sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukrim

Peristiwa

Laras Jatim

Agraria

LARAS JATENG

Olah Raga

LARAS JABAR

Bisnis

Pernak Pernik

» » Penjamasan Bende Becak Sedot Ratusan Pengunjung

Persiapan prosesi penjemasan Bende Beca
Rembang, Laras Post – Ritual penjamasan Bende Becak sedot perhatian ratusan pengunjung dari Rembang maupun luar Rembang. Penjamasan Bende Becak dilakukan di Rumah Juru Kunci Makam Sunan Bonang, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Minggu (11/7/2019) pagi.

Para pengunjung berbondong bondong tak hanya beserta keluarganya masing-masing, namun juga ada yang datang beserta rombongan dari berbagai kalangan, untuk menyaksikan secara langsung acara penjamasan Bende Becak di Desa Bonang. Tak sekedar menyaksikan prosesi ritual, mereka juga mengharapkan mendapatkan berkah dari Sunan Bonang.

Abdul Wahid, Juru Kunci Petilasan Sunan Bonang, mengatakan, Bende Becak asalnya nama dari seorang utusan raja Brawijaya V.

Lebih lanjut ia mengisahkan, pada tahun 1510M Sunan Bonang pernah mengirim surat kepada Raja Majapahit Brawijaya V, dan meminta Brawijaya V untuk memeluk Islam. Namun, Brawijaya menolak dan mengirim utusan bernama Becak untuk menyampaikan surat penolakan itu kepada Sunan Bonang.

Setelah Becak tiba di pintu pesantren, Sunan Bonang bersama murid-muridnya sedang mengaji. Kemudian, sambil menunggu, ia melantunkan tembang-tembang Jawa.

Merasa terganggu dengan suara tersebut, Sunan Bonang bertanya kepada muridnya suara apakah itu? para muridnya menjawab, itu suara Becak yang sedang bernyanyi. Sunan Bonang mengatakan, suara itu bukan suara Becak, tetapi bende atau gong kecil. Seketika itu juga, Becak tersebut menghilang dan berubah menjadi sebuah bende karena sabda Sunan Bonang. Kemudian bende tersebut dinamai menjadi Bende Becak.

“Sejak saat itu, Benda Becak menjadi sarana syiar Islam yang digunakan Sunan Bonang. Setelah sepeninggalannya Sunan Bonang, Bende itu selalu berbunyi sebagai tanda peringatan akan adanya suatu peperangan atau musibah,” kata Wahid.

Pengunjung berebut untuk mendapat ubo rampe
Ritual penjamasan Bende Becak
 Dalam ritual tersebut, juru kunci menyediakan air bunga jamasan di lima tempat, ketan kuning dengan unti atau parutan kelapa bercampur gula jawa. Juru kunci menaruh ketan kuning itu di atas rakitan potongan bambu.

Ritual diawali dengan mencuci Bende Becak, dengan menggunakan air bunga. Selain itu, ada pula tumpeng-tumpeng kecil ketan dan nasi kuning sebagai wujud rasa syukur serta potongan kecil kain mori yang digunakan untuk ritual penjamasan. Ketan kuning plus unti, rakitan potongan bambu, kain mori dan air bekas jamasan, dibagikan ke masyarakat.

Pengunjung serbu air jamasan Bende Becak

Suryati, salah satu pengunjung dari Semarang bersama keluarganya mengaku, sengaja datang menghadiri ritual penjamasan Bende Becak tersebut, untuk bisa mendapatkan air yang digunakan untuk menjamas.Menurutnya, air tersebut diyakini bisa untuk menjadi obat.

“Saya sengaja datang untuk melihat secara langsung prosesi penjamasan Bende Becak. Ini saya mendapat air bekas jamasan, yang dipercaya bisa menyembuhkan sakit dan bikin awet muda,” kata Suryati.

Mustofa pengunjung asal Banyuwangi Jawa Timur, mengatakan kedua ubo rampe (pelengkap berupa makanan dalam sesaji atau sajen) tersebut adalah berkah dari Sunan Bonang.

Warga pun meyakini bahwa kain mori dipercaya untuk melancarkan rezeki dan rakitan potongan bambu biasanya dipasang di rumah untuk keselamatan.

“Saya mendapatkan potongan kain mori dan potongan bambu wadah ketan kuning. Kain mori ini akan saya simpan di dompet, saya percaya bisa melancarkan rezeki. Kalau potongan bambu ini akan saya taruh di rumah untuk keselamatan,”kata Mustofa.

KH Zaim Achmad Ma`shoem (Gus Zaim), ulama setempat, berulang kali mengingatkan melalui alat pengeras suara, agar pengunjung tidak terjebak pada kemusyrikan. Air, ketan, potongan bambu, kain mori dan lain lain hanyalah sebagai wasilah atau perantara sedangkan untuk meminta tetap hanya kepada Allah.

“Saya meminta kepada pengunjung untuk tidak mempercayai sesuatu yang bisa mengakibatkan perilaku musrik atau syirik. Semua uborampe seperti air, ketan, potongan bambu dan kain mori hanyalah perantara. Kita tetap meminta kepada Allah SWT,” kata Gus Zaim. (Kartika)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda