sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukum

Peristiwa

Laras Jatim

LARAS JATENG

Olah Raga

Agraria

LARAS JABAR

Info Pasar

Pernak Pernik

Seni Budaya dan Hiburan

» » Kasus Positif COVID-19 Jawa Timur Lampaui Jakarta, Doni Minta Lebih Fokus Lakukan Kajian

Doni Monardo
Surabaya, Laras Post – Jumlah kasus positif dan pasien COVID-19 meninggal di Jawa Timur terus meningkat dan menjadi yang tertinggi di Indonesia.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19,  pada Rabu (24/6/2020), jumlah kasus positif Covid-19 di Jawa Timur melampaui DKI Jakarta, setelah ada tambahan 183 kasus, sehingga total tembus 10.298 kasus. Sementara DKI Jakarta tambah 154 total menjadi 10.277 kasus. Bahkan angka kematian di daerah ujung Timur Pulau Jawa itu, tertinggi dibanding wilayah lain di Indonesia.

Menyikapi hal itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo meminta Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jawa Timur, lebih fokus membuat kajian dan memetakan seluruh permasalahan yang kemudian menjadi pemicu tingginya angka kasus COVID-19 di wilayahnya.

“Perlu dilakukan kajian. Penyebab utamanya apa,” kata Doni memberikan sambutan dalam kunjungan kerja di Gedung Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/6/2020).

Doni menjelaskan, kajian dan pemetaan tersebut dapat menjadi dasar awal untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai pengambilan keputusan dan kebijakan penanganan sesuai kondisi dan kebutuhan tiap-tiap wilayah.

Selain berdasarkan penambahan angka kasus baru dan kematian akibat COVID-19, hal yang mendasari Doni untuk kemudian menyampaikan arahan tersebut adalah munculnya klaster baru di Jawa Timur, yakni ‘klaster jenazah’ seperti yang terungkap dalam paparan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Oleh sebab itu, Doni meminta agar Pemprov Jawa Timur agar segera mengambil langkah serius untuk memutus penyebaran COVID-19 melalui beberapa pendekatan masyarakat, salah satunya melalui pendekatan yang dimulai dari peran para anggota keluarga.

Ia meminta agar peningkatan kapasitas dan pemahaman masyarakat dalam penanganan jenazah COVID-19 harus ditingkatkan, sehingga diharapkan tidak ada lagi upaya pengambilan jenazah pasien terkonfirmasi COVID-19 secara paksa oleh pihak keluarga.

“Setiap ada pasien yang relatif sudah risikonya tinggi, maka ini perlu penegasan kepada keluarga untuk disampaikan sehingga mereka tidak gegabah untuk mengambil alih jenazah, yang dampaknya akan timbul kasus baru,” tegasnya.

Doni menyebutkan, faktor yang juga memperburuk seseorang yang terpapar COVID-19 adalah apabila yang bersangkutan memiliki penyakit penyerta lainnya, seperti jantung, hipertensi, paru-paru akut dan sebagainya.

“Nah kalau di antara keluarga itu ada yang komorbid, ada yang menderita penyakit penyerta, tentu itu sangat berbahaya. Itu dampaknya bisa juga menimbulkan kematian,” imbuhnya. 

Namun Doni juga memberi apresiasi kepada Gugus Tugas Daerah Pemprov Jawa Timur atas kinerjanya dengan capaian pemeriksaan hingga 2.000 spesimen per hari.

Menurutnya, hal itulah yang juga kemudian menjadi salah satu faktor tingginya peningkatan angka kasus COVID-19 di wilayah  Jawa Timur, dengan variasi rata-rata hingga 300 per hari.

“Perlu diapresiasi karena telah melampaui 2.000 spesimen perhari, oleh karena itu wajar kalau setiap harinya bisa mendapatkan variasi hingga rata-rata 200-300 per hari,” kata Doni yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Lebih lanjut, Doni mengharapkan, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II (Kogabwilhan II) agar meningkatkan kepedulian masyarakat untuk selalu patuh tanpa perlu menunggu arahan. Sebab, kesadaran masyarakat tersebut yang kemudian dapat mengurangi risiko penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. 

"Saya harapkan pangkogabwilhan dan TNI/Polri untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, sehingga seluruh warga itu betul-betul dapat meningkatkan kepatuhan. Bukan karena ada TNI tapi karena personal. Tanpa ada arahan, masyarakat bisa ikhlas,” jelasnya.

Ia juga menekankan agar pendekatan secara religi juga digalakkan. Menurutnya, upaya pencegahan penyebaran COVID-19 adalah bagian dari ibadah.

Sehingga apabila seseorang dapat melindungi diri sendiri, maka berarti juga dapat melindungi orang lain.  "Upaya pencegahan adalah bagian dari ibadah. Kalau kita bisa melindungi diri sendiri, berarti kita bisa melindungi orang lain,” jelasnya. (her, sg)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda