sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukum

Peristiwa

Laras Jatim

LARAS JATENG

Olah Raga

Agraria

LARAS JABAR

Info Pasar

Pernak Pernik

Seni Budaya dan Hiburan

» » Polisi Bekuk Tujuh Komplotan Mafia Tanah


Jakarta, Laras Post - Polda Metro Jaya bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengungkap kasus mafia tanah. Dalam kasus ini polisi mengamankan tujuh anggota mafia tanah, dan dua orang lainnya masih dalam pengejaran.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengungkapkan, ke tujuh orang yang diamankan itu yakni,  Raden Handi, Arnold Yosep, Henry Primariandy, Siti Djubaedah, Bugi Martono, Dimas Okgi dan Denny Elza.

Sementara dua orang anggota mafia tanah lainnya saat ini sedang dalam pengejaran. “Ya masih dalam pengejaran tim penyidik. Masih dalam pengembangan untuk mengungkap jaringannya,” ujar Yusri, Minggu (16/2/2020), di Jakarta.

Kasus ini berawal ketika korban bernama Indra Hoesein berencana menjual rumah Sertifikat Hak Milik (SHM) seharga Rp 75 miliar, pada pertengahan Januari 2019, dengan memasang iklan di media massa dan spanduk di depan rumah di Jalan Brawijaya III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Salah seorang tersangka, Diah Ayu, kemudian menghubunginya dan berpura pura berminat untuk membeli. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya harga disepakati menjadi Rp 65 miliar.

Tersangka Diah lalu meminta korban untuk menunjukan SHM rumah tersebut di kantor notaris Dr H Idham SH Mkn, di Jalan Tebet Timur Raya 4D, Jakarta Selatan. Tersangka Raden Handi berpura-pura menjadi notaris bernama Idham. Korban kemudian memberikan fotokopi SHM. Selanjutnya, tersangka Raden Handi memberikan fotokopi sertipikat tersebut kepada tersangka Dedi Rusmanto dengan tujuan untuk dibuatkan sertipikat palsu.

Pada 9 Januari 2019, pihak korban yang diwakili staf bernama Lutfi yang berasal dari kantor Notaris Ratu Arlini dan pihak pembeli yang diwakili tersangka Dedi Rusmanto mendatangi Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan untuk melakukan pengecekan sertipikat. Dan, sertipikat asli yang dibawa Lutfi dinyatakan absah oleh BPN.

Dengan dalih untuk memfoto copy, tersangka Dedi meminjam sertipikat asli kepada Lutfi. Ketika pamit untuk fotokopi, tersangka Dedi menukar sertipikat asli dengan sertipikat palsu yang sudah disiapkan sebelumnya. 

Tersangka Dedi kemudian menyerahkan sertipikat asli kepada tersangka Diah dan Arnold di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Dedi mendapatkan imbalan Rp 30 juta dalam menjalankan aksinya dari tersangka Diah.

Pada 14 Februari 2019, tersangka Henry dan Siti kemudian mengurus pinjaman uang dengan modal SHM asli milik korban Indra dan menggunakan identitas palsu. Keduanya berhasil mengecoh pemberi pinjaman bernama Fendi yang kemudian mencairkan uang Rp 11,17 miliar.

Ketika bertemu Fendi, tersangka Henry mengaku sebagai Indra dan Siti berpura-pura menjadi Nadine yang merupakan istri Indra. Kedua tersangka menggunakan KTP palsu.

Uang pinjaman sebesar Rp 11,17 miliar itu ditransfer Fendi ke rekening Bank Danamon atas nama Indra. Rekening itu dibuka tersangka Henry juga menggunakan KTP elektronik palsu. Kemudian, Henry memindahkan uang dari rekening Bank Danamon ke rekening Bank BCA atas nama tersangka Bugi, selanjutnya seluruh uang ditarik dan diserahkan ke tersangka Arnold dan Neneng.

Pada sisi lain, korban baru menyadari jika dokumen SHM asli miliknya ditukar dengan yang palsu. Saat itu pihak pembeli berbeda meminta dilakukan pengecekan SHM ke BPN, dan ternyata BPN menyatakan sertipikat palsu. Mengetahui hal itu, korban secepatnya lapor polisi.

Bentuk Satgas Mafia Tanah

Sebelumnya, untuk mengupas tuntas sengketa dan konflik di bidang pertanahan Kementerian ATR/BPN bekerja sama dengan Polri membentuk Satuan Tugas (Satgas) mafia tanah.

“Mafia tanah ini tidak banyak, tapi temannya banyak. Oleh sebab itu, kalau kita kerja bersama mungkin mafia tanah akan berpikir berulang kali untuk melakukan kejahatan,” kata Menteri ATR/Kepala BPN, Sofyan A. Djalil saat pengarahan kegiatan Pra Operasi Kegiatan Pencegahan dan Peberantasan Mafia Tanah yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah, di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/02/2020), seperti dikutip dari siaran pers Kementerian ATR/BPN.

Sofyan A. Djalil mengungkapkan, di tahun 2020, sedikitnya ada 61 kasus mafia tanah di seluruh Indonesia yang harus diungkap ke publik. “Kita ingin bikin jera mafia tanah. Oleh sebab itu, kita perlu bekerja sama untuk selesaikan tantangan kita untuk berantas para mafia tanah,” tandasnya.

Lebih lanjut, Menteri ATR/Kepala BPN memberikan kriteria kasus yang harus diungkap untuk diberikan efek jera kepada para mafia tanah yaitu salah satunya kasus yang ditangani bisa menjadi bahan pembelajaran.

“Dari kasus yang baru saja kita ungkap, ternyata kita belajar bahwa sistem Dukcapil masih ada celah yang perlu diperbaiki dan jangan sembarang percaya kepada oknum oknum yang mengaku PPAT,  gunakan PPAT terpercaya untuk menghindari yang fiktif,” ucapnya.

Sofyan A. Djalil menambahkan kasus yang perlu diungkap harus menjadi perhatian publik. “Dengan menjadi perhatian publik, kemudian masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam melakukan jual beli tanah. Di samping itu, dengan diungkapnya identitas pelaku seharusnya mafia tersebut merasa kapok,” tambahnya.

Menteri ATR/Kepala BPN juga mengimbau kepada seluruh jajaran di Kantor Wilayah BPN Provinsi hingga Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota untuk jalin silaturahmi kepada para penegak hukum di wilayah masing-masing. “Jalin silaturahmi yang baik dengan penegak hukum seperti Kepolisian dan Kejaksaan, karena kita adalah tim dalam rangka menjadikan negara lebih baik lagi di masa akan datang,” imbaunya.

“Yang terpenting, mari sama-sama kita bekerja. Bekerja bersama untuk menyelesaikan tantangan yang sedang kita hadapi untuk kejayaan di negeri kita di masa yang akan datang,” tegas Menteri ATR/Kepala BPN. (her)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda