sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Agraria

Peristiwa

Hukrim

LARAS JATENG

Laras Jatim

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Hanya 8 SD sebagai Sekolah Model SPMI di Kota Cimahi

Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat.
Cimahi, Larast Post – Sekolah Dasar di Cimahi hanya mampu menghasilkan 8 (delapan) Sekolah Dasar berstatus Model pada Sistem Penjamin Mutu Internal (SPMI). Sekolah model merupakan sekolah yang ditetapkan dan dibina oleh LPMP untuk menjadi sekolah acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam menerapkan sistem penjaminan mutu pendidikan secara mandiri. Sistem penjaminan mutu pendidikan yang diterapkan di sekolah model melibatkan semua komponen sekolah dan menjalankan siklus penjaminan mutu. 

Di samping 8 SD berstatus Sekolah Model, terdapat 42 termasuk berstatus Sekolah Imbas. Sisanya sebanyak 75 sekolah Dasar (SD) di Kota Cimahi belum tersentuh penerapan Sistem Penjamin Mutu Internal (SPMI), baik sekolah imbas maupun sekolah model. Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas pendidikan Kota Cimahi, Dikdik Suratno Nugrahawan usai menghadiri Ekspos SD Model SPMI kepada SD Imbas SPMI di Gugus Rd. Dewi Sartika di SDN Cibabat Mandiri 1 Jalan Daeng Muhammad Ardiwinata Kompleks Nata Endah Kota Cimahi, Kamis (10/1/2019).

Menurut Dikdik, jika ingin masuk SPMI, otomatis sekolah harus memenuhi 8 (delapan) Standar Pendidikan Nasional (SNP). SNP adalah standar minimal yang ditetapkan pemerintah dalam bidang pendidikan yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan dan semua pemangku kepentingan dalam mengelola danmenyelenggarakan pendidikan, yang terdiri atas: Standar Kompetensi Lulusan; Standar Isi; Standar Proses; Standar Penilaian; Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; Standar Pengelolaan; Standar Sarana dan Prasarana; dan Standar Pembiayaan.

Namun, yang jadi permasalahan biasanya terdapat pada point pemenuhan standar sarana dan prasarana. Menurut Dikdik, permasalahan pemenuhan sarana dan prasarana bukan hanya terjadi di Kota Cimahi saja.

" Masalahnya klasik, keterbatasan biaya. Tapi kita upayakan dengan keterbatasan yang ada, pemanfaatan sarana dan prasarana di sekolah bisa dilakukan optimal," kata Dikdik.  

Menurut Dikdik, salah satu upaya yang dilakukan pihaknya agar memenuhi standar nasional ialah dengan melakukan pendampingan. Pendampingan itu bakal dilakukan oleh sekolah yang sudah masuk SPMI dan juga Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Sekolah model harus mendampingi sekolah imbas, jadi ada semacam pendampingan. Kemudian LPMP mendampingi sampai 2 tahun, tahun ketiga (sekolah) harus mandiri. “Jadi ada semacam pendampingan,”tukas Dikdik. (desmanjon)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda