sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukrim

Peristiwa

Laras Jatim

Agraria

LARAS JATENG

Olah Raga

LARAS JABAR

Bisnis

Pernak Pernik

» » Indonesia-Australia Optimistis Ratifikasi IA-CEPA Segera Selesai

Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia Simon Birmingham di sela-sela Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Ministers’ Meeting/AEM) ke-51 di Bangkok, Thailand, Minggu (8/9)
Bangkok, Laras Post - Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita optimistis perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) antara Indonesia dan Australia bisa segera diberlakukan (entry into force) tahun ini. 

Hal tersebut diungkapkan Mendag usai melaksanakan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham, Minggu (8/9/2019), di Bangkok, Thailand. Pertemuan bilateral tersebut dilakukan di sela-sela Pertemuan tingkat Menteri ASEAN (ASEAN Economic Ministers/AEM) ke-51 dan Pertemuan Terkait Lainnya yang berlangsung 5—10 September 2019.

Mendag   mengungkapkan,   saat   ini   naskah   Indonesia-Australia   CEPA   (IA-CEPA)   dan dokumen pendukung telah disampaikan Presiden RI kepada Ketua DPR pada tanggal 9 Agustus 2019.

“Sesuai UU Perdagangan, apabila DPR tidak mengambil keputusan dalam waktu paling lama 60 hari kerja pada masa sidang setelah menerima naskah IA-CEPA, pemerintah dapat memutuskan perlu atau tidaknya persetujuan DPR,” ungkap Mendag.

Sementara itu di pihak Australia, proses ratifikasi ditargetkan selesai November 2019. Usai menggelar pemilu pada Mei 2019 yang kembali dimenangkan partai petahana, proses ratifikasi di pihak Australia diharapkan akan mudah diselesaikan. Pemerintah Australia memperkirakan proses ratifikasi memakan waktu kurang lebih 6 bulan masa sidang bersama.

“Periode selama proses ratifikasi ini telah dimanfaatkan kedua negara untuk berkoordinasi menyusun model kerja sama ekonomi, agar kerja sama dapat segera diimplementasikan usai proses ratifikasi selesai,” lanjut Mendag.

Misalnya, Mendag mengungkapkan, untuk kerja sama di bidang investasi dan kerja sama pendidikan vokasional, Pemerintah Australia telah melakukan pertemuan dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI untuk menjajaki kemungkinan investasi di sektor vokasi (work training).

Pemerintah Australia menyatakan ketertarikannya dan akan menyosialisasikan potensi investasi sektor vokasi kepada pemangku kepentingan di Australia. Selain itu Australia berencana menambah kuota visa kerja dan berlibur (working and holiday visa/WHV) sebelum IA-CEPA berlaku. 

“Ini itikad baik Pemerintah Australia dan kami menyambut baik rencana tersebut. Ini juga sebagai transisi dari kuota 1.000 orang per tahun menjadi 4.100 per tahun, dan bertambah setiap tahunnya hingga mencapai kuota 5.000 orang per tahun setelah IA-CEPA berlaku,” ujar Mendag.

Selain itu sebagai persiapan implementasi IA-CEPA, Kementerian Perdagangan juga telah melaksanakan lokakarya implementasi sistem tariff rate quota (TRQ) pada Agustus 2019 untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai TRQ. Implementasi sistem TRQ merupakan salah satu komitmen dalam perjanjian IA-CEPA dan kedua negara optimistis dapat mengembangkan sistem TRQ berbasis elektronik yang adil dan transparan. Indonesia berkomitmen memasukkan produk-produk yang tercakup dalam kelompok produk ternak, sereal, hortikultura, dan baja ke dalam 16 post tarif dalam TRQ. 

“Kemendag akan kembali mengingatkan kementerian/lembaga terkait untuk mempersiapkan regulasi atau ketentuan-ketentuan pendukung operasional seperti keputusan menteri, peraturan menteri, dan regulasi lainnya. Selain itu juga memetakan proses dan kelengkapan administrasi yang jelas, serta transparan untuk memudahkan penggunanya,” jelas Mendag.

Pada pertemuan bilateral Indonesia-Australia tersebut, kedua Menteri juga meninjau pertumbuhan ekonomi kedua negara, dan membahas perkembangan kerja sama ekonomi komprehensif regional (RCEP) yang ditargetkan selesai secara substansi pada November 2019.

Sekilas Hubungan Dagang Indonesia-Australia

Pada 2018, total perdagangan Indonesia dengan Australia mencapai USD 8,5 miliar. Sementara pada periode Januari-Juni 2019 total perdagangan kedua negara telah mencapai USD 3,6 miliar.

Australia merupakan negara tujuan ekspor Indonesia ke-13 dengan total ekspor USD 2,8 miliar di tahun 2018, naik sebesar 12 persen dari USD 2,5 miliar di tahun sebelumnya. Sebagai mitra impor, Australia menempati urutan ke-8 negara asal impor dengan total sebesar USD 5,8 miliar pada 2018, turun sebesar 3 persen dibanding tahun sebelumnya yang senilai USD 6 miliar.

Produk ekspor utama Indonesia ke Australia pada 2018 adalah kayu (USD 124,7 juta); new pneumatic tyres of rubber (USD 60,7 juta); reception app for television (USD 52,4 juta); alas kaki (USD 52,1 juta); dan kayu lapis (USD 44,5 juta). Sedangkan produk impor utama Indonesia dari Australia pada 2018 adalah gandum dan meslin (USD 1,2 miliar); live bovine animals (UDS 521,5 juta); batu bara (USD 417 juta); tebu (USD 293,1 juta); dan bijih besi (USD 263,8 juta). (her, sg, wan)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda