Breaking News

,

Ahli Virologi: Saat ini Vaksin Bisa Ditemukan Lebih Cepat

dr. Reisa bersama Ahli Virologi Univ Udayana Prof. Ngurah Mahardika.
Dialog dr. Reisa bersama Ahli Virologi Univ Udayana Prof. Ngurah Mahardika.(foto: scr youtube).


JAKARTA, LARAS POST - Apakah mungkin dalam waktu singkat sebuah vaksin bisa diciptakan. Hal itulah yang menimbulkan keraguan di benak masyarakat selama ini.

   

Pengetahuan tentang seluk beluk vaksin memang bukan konsumsi orang awam selama ini. Teknologi, sumber daya, dan infrastrukturnya hanya diketahui segelintir orang yakni peneliti dan produsen vaksin itu sendiri, serta komunitas ilmuan. 


Demi menjawab keraguan tersebut, Prof. Ngurah Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana yang mengetahui betul seluk beluk pembuatan vaksin.


Prof. Ngurah Mahardika menjelaskan, saat hendak mencari vaksin zaman dahulu tentu harus dapat agennya yang murni terlebih duhulu. Setelah itu diperbanyak, dan kemudian baru disiapkan sebagai vaksin. Itu yang menempuh waktu yang lama. 


"Zaman sekarang, teknologi telah memungkinkan kita melakukannya dengan cepat. Tidak perlu lagi agen penyakit dan bisa dibuat sintetis, jadi bisa sangat cepat. Zaman dahulu perlu waktu lama untuk menemukan bibitnya saja. Zaman sekarang hanya perlu waktu satu dua bulan saja untuk menemukan bibitnya,” terang Prof. Ngurah Mahardika dalam Dialog Inspirasi bertajuk Tata Cara Penemuan Vaksin yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) via virtual, Senin (2/10/2020) kemarin.


Dalam paparannya, Prof. Ngurah Mahardika menyebutkan ada sedikitnya empat ragam vaksin yang dibedakan berdasarkan bahan dasarnya. Pertama yang berbasis virus murni yang dimatikan sehingga tidak berbahaya bagi manusia, ada pula yang berbasis DNA atau mRNA, ketiga ada vaksin berbasis adenovirus, dan terakhir adalah vaksin berbasis protein. 


“Ragam basis vaksin ini punya kelebihan dan kekurangan tentunya, seperti vaksin berbasis virus yang dimatikan yang saat ini diujicobakan di Indonesia adalah jenis paling lazim, sehingga regulasi penggunaanya jauh lebih ringkas. Sementara vaksin berbasis DNA dan adenovirus memang belum ada contohnya yang beredar di masyarakat sehingga regulasinya memakan waktu lama,” ucap Prof. Ngurah Mahardika.


Meskipun teknologi mengakselerasi penemuan vaksin baru, faktor kunci yang tidak boleh dikesampingkan dalam prosedur adalah, memastikan tingkat keamanannya. 


Tak hanya aspek kualitas, daya guna, namun aspek keamanan vaksin Covid-19 yang nanti hendak ditemukan, harus terjamin.


“Untuk aspek keamanan ini dimulai sejak fase pre klinis, yang diujikan pada hewan, lalu Fase I yang melibatkan relawan manusia, Fase II yang melibatkan ratusan relawan, dan Fase III yang melibatkan ribuan relawan. Pada semua fase, aspek keamanan dan daya guna menjadi perhatian serius. Lebih-lebih pada Fase III, ketika melibatkan ribuan hingga puluhan ribu orang,” imbuh Prof. Ngurah Mahardika.


Tak hanya di situ saja, setelah beredar di masyarakat vaksin akan terus dimonitor dan diaduit terus menerus untuk memastikan keamanan vaksin yang beredar tersebut nantinya. 


Perlu diketahui juga, bahwa Indonesia sangat memungkinkan untuk mengembangkan vaksin Covid-19 secara mandiri. Namun kerjasama dalam masa pandemi Covid-19 seperti saat ini bukanlah hal yang tabu. 


Kerjasama bertujuan untuk mendapatkan data berkualitas tinggi. Peneliti dan ilmuan di Indonesia juga membuka data-data kajian dalam negeri untuk memberi sumbangsih kepada keilmuan dunia dan menerima input positif dari peneliti luar negeri. 


“Tanpa kerja sama saya kira kita mampu, tapi untuk mencapai kemajuan yang pesat dirasa perlu dengan jalan kerjasama antar Negara dan keilmuan dunia,” tandas Prof. Ngurah Mahardika.

Angka Ksembuhan Covid -19 Meningkat

Selain kabar bahwa vaksin yang bisa ditemukan lebih cepat, kabar baik lain datang dari angka kesembuhan Covid-19 per 1 November 2020 terus meningkat. 


Rasio kesembuhan (recovery rate) dari seluruh total kasus Covid-19 mencapai 82,84%. Angka sembuh dan selesai dari isolasi meningkat dari minggu sebelumnya yakni 80,51%. Kemudian tracing dan testing per 1 November 2020 mencapai lebih dari 4,5 juta spesimen dan banyak di antaranya yang negatif. 


Namun dalam hal ini masyarakat tetap harus meningkatkan kedisiplinan tentang protokol kesehatan. 


"Ingat 3M, memakai masker, menjaga jarak minimal 1 meter, dan mencuci tangan dengan sabun, tetap merupakan cara pencegahan yang terbaik hingga saat ini," pesan dr. Reisa Broto Asmoro, Juru Bicara Satgas COVID-19 yang juga menjadi moderator pada acara tersebut. (sg)



Tidak ada komentar

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai