35% or built in Indonesia from a Complete Knock Down kit for Electric & Hybrid Car. Tekstil dan Produk Tekstil (Pakaian, T-Shirt, Celana, Jersey).

Preferensi tarif bea masuk 0% dari yang sebelumnya 5%, sehingga dapat berkompetisi kembali dengan Malaysia, Thailand dan Vietnam yang sebelumnya sudah mendapatkan pembebasan tarif.

Produk lainnya Peralatan elektronik, permesinan, karet dan turunannya (ban), kayu dan turunannya (furniture), kopi, coklat, dan kertas. Produk-produk ini sudah mendapatkan preferensi tarif bea masuk 0% dari Australia, namun dapat lebih ditingkatkan ekspornya melalui Konsep 'Economic Powerhouse'.

Herbisida dan Pestisida Preferensi tarif bea masuk 0% dari yang sebelumnya 5%, sehingga dapat berkompetisi kembali dengan Malaysia, dan China yang sebelumnya sudah mendapatkan pembebasan tarif.

Keuntungan bagi TKI

Work and Holiday Visa (Sub Class 462) Kuota sebanyak 4100 orang dengan kenaikan kuota 5% per tahun sampai dengan 5000 orang. Pertukaran Tenaga Kerja,Pertukaran tenaga kerja antar perusahaan Indonesia-Australia dalam rangka transfer of knowledge, Kemitraan Pendidikan Tinggi dan Vokasional Investasi dan Kerja sama dalam rangka meningkatkan daya saing medium dan high skilled worker Indonesia.

Kilas Balik IA-CEPA

Pada tahun 2005, Presiden RI dengan Perdana Menteri Australia sepakat untuk meningkatkan hubungan perdagangan melalui  pembentukan kemitraan ekonomi yang komprehensif  dan berkelanjutan, melalui Joint Declaration on Comprehensive Partnership.

Peluncuran IA-CEPA (Putaran 1) dilaksanakan pada 2 November 2010, oleh Presiden RI dan PM Australia di Jakarta. Namun Perundingan IA-CEPA sempat terhenti pada tahun 2013 disebabkan dinamika politik kedua negara pada saat itu. Pada tanggal 16 Maret 2016, IA-CEPA direaktivasi. Perundingan putaran terakhir IA CEPA ke-12 dilaksanakan di Jakarta, bulan Juli 2018.

Hadir pada kesempatan itu, Dirjen Perundingan Perdagangan nternasional, Iman Pambagyo,Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan (Kemenda) Ni Made Ayu Martini, dan Perwakilan Kamar Dagang Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani. (sugih)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda