sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukrim

Peristiwa

Agraria

LARAS JATENG

Laras Jatim

LARAS JABAR

Seni Budaya dan Hiburan

Bisnis

Pernak Pernik

Olah Raga

» » Ketua DPR Minta Tim SAR Gabungan Terus Cari Korban Banjir Sentani

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. (Foto ist)

Jakarta, Laras Post – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian (Tim SAR Gabungan) untuk terus melakukan pencarian dan evakuasi korban banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua, terhadap korban yang masih belum ditemukan

Hal tersebut disampaikan Bamsoet terkait banjir bandang yang terjadi di Sentani, Jayapura, Papua (16/3/2019) yang mengakibatkan 73 orang meninggal dunia, sekitar 150 rumah terendam di Perumahan Bank Tabungan Negara (TBN) Bintang Timur Sentani dan rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, yang disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi dan rusaknya ekosistem di Pegunungan Cycloops, serta banjir dan tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Bantul, Yogyakarta (17/3/2019) yang mengakibatkan dua orang di Imogiri meninggal dunia karena terdampak longsor. 

“Kami juga menyampaikan belasungkawa terhadap keluarga korban yang ditinggalkan dan menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas sejumlah peristiwa bencana alam yang terjadi tersebut,” tandas Bamsoet dalam siaran persnya, Senin (18/3/2019).

Terkait permasalahan tersebut, orang nomor satu di DPR RI itu minta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memberikan solusi transportasi bagi masyarakat dan petugas untuk akses menuju ke lokasi longsor dan bantuan alat berat kepada BNPB untuk membuka akses yang masih tertutup dan membantu evakuasi korban di Sentani, Jayapura, Papua, mengingat akses menuju lokasi banjir terputus akibat banjir bandang,” ujarnya.

Pihaknya, dia melanjutkan, juga  mendorong Kementerian PUPR bersama dengan Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan pembangunan infrastruktur yang rusak dan memberikan bantuan perbaikan kembali rumah-rumah warga terdampak bencana yang mengalami kerusakan ataupun hanyut, serta mempersiapkan tempat pengungsian bagi warga terdampak banjir bandang, banjir, dan longsor.

“Dewan juga mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memberikan imbauan kepada masyarakat di Sentani, Jayapura, Papua untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir bandang susulan, karena musim hujan masih akan terjadi, serta mengimbau masyarakat setempat untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman yang telah disiapkan oleh pemerintah.”

Dia kembali menuturkan, pihaknya juga  mendorong kepolisian bersama masyarakat untuk meningkatkan keamanan pada wilayah terdampak bencana guna menghindari adanya oknum-oknum yang memanfaatkan kondisi rumah yang kosong.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan BMKG, sambung Bamsoet, diminta berkoordinasi terkait basis informasi yang digunakan oleh BMKG dalam menyebarkan informasi peringatan sistem pendeteksi dini (early warning system) kepada masyarakat yang berada di wilayah berpotensi bencana selain melalui media cetak, siber, dan siaran, juga dapat melalui SMS broadcast.

“Kita juga mendorong pemerintah pusat, BNPB melalui BPBD, dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera memulai sosialisasi simulasi jika terjadi banjir, longsor, maupun gempa, secara rutin, baik di sekolah, perguruan tinggi, perkantoran, rumah sakit, hotel, dan di gedung-gedung publik, sebagai bentuk mitigasi bencana, sehingga seluruh masyarakat lebih siap dan lebih paham dalam menghadapi bencana, serta lebih terampil dan cekatan dalam melindungi ataupun menyelamatkan dirinya saat terjadi bencana,” cetusnya.

Pemerintah, papar politisi Partai Golkar, juga diminta segera melengkapi dan memperbaiki peralatan early warning system (EWS) untuk mencegah jatuhnya korban jiwa apabila terjadi kembali bencana alam seperti longsor, banjir, gempa bumi, maupun tsunami, mengingat waktu peringatan dini merupakan aspek yang paling penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sehingga dapat meminimalisir terjadinya korban jiwa dan materi. (wan)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda