sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Di Tengah Kesulitan, Indonesia Mampu Wujudkan Gelaran Annual Meeting IMF 2018

Presiden World Bank Group, Jim Yong Kim.

Bali, Larast Post - Presiden World Bank Group, Jim Yong Kim mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas komitmen terselenggaranya pertemuan penting ini. Bahwa Indonesia mengalami musibah bencana alam tsunami dan gempa bumi yang mengerikan di Sulawesi Tengah. 

Pernyataan itu diungkapkan Jim Yong Kim pada pada Konferensi Pers Pembukaan Annual Meetings Bank Dunia 2018. 

"Saya menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga, teman, dan orang-orang terkasih dari mereka yang terkena bencana. Kami bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, juga telah menawarkan dukungan langsung,  jika Pemerintah Indonesia memerlukan bantuan, kami bersedia," ucap P.

Disebukannya, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia telah berjalan cukup baik, memberikan kemajuan signifikan dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan.

PDB per kapita Indonesia telah meningkat dari 785 dolar pada tahun 2000 menjadi lebih dari 3.800 dolar pada tahun 2017. Dan tingkat kemiskinan di sini telah berkurang hampir setengahnya - dari 19,1 persen pada tahun 2000 menjadi 9,8 persen saat ini. "Ini adalah kemajuan yang mengesankan, dan kami yakin negara ini dapat melanjutkan lintasan ekonomi ini di tengah tragedi baru-baru ini," ucapnya.

Jim Yong Kim juga mengatakan, dengan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan ini, sekali lagi menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan negara yang kuat, tangguh, dan bertekad. "Dan pertemuan ini adalah demonstrasi yang jelas bahwa komunitas internasional berdiri bersama rakyat Indonesia di masa sulit ini," imbuhnya.

Pertemuan Tahunan ini berfokus pada isu-isu penting yang dihadapi ekonomi global. "Tetapi terlalu sering kita menemukan diri kita terfokus pada isu-isu jangka pendek. Apa dampak kenaikan suku bunga, penurunan harga komoditas, atau pergeseran dalam imbal hasil obligasi?," tegasnya.

Untuk itu, fokus minggu ini pada dua masalah jangka panjang yang penting bagi setiap negara, baik negara maju maupun berkembang.

Isu pertama perubahan iklim

Perubahan iklim merupakan ancaman eksistensial terhadap perkembangan global dan upaya untuk mengakhiri kemiskinan. Pemanasan planet sudah berdampak pada yang paling miskin dan paling rentan.

Laporan baru dari IPCC menunjukkan bahwa jendela kita terus memanas hingga 1,5 derajat C akan menutup dengan cepat. Itu akan mempengaruhi setiap makhluk hidup di planet ini, baik hari ini maupun masa depan.

"Waktu kita jauh lebih sedikit dari yang kita duga, dan jauh lebih sedikit daripada yang kita butuhkan," ucap Kim.

Isu kedua SDM 

Seluruh negara harus fokus pada SDM (Sumber Daya Manusia) untuk 
pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan yang dikumpulkan orang selama hidup mereka.

"Kita tahu bahwa politisi di negara-negara kaya dan miskin sama-sama menghadapi perjuangan yang berat untuk mendanai perawatan kesehatan yang lebih baik, memasukkan lebih banyak uang ke sekolah, dan membuat investasi lain pada orang-orang yang menghasilkan dividen yang dapat diukur hanya dari waktu ke waktu," kata Kim lagi.

Untuk itu Kim menjelaskan bahwa pada pertemuan bergengsi itu, membutuhkan masukan masukan dalam pembangunan SDM. "Itulah mengapa saat ini kami meluncurkan alat baru untuk membantu negara melakukan investasi tersebut di masyarakat, karena SDM merupakan modal pertama," kilahnya.

Kebijakan untuk membangun sumber daya manusia adalah beberapa investasi paling cerdas yang dapat dilakukan negara-negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang inklusif.

Saat ini, seperempat dari anak-anak muda dunia tidak mungkin mencapai potensi penuh mereka karena kekurangan gizi kronis dan penyakit yang mengakibatkan pengerdilan, yang secara permanen mempengaruhi perkembangan kognitif anak, kinerja sekolah, dan pendapatan masa depan.

Jika anak-anak suatu negara tumbuh tidak dapat memenuhi kebutuhan tempat kerja di masa depan, negara itu akan mendapati dirinya tidak mampu mempekerjakan orang-orangnya, tidak dapat meningkatkan outputnya, dan sama sekali tidak siap untuk bersaing secara ekonomi.

Indeks ini memberi para pembuat kebijakan bukti yang meyakinkan bahwa memberikan hasil yang lebih baik dalam kesehatan dan pembelajaran anak-anak dapat secara signifikan meningkatkan pendapatan orang-orang mereka - dan membentuk arah bagi negara mereka - jauh ke masa depan.

"Kita dapat menciptakan dunia di mana semua anak tiba di sekolah yang bergizi baik dan siap untuk belajar; di mana mereka memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menjadi dewasa yang sehat dan terampil; dan di mana mereka bisa produktif sepanjang karier mereka saat mereka meraih aspirasi mereka sendiri," pungkas Kim.(her, sg)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda