sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukum

Peristiwa

Laras Jatim

LARAS JATENG

Olah Raga

Agraria

LARAS JABAR

Ekbis

Pernak Pernik

Selebrity

» » Kebun Raya Bogor Dari Masa Ke Masa

Salah satu prasasti di Kebun Raya Bogor.
Bogor, Laras Post - Tahukah, Kebun Raya Bogor itu sudah ada sejak dahulu kala, yakni era Prabu Siliwangi dengan kerajaannya yang bernama Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran (1482 - 1521 M). Dulu keberadaan kebun ini adalah bagian dari “Samida” (hutan buatan/taman buatan), serta berfungsi sebagai kelestarian lingkungan dan juga pembenihan beberapa jenis kayu langka.

Bukti dari keberadaan kebun raya ini dituangkan dalam bahasa dan aksara sunda kuno di Prasasti Batutulis, yang terletak di lokasi aslinya yakni di Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. 

Dalam prasasti tersebut ditulis yang terjemahannya sebagai berikut, ‘Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida (sekarang, Kebun Raya Bogor), membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka Panca Pandawa Mengemban Bumi (tahun 1451 Saka atau 1533 Masehi).

Pada tahun 1811, saat itu Thomas Stamford Raffles, berkebangsaan Inggris yang menjabat sebagai Letnan Gubernur Hindia Belanda dan menguasai Jawa, bermukim di Istana Bogor bersama istrinya Olivia Mariamne Raffles. Kemudian, Raffles merubah halaman istana Bogor itu menjadi kebun yang asri dengan gaya taman Inggris klasik, inilah cikal bakal Kebun Raya Bogor yang kita lihat pada era sekarang.

Ada cerita yang menarik, tentang Raffles ini, saat istri tercintanya yakni Olivia Mariamne Raffles meninggal dunia akibat serangan malaria pada tahun 1814, dan untuk mewujudkan rasa cintanya, Raffles membuat tugu untuk mendiang istrinya. 

Dan dalam tugu tersebut ada kalimat puitisnya yang terjemahan bebasnya sebagai berikut “Oh, Engkau yang selalu memusatkan hatiku? Suatu saat kau telah melupakan nasibmu, yang telah menawar hati kami sebagian. Tapi tetap saja janganlah kau lupakan aku ”. Tugu tersebut dapat kita jumpai tidak jauh dari pintu gerbang utama Kebun Raya Bogor, atau di area kolam gunting.

Pada tahun 1816 berlangsunglah peralihan kekuasaan dari kerajaan Inggris ke kerajaan Belanda, saat itu yang berkuasa adalah Gubernur Jendral Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen (Gubernur Jendral Hindia Belanda ke-41). 

Capellen mendirikan Departemen Pertanian, Seni, dan Ilmu Pengetahuan untuk Pulau Jawa dan direkturnya ditunjuk Prof. Caspar George Carl Reinwardt, warga negara Jerman yang pindah ke Belanda. Melalui, Reinwardt inilah penelitian botani dan biologi dikembangkan, dan seluruh tanaman dikumpulkan di areal halaman istana Bogor seluas 47 hektare, yang akhirnya bernama “’s Lands Plantentuin te Buitenzorg”.

Reinwardt adalah direktur pertama kebun botani tersebut pada tahun 1817. Reinwardt pulalah sebagai perintis pembuatan herbarium (ruangan yang menyimpan segala macam/koleksi tumbuhan yang diawetkan dan diatur klasifikasinya sebagai bahan penelitian), makanya dia terkenal sebagai pendiri Herbarium Bogoriense.

Dari tahun ke tahun Kebun Raya Bogor mengalami pergantian direktur, dari Reinwardt (1817-1822) kepada Dr. Carl Ludwig Blume (1822-1831), kemudian digantikan oleh Johannes Elias Teijsmann (1831- 1867), Teijsman digantikan oleh Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer (1867) dan pada tahun 1868 secara resmi Kebun Botani Buitenzorg resmi terpisah kepengurusannya dengan Istana Bogor. 

Sejarah mencatat, pada masa jabatan Teijsmann sebagai direktur, ribuan spesimen tumbuhan dikembangkan di Kebun Raya Bogor ini. Tumbuhan tersebut sengaja dibawa dari lawatannya di berbagai macam negara. Sebagai penghormatan terhadap jasanya, pihak Kebun Raya Bogor mengabadikan dengan dibangunnya sebuah tugu di Taman Teijsmann dengan tanaman pohon jati yang bermarga  Teijsmaniodendron, yang diambil dari namanya.

Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo, adalah orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai pimpinan di Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LPPA) yang sebelumnya bernama ‘s Lands Plantentiun te Buitenzorg pada tahun 1949. 

Saat itu lembaga ini mempunyai cabang sebanyak 6, yaitu Bibliotheca Bogoriensis, Hortus Botanicus Bogoriensis, Herbarium Bogoriensis, Treub Laboratorium, Musium Zoologicum Bogoriensis dan Laboratorium Penyelidikan Laut. 

Dan pada tahun 1956, kebun yang sekarang luasnya menjadi 87 hektare dipimpin oleh Sudjana Kassan sebagai direkturnya.

Dalam perjalanan waktu, Kebun Raya Bogor banyak berganti nama, dari mulai ‘s Lands Plantentiun te Buitenzorg , kemudian saat penjajahan Jepang berubah menjadi Syokubutzuer, kemudian berubah lagi menjadi Botanical Garden of Buitenzorg, terus berubah lagi menjadi Botanical Garden of Indonesia dan sekarang namanya Kebun Raya Bogor. (haris/ dari berbagai sumber)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda