Breaking News

,

LAWAN!!!, Pesan Perubahan Perilaku di Masa Pandemi dalam Wujud Karya Seni

Karya lukisan Pesan Perubahan Perilaku
Salah satu karya lukisan memberikan pesan perubahan perilaku masa Pandemi Covid-19. (Foto: Sumber galnasonline.id)

JAKARTA, LARAS POST - Di masa Pandemi Covid-19 bukan alasan untuk berhenti berkarya, namun justru sebaliknya, di saat seperti inilah kreativitas harus tercipta dan tak pernah berhenti dalam berkarya.


Untuk itu, Galeri Nasional Indonesia bersama KOTA (Komunitas Perupa Kota Tua) menggelar Pameran secara daring KOTA 2020 bertajuk “LAWAN!!!” yang dapat dikunjungi masyarakat mulai 10 November 2020 di laman galnasonline.id.


Pameran yang menampilkan 35 karya berupa lukisan dibuka secara virtual oleh Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto, pada Selasa (10/11/2020). 


Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto berharap para perupa Jakarta khususnya perupa KOTA dapat semakin menajamkan wacana serta ekspresi seni dalam mengkritisi fenomena terkini melalui karya-karya seni rupa.


“Seperti halnya musik, drama, maupun seni lainnya, seni rupa juga bisa menjadi medium untuk merepresentasikan suatu fenomena atau peristiwa, yang tidak hanya untuk kilas balik, namun juga sebagai referensi untuk memunculkan inovasi atau ide-ide baru yang dapat berkontribusi dalam pengembangan sebuah wilayah, dalam hal ini Kota Jakarta.

Inilah saatnya para perupa KOTA melalui karya seni rupa menunjukkan perannya dalam membangun Jakarta,” ujarnya.


35 karya yang dipamerkan antara lain, berupa lukisan, grafis, mixed media, mural, fotografi, video art, dari 28 perupa yang tergabung dalam KOTA itu dikuratori Citra Smara Dewi, Heru Hikayat, dan Pug Warudju.


Dalam pantauan Laras Post dalam laman pameran galnasonline.id. ada yang menarik pada pameran ini, terdapat sejumlah lukisan yang memberikan pesan bahwa di masa Pandemi Covid-19 masyarakat harus membiasakan menjalani kehidupan baru, dengan disiplin protokol kesehatan. Seperti memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak.


Ada pula salah seorang anak yang sedang melaksanakan ibadah sholat dengan memakai masker. Terdapat pula gambar anak sekolah dengan kepalanya bergambar handphone pintar, menggambarkan saat ini sang anak memerlukan handphone untuk bisa belajar jarak jauh, namun hal itu ada segi positif dan negatif. 


Masih banyak karya-karya menarik yang memberikan gambaran perubahan sosial di masa pandemi Covid-19, baik gambaran ekonomi, sosial budaya, dan perilaku perubahan dan lain-lain. 


Dalam konteks pameran ini, salah satu Kurator, Citra mengungkap bahwa “LAWAN” dimaknai sebagai sikap positif dari para perupa dalam menyikapi berbagai perubahan sosial.


Tema “LAWAN!!!” sebagian besar mengangkat aspek sosial politik, seperti pencarian identitas kultural, merespons era milenial, budaya urban, namun saat ini fenomena pandemi Covid-19.


Sebagai perupa yang tumbuh dan berinteraksi langsung dengan denyut kehidupan Kota Jakarta, para perupa KOTA memiliki rasa kepedulian dalam merespons dinamika sosial yang tengah terjadi saat ini. “Yang juga menarik dari pameran ini, spirit ‘LAWAN’ juga dikaitkan dengan konteks melawan kemapanan dalam berkarya, khususnya melalui berbagai upaya artistik dan eksplorasi,” kata Citra.


Ditambahkan Heru, “LAWAN!!!” adalah cara mengajak para perupa KOTA untuk menimbang ulang tentang cara pandang terhadap zaman ini. “Tepatnya tentang krisis pandemik yang membuat kita berpikir ulang tentang hal-hal mendasar. Seni, semestinya mampu membuat kita berpikir ulang tentang hal-hal yang biasanya kita lumrahkan, begitu saja,” katanya.


Seni, jika kita percaya bersumber pada ekspresi jiwa manusia, maka saat ini mestinya mampu berdaya dalam pengertian tampil dan mengajak kita untuk memandang ulang, berpikir ulang, tentang berbagai hal dalam kehidupan.


Tentang modernisme, tentang pembangunan, tentang perkembangan kota, tentang kesejahteraan bersama, tentang kesetaraan, tentang solidaritas, tentang relasi antarmanusia dengan makhluk lain di semesta, tentang agama, tentang kebudayaan, tentang politik, daftarnya bisa dibuat terus memanjang.


"“LAWAN!!! pada hemat saya, menantang para perupa untuk menunjukkan kepekaannya tentang fenomena kekinian, melalui karya seni,” ujarnya.


Menurut Pug Warudju, pameran ini juga merupakan geliat perlawanan para perupa KOTA sebagai insan-insan urban untuk berperan aktif dalam rekonstruksi sosial melalui karya seni rupa.


“Melalui pameran ini, para perupa Kota Tua justru memperoleh momentum untuk melakukan trilogi konstruksi sosial: eksternalisasi (berekspresi), menakar objektifikasi, dan laku internalisasi yang dibagikan lewat produk-produk simbol pada karya seni rupa,” ungkapnya.


Semoga pameran ini juga dapat menginspirasi dan menyemangati para perupa serta masyarakat di kota-kota lainnya untuk terus berjuang di jalan seni rupa, sekaligus mengembangkan seni rupa di kota tempat tinggalnya.(sg)

Tidak ada komentar

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai