sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukum

Peristiwa

Laras Jatim

LARAS JATENG

Olah Raga

Agraria

LARAS JABAR

Info Pasar

Pernak Pernik

Seni Budaya dan Hiburan

» » Launching Buku Karya Lima Penulis Muda Mengupas Sejarah Perkembangan Industri Tembakau di Purbalingga


Purbalingga, Laras Post - Buku 'Tembakau di Purbalingga' resmi diluncurkan,  di Gedung Operation Room Graha Adiguna, Kamis, (23/07/2020). Buku karya lima penulis muda ini mengupas jejak sejarah dan perkembangan industri tembakau di Purbalingga. Melalui karya ini setidaknya bisa menjadi referensi komprehensif, dimana ada harapan bisa mengembalikan kejayaan tembakau di kota Perwira.

Satu diantara penulis buku 'Tembakau di Purbalingga' Gunanto Eko Saputro, menyampaikan buku tersebut ditulis dia bersama empat teman lainnya. Masing-masing Abdul Aziz Rasid, Agus Sukoco, Anita Wiryo Raharjo, Ganda Kurniawan.

Disampaikan, bahwa Purbalingga memiliki jejak sejarah yang panjang mengenai industri tembakau. Setidaknya, ada dua perusahaan Belanda di era kolonial, yang beroperasi di Purbalingga.

"Mereka (dua perusahaan, red) menampung dan memproses tembakau dari petani Purbalingga. Kemudian dipasarkan di Eropa. Selain perusahaan dari Belanda juga ada perusahaan dari Tionghoa," kata Igun.


Setelah Indonesia merdeka, lanjut Igun, pabrik tembakau masih aktif di Purbalingga. Diantaranya yakni PT. Gading Mas Indonesia Tabbaco (GMTI). Hanya saja, GMTI mulai runtuh di sekitar awal 1980. "Sejak itu perlahan industri tembakau di Purbalingga mulai hilang," ujarnya.

Penulis lainnya, Ganda Kurniawan, menceritakan, berdasarkan cacatan pemerintah Hindia Belanda sudah menyebutkan bahwa sejak 1906 sudah ada perkebunan tembakau yang beroperasi di wilayah Purbalingga. Dalam buku De Tabaksplantages Op Sumatra, Java en Borneo yang ditulis oleh J.H. Lieftinck & Zoon (Amsterdam, 1906) di wilayah Karesidean Banyumas ada 4 perusahaan tembakau dan dua diantaranya ada di wilayah Purbalingga. Pertama ada perusahaan De Erven de wed. J. Van Nelle yang dimiliki oleh H. Burgmans.

"Dalam catatan, perusahan itu memproduksi tembakau dengan merk Van Nelle dikenal tidak hanya di Indonesia namun dipasarkan hingga ke eropa oleh perusahaan yang berbasis di Rotterdam itu. Kedua, perusahaan bernama Kandanggampang Mulder Redeker & Co yang dimiliki oleh Cornelis Johanne," kata anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Purbalingga, itu.


Sementara itu, Bupati Purbalingga yang diwakilkan oleh Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Yanuar Abidin mengatakan buku tersebut memperkaya literasi sejarah, budaya dan perkebunan tembakau di Purbalingga. Ia mengapresiasi diterbitkannya buku tersebut yang telah melalui riset dan kajian yang mendalam mengenai tembakau di Purbalingga.

"Berdasarkan sejarah, sektor perkebunan tembakau adalah salah satu sektor perkebunan yang merupakan tanaman asli Purbalingga yang dibudidayakan oleh leluhur kita di lereng Gunung Slamet," kata Yanuar. (Agus P)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda