sponsor

sponsor
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Polkam

Megapolitan

Ekonomi

Regional

Hukum

Peristiwa

Laras Jatim

LARAS JATENG

Olah Raga

Agraria

LARAS JABAR

Info Pasar

Pernak Pernik

Seni Budaya dan Hiburan

» » Piter Gusbager: Ada Empat Kunci Penyelesaian Masalah Sawit di Keerom

Wabup Keerom Piter Gusbager SHut, MUP memberikan keterangan pers kepada wartawan terkait kebun kelapa sawit di Arso, Keerom.


KEEROM, Laras Post - Permasalahan yang membekap perkebunan sawit di Kabupaten Keerom, Papua khususnya di bawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II (Persero) perkebunan Arso mulai diurai Wakil Bupati (Wabup) Keerom Piter Gusbager SHut, MUP.

Sebelumnya Wabup Keerom Piter bertemu petani sawit Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA)  yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dan Koperasi, Jumat (24/7/2020). Saat yang sama Wabup Piter bertemu masyarakat adat pemilik ulayat kebun sawit.

Pertemuan ini, lanjutan dari upaya Wabup Piter mempertemukan pihak terkait agar duduk bersama dan menyelesaikan masalah sawit yang selama hampir sembilan tahun terakhir belum juga terselesaikan.
Pertemuan dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Keerom, dihadiri Wabup dan Asisten I Daniel Pasanda, selaku moderator. Sementara dari pihak adat, hadir para ondoafi dan tokoh adat,  di antaranya Frans Kimber, Yakob Giryar, dan lain-lain.
Dari Bagia ada Frans Tafor, sedangkan Wilyam Girbes (Arso Kota), Jac Mekawa (Mannem), dan Amatus Toam, John B (dari Yamara), kemudian Frans Musui (Wembi),  serta Marlina Fatagur (Workwana), dan lain sebagainya.

Meski pertemuan awal sempat menghangat, namun akhirnya pihak adat menyatakan menerima untuk dilakukan pertemuan dengan pihak petani dan koperasi sawit yang waktunya akan ditentukan kemudian.

Wabup Keerom Piter Gusbager SHut, MUP, mengemukakan bahwa pertemuan tersebut dilaksanakan adalah pertemuan lanjutan yang dilakukannya mewakili pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan sawat yang berlarut-larut dan dimulai dengan sengketa replanting kebun sawit yang belakangan muncul antara masyarakat adat dengan petani kelapa sawit di Arso PIR II, Yamara.

"Pertemuan hari ini adalah lanjutan dari audience minggu lalu bersama petani Perkebunan Inti Rakyat (PIR) semua lokasi dan KKPA yang dihadiri semua koperasi dan APKASINDO. Intinya hasil kajian Universitas Papua (Unipa) tentang sawit Arso bahwa ada empat aktor kunci yang harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini,"kata Piter kepada wartawan.

Karena menurutnya, persoalan sawit ini persoalan yang rumit dan bukan hanya soal peremajaan atau replanting. Ini bukan masalah sederhana yang seperti anggapan bagi sebagian orang. Bahkan karena rumitnya masalah ini, tidak banyak pihak yang mau menangani masalah ini karena ini menyangkut kapasitas,’’ ujarnya.


Ia mengemukakan, empat pihak tersebut,  adalah petani sawit, masayarakat adat, PTPN dan pemerintah, karena pemerintah yang menghadirkan kebun kelapa sawit di Keerom.

‘’Karenanya dalam penyelesaian sawit ini, pemerintah harus tetap dan berdiri di depan untuk bertanggungjawab menyelesaikan masalah ini,’’ jelas dia lagi.

Alumni S2 dari University of Melbourne, Australia  ini juga menambahkan bahwa mendiang Bupati Keerom almarhum Celcius Watae, sebelumnya telah memulai untuk menyelesaikan masalah sawit tersebut, namun sayangnya tidak dilanjutkan pemerintah. Maka kini dia sebagai Wabup Keerom merasa harus memikul tanggung jawab tersebut untuk menyelesaikan masalah sawit yang telah bertahun-tahun tidak mengalami penyelesaian bahkan berlarut-larut.

’Tahun 2017, mendiang almarhum Bupati Keerom Watae sudah mencoba menyelesaikan, dan dalam suratnya disebutkan bahwa persoalan peremajaan sawit harus mendapat persetujuan dewan adat dan ini dipertegas dan diperkuat oleh kajian Unipa tentang persoalan kebun sawit Arso. Petani dan adat mayoritas menginginkan peremajaan, namun dengan catatan untuk mendapat masyarakat pemilik ulayat," tuturnya.

Amandemen UUD 45 telah mengakui keberadaan masyarakat adat, keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35 juga menguatkan pengakuan terhadap masyarakat adat. "Maka semangat ini yang kita harus bawa dalam penyelesaian sawit di arso,’’ paparnya.

Untuk itu, ia menjadwalkan dalam waktu yang tak lama lagi pihaknya akan mempertemukan masyarakat adat, petani sawit dan PTPN untuk mencari jalan keluar terbaik atas masalah yang ada.

‘’Harus ada kesepakatan dan harus ada penyelesaian agar masalah sawit ini tak berlarut-larut,’’ tegasnya.

Sementara itu, Ondoafi Bagia Frans Kimber mengemukakan bahwa sikap adat terhadap pembangunan sawit sudah jelas.

‘’Pembangunan dan juga penyelesaian kelapa sawit harus jalan, kita adat sudah sepakat, tapi jangan main tabrak saja seperti yang dulu dirasakan para orangtua kami saat PTPN hadir. Maka kita minta dan setuju usul dari pertemuan ini agar pihak terkait termasuk petani dan PTPN hadir selesaikan masalah ini,’’ pesan Frans.

Ia juga mengingatkan agar untuk pembibitan pihaknya tak keberatan, namun soal lokasi penanaman sebaiknya dipikikan lagi menyangkut lokasi.

"Arso PIR ini sudah bisa dikatakan bagian dari kota, maka jangan ada kebun sawit di kota, kita bahas di mana nanti penanamannya," demikian dikatakannya. (wn)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan berikan komentar anda