Breaking News

,

Daeng Jamal: RPTRA Kalijodo Penuhi Instruksi Gubernur Anies Baswedan

Penanggung-jawab pengelola Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Jamaludin.
JAKARTA, LARAS POST - Penanggung-jawab pengelola Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Jamaludin, menyatakan kepatuhan pihaknya memenuhi instruksi dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. 

"Sebagai anak bangsa yang baik dan sekaligus sebagai penanggung-jawab pengelola dari RTH RPTRA Kalijodo, tentunya kami harus mematuhi instruksi dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. RTH RPTRA Kalijodo kami hentikan operasionalnya sejak Senin (14/9/2020). Penutupan kami berlakukan hingga batas waktu yang tidak ditentukan, khususnya hingga adanya instruksi lebih lanjut dari Gubernur DKI Jakarta," ungkap Jamaludin kepada LARAS POST.

"Kami menyadari bahwa penutupan RTH RPTRA Kalijodo ini, sebagaimana taman dan RPTRA lainnya di seluruh wilayah DKI Jakarta diberlakukan dalam rangka memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19. Hal itu juga yang kami sampaikan dan sosialisasikan ke masyarakat," ujar pria yang lebih dikenal dengan nama Daeng Jamal itu.

Taman dan RPTRA termasuk dalam bagian elemen yang wajib ditutup dari skema Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terbaru yang diterapkan di DKI Jakarta sejak Senin hingga 14 hari ke depan. 

"Seluruh kawasan dan tempat hiburan, termasuk taman dan RPTRA, ditutup," demikian antara lain disampaikan Anies Baswedan saat mengumumkan pemberlakuan PSBB terbaru, Minggu (13/9) sore di Balaikota DKI Jakarta.

Daeng Jamal menyatakan bahwa ia sangat memahami instruksi gubernur terkait penutupan taman dan RPTRA, termasuk RTH RPTRA Kalijodo. Siapa pun, katanya, tidak menginginkan wilayahnya menjadi klaster penyebaran Covid-19. Dengan demikian, meski pun kebijakan tersebut tetap mengundang kritik, ia wajib mematuhinya.

"Kebijakan seperti di awal pandemi ini diberlakukan saat ekonomi masyarakat sedang tumbuh lagi. Tetapi, instruksi tersebut tetap wajib kita patuhi, karena bagaimana pun kesehatan, keselamatan serta keamanan dan kenyamanan nyawa manusia tetap lebih penting," papar Daeng Jamal.

Kalijodo, yang semula kawasan kumuh dan hitam di wilayah Jakarta Barat, sejak medio Februari 2017 bermetamorfosis menjadi destinasi wisata. Daeng Jamal mengemban amanah sebagai penanggung-jawab pengelola dari pusat kuliner dan hiburan masyarakat itu.

Sejak menjadi destinasi wisata, kawasan tersebut kini populer dengan sebutan RTH RPTRA Kalijodo. Saat dikunjungi LARASPOST pada Minggu (13/9) malam, area RTH RPTRA itu dipadati pengunjung. Namun, seluruh pengunjung yang berada di dalam area RTH RPTRA Kalijodo sudah lebih dulu mengikuti protokol kesehatan Covid-19. Mereka diwajibkan mencuci tangan di tempat yang telah ditentukan. Mereka juga diawasi secara ketat, diperiksa pemakaian maskernya. Walau memang sulit dihindari tidak adanya kerumunan, terutama pada waktu hiburan dangdut mulai berjalan.

Daeng Jamal tentunya bukannya tidak memikirkan terhentinya kesinambungan perekonomian masyarakat kelas bawah dari dampak penutupan RTH RPTRA Kalijodo ini.

Di sisi lain, ia juga mengelola tempat kuliner dan taman keluarga Sahabat Bintang Timur, yang terletak sekitar satu kilometer dari RTH RPTRA Kalijodo ke arah Pluit.

DEKAT DENGAN SYL

Minggu malam itu LARASPOST diterima Daeng Jamal di tempat kuliner dan hiburan keluarga Sahabat Bintang Timur di kawasan Penjaringan itu.

LARASPOST dijamu Daeng Jamal dengan santapan Coto Makassar Baruga yang dimilikinya sendiri. Lantunan lagu dangdut mengalun dari ruang terbuka belasan meter di depan. Malam diterangi banyak bintang, semakin menyenangkan bila tak diwarnai hujan.

"Alhamdulillah, setiap hari ramai. Di sini tutup satu jam jelang tengah malam," kata Daeng Jamal tentang tempat hiburan keluarga Sahabat Bintang Timur yang dikelolanya itu. 

Daeng Jamal tiga tahun terakhir menjadi tokoh sentral di Kalijodo dan kawasan sekitarnya. Namanya sangat populer, dikenal semua kalangan. Dekat dengan banyak tokoh, termasuk Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan tentunya Gubernur Anies Baswedan. 

Daeng Jamal sukacita menceritakan kedekatannya dengan SYL, yang dua periode atau 10 tahun menjadi gubernur Sulsel, dan sejak Oktober 2019 menjadi salah satu pembantu Presiden Joko Widodo sebagai menteri pertanian.

SYL pada 15 Maret lampau berusia 65 tahun, sementara Daeng Jamal tepat 40 tahun pada 17 Juli baru lalu. SYL sudah dikaruniai banyak cucu. Daeng Jamal masih mengasuh tiga anak yang perjalanan hidupnya masih panjang. "Anak saya tiga. Yang pertama, perempuan 12 tahun, lalu lelaki 9 tahun, terakhir perempuan lagi 6 tahun," katanya, riang.

Jadi, apa yang membuat Daeng Jamal demikian dekat dengan SYL?

"Saya kira karena ikatan emosional saja ya. Tidak ada hubungan saudara. Semua beda. Tetapi, kami bisa saling memahami," tuturnya.

SYL beberapa kali menawarinya jabatan stafsus. Sudah disiapkannya juga ruangan yang memadai untuknya di kantor kementan di Ragunan. Namun Daeng Jamal menolak. Ia mengaku lebih suka 'membumi', seperti sekarang. Bisa lebih bergaul dengan 'grassroot'. Tanpa sekat. Oleh karena itu, ia bangga karena SYL bisa juga menemuinya kapan saja.

"Puang SYL sudah tiga kali silaturahmi ke tempat saya di Kalijodo. Sudah pernah main ke rumah saya di Jembatan Tiga. Pernah sekali berkunjung ke sini," papar Daeng Jamal.

SYL pun tak pernah memaksakan Daeng Jamal bergabung dengan parpol yang diperkuatnya. Daeng Jamal, dan Garda Bintang Timur, ormas yang didirikannya, juga tak memilih berafiliasi pada salah satu parpol. 

"Saya memilih bebas saja," kata pengagum almarhum Baharuddin Lopa, salah satu putra terbaik Mandar yang pernah menjadi jaksa agung itu.

Merambah ibu kota pada 1996, wara-wiri di antara Jakarta Barat dan Jakarta Utara, Daeng Jamal mendirikan Garda Bintang Timur pada 2010. 

Di jalur politik, selain dengan SYL, ia juga dekat dengan Jimly Asshiddiqie, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang kini anggota DPD asal DKI Jakarta. 

Daeng Jamal dan ormasnya memuluskan langkah senator kelahiran Palembang, Sumsel, itu, menjadi satu dari total 136 anggota DPD dengan perolehan suara terbanyak di Jakarta.

Daeng Jamal berhubungan baik dengan banyak tokoh, sekarang. Ia memilihkan beberapa momen kebersamaannya dengan mereka.

Ia bersyukur, hidupnya mengalir demikian saja. 

Awal September 2020, ia diangkat sebagai Panglima Besar Laskar Merah Putih. Daeng Jamal bertekad turut mengantar ormas yang dipimpin HM. Arsyad Cannu, pengusaha asal Balikpapan, itu, lebih baik dan maju lagi. (TB)

Tidak ada komentar

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai