sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Polkam

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Agraria

Peristiwa

Hukrim

LARAS JATENG

Laras Jatim

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Wisata Sejarah di Pulau Biak, Monumen Perang Dunia ke II

Danlanud Manuhua, Biak Marsma TNI Fajar Adriyanto pose bersama para awak media Jakarta di Monumen Perang Dunia ke II, Parai, Distrik Biak Kota.
Biak, Larast Post - Indonesia kaya akan kepulauan salah satunya Pulau Biak yang memiliki catatan sejarah Perang dunia kedua. Hal itu terbukti dengan adanya Monumen Perang Dunia ke II terletak di Kampung Parai Distrik Biak Kota. 

Laras Post yang turut serta bersama rombongan Press Tour Media Dirgantara 2018 Goes to Biak yang digelar Dinas Penerangan Angkatan Udara, mengunjungi sejumlah lokasi wisata diantaranya Monumen Perang Dunia ke II di Parai, Biak Kota.

Pada kegiatan Press Tour Media Dirgantara 2018 Goes to Biak itu Komandan Pangkalan Udara  (Danlanud) Manuhua, Biak Marsma TNI Fajar Adriyanto memfasilitasi kegiatan tersebut.

Lorong goa bekas pertahanan Jepang.
Bahkan Danlanud Manuhua Biak turut serta mengiringi perjalanan rombongan Press Tour Media Dirgantara diantaranya, kunjungan ke Satuan Radar 242 di Tanjung Warari, serta sejumlah obyek wisata Pulau Biak pada 13 -14 Desember 2018 .    

Letak Monumen Perang Dunia ke II berada di pinggir Pantai Ambroben, yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi di kota Biak. 

Akses ke lokasi ini cukup mudah dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh 15 menit dari pusat kota Biak ke arah timur. 

Dipilihnya Parai sebagai lokasi monumen tentu dengan berbagai alasan dan pertimbangan, diantarnya Pulau Biak terdapat Goa Jepang yang menjadi pertahanan Jepang pada masa Perang Dunia kedua tepatnya perang Pasifik Jepang Vs Sekutu.

Arsitektur Monumen Perang Dunia Ke-II di Parai ini dirancang oleh Hiroshi Ogawa. Monumen ini nampak unik karena banyak simbol yang dimunculkan pada bagian-bagian kawasan monumen dan bentuk bangunannya. 

Pada kawasan Monumen Perang Dunia Ke II secara garis besar terdiri dari beberapa bagian, seperti pada  bagian utama berupa tembok yang dibuat sedikit melengkung terlihat tulisan “MONUMEN  PERANG DUNIA  KE  II”  dalam tiga bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang.

Pada bagian depan terdapat delapan batu besar dengan bentuk dan ukuran bervariasi yang  letaknya di atas semacam Altar dengan menghadap potongan patok beton yang tersusun rapih  melambangkan para prajurit tentara Jepang. 


Sementara delapan batu besar tersebut melambangkan delapan Jenderal Jepang yang gugur di medan perang antara lain,Jenderal Kirohito, Jenderal Yakoyama, Konodera, Sumakikatrada, Yukiyama dan Shoukiyaka.

Pada bagian kanan terdapat bangunan berbentuk lekukan menyerupai cangkang keong yang melambangkan mulut goa dan sudut kedua ujungnya berbentuk Alfa dan Omega. 

Bangunan ini terkesan melindungi tiga set meja marmer lengkap dengan 16 balok marmer sebagai  tempat duduk, salah satu di antara ke tiga meja tersebut berbentuk telapak kaki kiri sebagai simbol yang  melambangkan pendaratan tentara Jepang pertama di Pulau Biak.



Pada bagian depannya berbaris secara simetris dan teratur dua belas balok marmer, serasa mengawal kita menuju pada bagian utama “Monumen Perang Dunia Ke II”.

Pada bagian kiri atas dari tugu utama terdapat tiga prasasti dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang yang bertuliskan “MONUMEN PERANG DUNIA KE II. MONUMEN UNTUK MENGINGATKAN UMAT MANUSIA TENTANG KEKEJAMAN PERANG DENGAN SEGALA AKIBATNYA AGAR TIDAK TERULANG LAGI”. 

Sedangkan pada bagian samping dari tugu utama terdapat sebuah lorong berkelok yang di dalamnya kita temui sisa perlengkapan dari para serdadu Jepang, foto-foto dan sisa-sisa tulang yang diletakkan dalam kotak-kotak besi. 

Untuk memasukinya pengunjung harus melewati pintu kecil yang tidak setiap waktu terbuka. Dulunya lorong kecil tersebut adalah gua alam, yang berfungsi sebagai tempat persembunyian tentara Jepang saat diserang oleh tentara sekutu. Pintu keluar dan pintu masuk pada lorong ini menuju ke goa Sumberker. Pada bagian depan pintu melambangkan bendera Jepang (Hinomaru). 


Pada lorong ini tiap tahun ada keluarga dari serdadu yang datang untuk melakukan sembahyang mengenang keluarga mereka yang gugur.

Sejak dibangun sampai saat ini sesuai dengan kesepakatan kerjasama, jumlah tulang belulang yang telahdiserahkan ke pemerintah Jepang sebanyak 3500. Setiap tahunnya pasti ada yang datang sampai 3 kali dan setiap tahun ada tulang belulang yang diserahkan ke pemerintah Jepang semenjak 1994.

Tak hanya itu, banyak benda peninggalan berupa panser-panser yang dulunya dapat kita temui namun saat ini tidak ditemukan lagi karena sudah dijual sebagai besi tua (bestu) termasuk pesawat Dakota Duapura. 

Monumen ini dibangun pada  24 Juli 1992  dan diresmikan pada hari kamis tanggal 24 April 1994 oleh Gubernur Drs. Jakob Pattipi dan Parliamentary Vice Minister of Health and Welfare serta Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of Japan. 

Untuk mengenang serdadu Jepang yang telah gugur di medan perang, maka sesuai harapan Kementerian dan Kesejahteraan Jepang di bangun sebuah Monumen Perang Dunia Ke-II berdasarkan “Memorandum of Agreement” anatara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Republik Indonesia.

Parai saat ini  dengan pantainya dan monument Perang dunia ke- II  merupakan salah satu objek wisata dan daya tarik wisata “sejarah” dari antara ke 29 objek dan daya tarik  wisata yang ada di Kabupaten Biak Numfor.

Awal Kedudukan Jepang di Biak

Awal pendudukan Jepang di Biak pada 1942, pasukan Jepang berhasil mendaratkan tak kurang dari 10.400 orang serdadunya. Pada periode berikutnya, hembusan angin peperangan memang semakin memihak tentara Sekutu yang dibuktikan dengan rentetan kesuksesan mereka memukul pasukan Jepang di beberapa front Pasifik. 

Namun seperti halnya di tempat lain, tentara Sekutu memang terbilang cukup kerepotan untuk mengalahkan pasukan Dai Nippon di Biak yang terkenal pantang menyerah dan tak takut mati. 

Sampai pada akhirnya goa pertahanan terakhir Kolonel Kuzume Naoyuki berhasil disulap menjadi neraka oleh pasukan Sekutu, setelah menghujaninya dengan peluru, granat, minyak, dan lebih dari 850 pon TNT. 

“Ketika kami memasuki goa-goa itu, aroma mayat terpanggang yang menyengat datang menyambut kami, rupanya peluru, granat, gasoline, dan TNT telah melakukan tugasnya dengan baik, kata salah seorang veteran punggawa Sekutu, Letnan Jenderal Robert L Eichelberger, dalam buku Jungle Road to Tokyo.

Anggraidi (Parai) dulunya merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan Jepang di Papua antara tahun 1919 – 1945 yang kemudian dipindahkan ke Bosnik pada 1945. Pada bulan April 1942, pecah Perang Dunia II yang juga sampai ke Irian Jaya  termasuk Biak. 

Jatuhnya Jepang oleh Sekutu di Papua

Sejarah mencatat bahwa di kampung Parai dan sekitarnya sebagai saksi bisu dalam keganasan Perang Pasifik antara sekutu dan Jepang. Goa-goa alam dan tebing di tempat itu sangatlah ideal sebagai basis pertahanan dan tempat persembunyian sejumlah tentara Jepang di bawah komando Kolonel Kuzume dari infantri 222.

Setelah sekutu memborbadir Jayapura (sekitar Danau Sentani) dan melumpuhkan benteng pertahanan tentara Jepang di Sarmi (Wakde), maka pada tanggal 14 Juni 1944 pukul 18.00 waktu setempat, Jenderal Walter Krueger bersama Jenderal Eichelbel mengadakan konfrensi dan mengutus Jenderal Walter Kruiger sebagai Komandan Angkatan Darat ke-VI untuk mengatur penyerangan ke Pulau Biak. 

Bosnik sebagai lokasi pendaratan awal oleh infantri 162 dan menyusul infantri 163 pada tanggal 27 Mei 1944 dilanjutkan dengan infantri 186 yang langsung menjalankan kontrol tempur lewat darat menuju Parai.

Pada tanggal 18 Juni 1944 infantri 34 Marinir dan Batalion Artileri ke 163 yang berkedudukan di Wakde (sarmi) tiba di Biak (Parai), di bawah pimpinan Jenderal Fuller yang pada saat tiba kontak infantri tentang daerah persembunyian tentara Jepang dengan divisi 41 yang pada saat itu sudah berada di lokasi (Parai dan sekitarnya). 

Pada 26 Juni 1944 daerah sekitar Parai sampai dengan kampung Sorido dikuasai tentara sekutu. Dengan demikian pada tanggal 27 Juni dilaporkan kepada Jenderal Eichelbelger bahwa keadaan di sekitar Parai dan Kota Biak sudah aman dan pada tanggal 28 Juni Jenderal Eichelbelger berangkat dari Biak menuju Hollandia.(sugih)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda