sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukrim

Peristiwa

Laras Jatim

Agraria

LARAS JATENG

Olah Raga

LARAS JABAR

Bisnis

Pernak Pernik

» » » » Diprediksi 5 Juni 2019, NU dan Muhammadiyah Rayakan Idul Fitri Bersamaan


Jakarta, Laras Post - Perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah / 2019 Masehi kedua ormas besar Islam NU (Nahdhotul Ulama) dan Muhammadiyah diprediksi akan bersamaan.

Hal itu berdasarkan keterangan Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin yang memprediksi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia akan dirayakan secara seragam pada 5 Juni. Thomas menyebutkan Bulan Ramadhan 1440 H akan disempurnakan 30 hari.

Kriteria utama yang digunakan NU dalam menentukan awal Ramadhan tinggi hilal (anak bulan) minimal 2 derajat (imkanurrukyat), sementara Muhammadiyah berpatokan pada wujudul hilal yaitu tinggi bulan minimal 0 + (plus) derajat telah memasuki bulan baru.

"Kalau tinggi bulan antara 0-2 derajat pasti terjadi perbedaan, seperti 2011-2014. Alhamdulillah sejak 2015-2021 tinggi bulan di luar rentang tersebut, jadi ada potensi selalu seragam sampai 2021. Pada awal Ramadhan lalu tinggi bulan sekitar 5 derajat," ucap Thomas kepada wartawan, Jumat (31/519).

Dia mengatakan pada 29 Ramadhan atau 3 Juni tinggi bulan negatif sehingga tidak mungkin terlihat. Untuk itu bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari.

"Pada 29 Ramadhan/3 Juni tinggi bulan negatif, tidak mungkin terlihat. Menurut Muhammadiyah hilal belum wujud dan menurut NU nanti dibuktikan rukyat tidak terlihat. Karena itu Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari sehingga 1 Syawal/Idul Fitri jatuh pada 5 Juni 2019," ucapnya lgi.

Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 5 Juni 2019

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 syawal 1440 hijriyah jatuh pada tanggal 5 Juni 2019. Penetapan tersebut berdasarkan hasil hisab haqiqi dari majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah.

"Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui majelis tarjih dan tajdid telah menetapkan bahwa 1 syawal 1440 hijriyah jatuh pada tanggal 5 Juni 2019," kata Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, di Kantor PP Muhammadiyah Jalan Cik Ditiro No 23, Yogyakarta, Kamis (30/5/19).

Untuk itu, Haedar manuturkan, berkaitan dengan idul fitri 1440 Hijriyah dirinya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. "Kami mengucapkan selamat idul fitri, taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin," ujarnya.

Haedar berharap momentum 1 syawal atau idul fitri 1440 hijriyah dijadikan sebagai sarana untuk saling memaafkan, dan sarana untuk merekatkan kembali persaudaraan kita sebagai bangsa.

"Kedua, jadikan idul fitri sebagai momentum untuk secara bersama-sama kita umat Islam dan bangsa Indonesia menjadikan Indonesia sebagai rumah milik bersama untuk maju menjadi bangsa dan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur menuju Indonesia berkemajuan. Semoga Allah memberi rahmat untuk bangsa Indonesia," harapnya.

Kemenag Gelar Sidang Isbat pada Senin

Kementerian Agama akan mengelar sidang isbat penetapan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijria pada Senin (3/6/19) besok.

Rencananya, sidang isbat akan dilaksanakan di Auditorium HM. Rasjidi, Kementerian Agama, Jalan MH. Thamrin Nomor 6, Jakarta Pusat.

“Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dijadwalkan akan memimpin langsung sidang isbat. Melalui mekanisme sidang isbat tersebut, Kemenag akan menetapkan kapan umat muslim Indonesia akan berhari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1440H,” kata Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Islam Muhammadiyah Amin, melalui siaran pers, Rabu (29/5/19).

Seperti sebelumnya, sidang isbat akan dihadiri para duta besar negara sahabat, Mahkamah Agung, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, Pakar Falak dari Ormas-ormas Islam, Pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama; dan Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama.

“Sidang isbat wujud kebersamaan Kemenag dengan Ormas Islam dan instansi terkait dalam menetapkan awal bulan qamariyah, terutama Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah,” tandas Amin.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Agus Salim menjelaskan, rangkaian sidang isbat diawali dengan pemaparan secara terbuka mengenai posisi hilal berdasarkan data hisab oleh pakar astronomi.(sg)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda