sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Agraria

Peristiwa

Hukrim

LARAS JATENG

Laras Jatim

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Indahnya Pemandangan di Bukit Satu Hati Pulau Biak

Selfie di atas Bukit Satu hati dengan bekgron sunset.
Biak, Larast Post - Ingin menikmati alam yang indah yang sarat dengan sejarah Perang Dunia ke II berwisata saja ke Pulau Biak. Ya Kabupaten Biak Numfor merupakan bagian dari wilayah Provinsi Papua.

Salah satunya yang wajib dikunjungi para wisatawan yaitu Bukit Satu Hati yang terletak sebelah timur Bandara Biak yang hanya dapat ditempuh dari Kota Biak sekitar 15 menit.

Komandan Lanud Manhua Biak, Marsma TNI Fajar Adriyanto
Bukit Satu Hati yang dibangun jajaran TNI Angkatan Udara dalam hal ini Lanud Manuhua Biak. "Bukit Satu hati ini sengaja kita bangun untuk menarik perhatian para pengunjung yang dibuka secara gratis bagi masyarakat umum," ucap Komandan Lanud Mnauhua Biak Marsma TNI Fajar Adriyanto saat sarasehan menerima rombongan Press Tour Media Dirgantara 2018 bersama jajaran Dispenau, Kamis (13/12) malam.

Bukit Satu Hati Pulau Biak.
Danlanud Manuhua menyebut Bukit Satu hati mulai dibangun pada akhir tahun 2017 agar masyarakat dan pengunjung Pulau Biak dapat menikmati keindahan Kota Biak. Terlebih pemandangan petang hari masyarakat dapat menikmati sunset (proses matahari terbenam).

Di Bukit Satu Hati itu terdapat sebuah Cafe yang bernama Pondok Kopi Honai, pengunjung dapat menikmati khas kopi Papua maupun kopi dari daerah lain.

Cafe Pondok Kopi Honai.

Tak kalah enaknya dengan cafe cafe yang ada di Ibukota Jakarta penyajian kopi di Pondok Kopi Honai diracik secara profesional memiliki citarasa yang tinggi. "Pokoknya dijamin mantap bila menikmati di Pondok kopi Hanoi," ucap salah seorang wartawan yang turut serta dalam rombongan Dispenau.

Bukit satu hati terletak di dataran tinggi Distrik Biak Timur sehingga bila memandang ke depan terdapat hamparan Kota Biak di latar belakangi lautan, menambah cantiknya bila melihat pemandangan dari atas Bukit Satu Hati.

Goa Jepang 
Tak jauh dari bukit satu hati terdapat wisata sejarah Goa Jepang peninggalan Perang Dunia Ke II Amerika Serikat Vs Jepang

Goa Jepang merupakan peninggalan Pasukan Jepang yang menjadi benteng saat mempertahankan dari serbuan pasukan Amerika Serikat.

"Di Goa Jepang ini menjadi saksi sejarah kekejaman Perang Dunia ke II, yang mana 250 orang pasukan Jepang mati terbunuh akibat serangan oPasukan AS," terang Danlanud Fajar di Lokasi saat mengiringi rombongan Press Tour Media Dirgantara 2018.

Anak tangga menuju dasar Goa Jepang.
Fajar menyebutkan, pada masa Perang Dunia ke II di wilayah Pasifik, Biak menjadi salah satu pulau rebutan pasukan sekutu dan Jepang karena strategis sekali.

Jepang yang berhasil merebut sebagian besar wilayah Pasifik termasuk Indonesia, diantaranya Pulau Biak yang direbut dari kekuasaan Belanda pada tahun1942. 

Namun saat dimulainya perang Pasifik pasukan sekutu yang dikomandoi Amerika Serikat berhasil merebut Pulau Biak secara dramatis dan tragis.

Sisa sisa mortir dan bom perang Pasifik di Pulau Biak. "Dari 3000 pasukan Jepang hanya tersisa 250 orang yang sembunyi di Goa Jepang itu yang akhir dibom dari atas," ucap salah satu warga setempat.

Ketika itu Kolonel Kuzume Naoyuki bersama sekira tiga ribu serdadu Dai Nippon tengah terdesak oleh serangan balik pasukan Sekutu yang semakin menghebat di Biak, Papua.

Dalam posisi yang semakin sulit tersebut rombongan Kuzume memutuskan untuk membangun benteng pertahanan terakhir pada sebuah goa yang cukup besar.

Tragis, pada Rabu 21 Juni 1944, Batalyon 1 infanteri 162 Sekutu, berhasil membobol pertahanan serdadu Jepang yang telah sekarat dan hanya tinggal 250 orang saja dengan membakar dan memanggang habis mereka semua yang ada di dalam goa. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Goa Jepang.

Sebenarnya pada awal kedudukannya di Biak pada 1942, pasukan Jepang berhasil mendaratkan tak kurang dari 10.400 orang serdadu. 

Pada periode berikutnya, hembusan angin peperangan memang semakin memihak tentara Sekutu yang dibuktikan dengan rentetan kesuksesan mereka memukul pasukan Jepang di beberapa front Pasifik. 

Namun seperti halnya di tempat lain, tentara Sekutu memang terbilang cukup kerepotan untuk mengalahkan pasukan Dai Nippon di Biak yang terkenal pantang menyerah dan tak takut mati. 

"Sampai pada akhirnya goa pertahanan terakhir Kolonel Kuzume Naoyuki berhasil disulap menjadi neraka oleh pasukan Sekutu, usai menghujaninya dengan peluru, granat, minyak, dan lebih dari 850 pon TNT," ungkap Danlanud Biak.

Jauh sebelum kedatangan pasukan Kuzume, masyarakat lokal dari kampung Ambroben telah menyebut goa benteng pertahanan Jepang itu dengan nama Abyab Binsari. 

"Dalam bahasa lokal Abyab berarti Goa, dan Binsari berarti Nenek. Menurut cerita turun temurun, dahulu kala goa itu memang menjadi tempat singgah seorang nenek," tandas salah seorang warga setempat yang menjadi pemandu wisata itu.(sugih)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda