sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Peristiwa

Laras Jatim

Hukrim

LARAS JATENG

Agraria

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Kisah Dokter Louisa dan Team Saat Tinjau Palu

Dokter Louisa, team medis Baguna dan team relawan saat memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat
Palu NTT, Laras Post - Ketika Palu dan Donggala terkena bencana alam gempa bumi berkekuatan 7,7 SR dan disusul dengan Tsunami dan Likuifasi pada Jum'at sore (28/09) yang lalu meninggalkan kisah sedih karena dampaknya sangat dahsyat dan meluluh lantakkan semua yang ada 

Gempa berkekuatan 7.4 SR mengguncang dengan episentrum dekat Kota Donggala Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) petang. Gempa turut dirasakan hingga ke Kota Palu dan Mamuju. Sesaat setelah gempa besar merontokkan bangunan, gelombang tsunami itu datang, menyapu habis Kota Palu hingga ratusan meter.

Hingga Jumat (28/9) malam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut secara total ada 5 gempa susulan. Gempa susulan terdiri dari 31 gempa susulan pascagempa dengan magnitudo 7,7 yang terjadi pukul 17.02 WIB, dan 27 gempa susulan setelah gempa pertama yang terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.

Selain menghancurkan Kota Donggala, guncangan gempa yang besar juga membuat bencana tsunami menimpa Kota Palu. Ketinggian gelombang air di Pantai Palu berkisar antara 1,5 hingga 3 meter dan menerjang bangunan di pesisir pantai hingga salah satu rumah sakit di kota Palu.

Dimana guncangan gempa yang terjadi pun terasa di daerah-daerah sekitar Sulawesi Tengah, bahkan hingga ke Pulau Kalimantan.

Sementara itu, Dr. Louisa, menceritakan,  "ketika  melihat dan mendengar berita tersebut, kami para dokter dari Fakulatas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FKUKI) sebenarnya langsung tergerak hatinya pingin langsung terjun untuk memberikan bantuan  langsung berupa layanan gratis kepada masyarakat yang terkena bencana tersebut". Kata Dr. Louisa, mengisahkan.

Dokter louisa ketika memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat
Dikatakan Dr. Louisa, lebih lanjut, "Namun karena UKI juga sedang banyak  kegiatan yang harus dilaksanakan dalam rangka Lutrum Ke 13 (HUT UKI yang ke 65 th) jadi kami menyelesaikan dulu kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan tersebut ". Katanya. 

Lebih lanjut Dr. Louisa mengatakan, "Akhirnya dengan panggilan jiwa saya, kami sekeluarga (saya, suami saya Dr Heru, dan anak saya Anthony Jason), saat itu langsung terbang ke  Palu ikut  bergabung dengan team medis Baguna, dr Hardman dan tim relawan dari Jakarta, Jogyakarta, Menado dan relawan lainnya". Katanya menambahkan dalam mengisahkan kejadian itu.

"Setibanya di Patobo Palu kami, lanjut Dr Louisa,  "langsung menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak Nasara Pura (RSIA Nasara Pura) tidak terasa air mata saya menetes , menyaksikan hebatnya kerusakan yang terjadi dan mendengarkan  langsung cerita saudara kita yang terkena bencana alam  gempa dan likufaksi di Petobo". Kisahnya menambahkan.

Betapa tidak sedih dan pilu hati melihat dampak bencana tersebut di saat Pemilik Rumah Sakit Ibu dan Anak Nasanapura Bapak Edwin Sampelling menceritakan bahwa pada saat bencana alam tsumami dan gempa melanda di RSIA ini diperkirakan ada 12.000 orang di dalamnya dimana 8.000 org terkena dampaknya dan 4.000 lagi hilang ditelan bumi setelah lumpur-lumpur menunggang balikan semua yg ada,  begitu dahsyatnya bencana alam yang kami alami, cerita Bapak Edwin kepada dokter Louisa dan keluarga.

"Kami memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat Palu selama 3 hari dari tanggal 12-14 November 2018, setelah dari RSIA  Nasanapura, kami juga merambah ke desa lain yang perlu mendapat pelayan gratis dari kami selaku tim medis antara lain desa Lanfakso, Paralon, Ampena Kelurahan Sigi, Posko di Agatis  Kelurahan Nina Kecamatan Tayangan dan tempat lainnya yang membutuhkan bantuan". Imbuh Dr Louisa, itu.

Masih kisah perjalanan Dokter Louisa, mengatakan ingin menolong lebih banyak masyarakat disana namun punya waktu yang singkat karena banyak tugas lainnya menunggu di Jakarta. Maklumlah selain dokter juga  sebagai  Dosen dan Pimpinan FKUKI (Wakil Dekan 3 di UKI).

"Tapi walau tiga hari disana saya dan tim relawan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa diberikan kekuatan dan kesehatan serta panggilan hati sampai bisa melayani disana.

Hampir setiap hari  melayani kurang lebih 500 orang saudara kita di Palu yang terkena bencana  gempa bumi, tsunami dan likuifaksi". Kata Dokter Louisa, mengisahkan.

Kasus yg paling sering ditemukan pada pasien dewasa Myalgia mm(Nyeri otot/pegal), Dermatitis, Tinea  ( penyakit kulit Krn alergi dan karena jamur), pada anak2 diare dan ISPA.

Sementara diperkirakan penyakit  kulit disebabkan karena tidur di tenda yg kebersihannya kurang, pada anak2 diare juga bisa disebabkan karena infeksi jg  makanan yg kurang higienis saat pengolahannya.

Lingkungan tenda yang kotor ditandai dengan banyaknya lalat yg beterbangan bisa juga merupakan sumber infeksi. Oleh sebab itu masyarakat yg berobat jg diberikan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan

"Semoga saudara kita di Palu dan Donggala segera  bangkit dengan semangat sehingga cepat pulih dan yakinlah dengan pertolongan Tuhan masyarakat semua segera sehat dan sejahtera kembali". Pungkasnya. (her)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda