Breaking News

,

Survei: 69,6 Persen Responden tidak Takut, Satgas Covid-19 Imbau Masyarakat Disiplin Prokes

Dialog Produktif bertema Keterlibatan Masyarakat dalam Respon Pandemi COVID-19 yang digelar Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN)
UNICEF Communications Development Specialist, Rizky Ika Syafitri dalam dialog Produktif bertema Keterlibatan Masyarakat dalam Respon Pandemi COVID-19 yang digelar KPCPEN secara virtual, Rabu (4/11/2020).(foto: yotube KPCPEN)

JAKARTA, LARAS POST - Survei AC Nielsen bekerjasama dengan UNICEF pada 6 kota besar di Indonesia dengan jumlah 2000 responden, mencoba menggali sikap masyarakat terkait praktik pencegahan COVID-19 pada kehidupan sehari-hari.


Menurut survei tersebut, 69,6% responden di 6 kota besar di Indonesia mengaitkan COVID-19 dengan aspek negatif seperti, berbahaya, menular, darurat, mematikan, menakutkan, khawatir, wabah, pandemi, dan penyakit. 


Meski mayoritas responden mengasosiasikan COVID-19 dengan aspek negatif, namun hal ini justru bisa mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak positif dalam mencegah penularannya.


Rizky Ika Syafitri, UNICEF Communications Development Specialist, menerangkan, rasa takut apabila dimanfaatkan dengan benar, kemudian bisa mengarahkan ke arah perilaku yang lebih baik. 


"Karena kalau tidak diolah dengan baik rasa takut ini hanya akan jadi ketakutan saja, tidak menjadi aset untuk mengolah perubahan perilaku,” terangnya dalam Dialog Produktif bertema Keterlibatan Masyarakat dalam Respon Pandemi COVID-19 yang digelar Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) secara virtual, Rabu (04/11/2020).


Kemudian perilaku masyarakat terkait 3M secara nyata di lapangan menunjukkan bahwa 31,5% dari seluruh responden melakukan seluruh perilaku 3M secara disiplin. 


36% dari total jumlah responden melakukan dua dari perilaku 3M. Sementara 23,2% melakukan 1 dari perilaku 3M. Hanya 9,3% dari responden yang tidak melakukan kepatuhan terhadap 3M sama sekali.


Perlu bagi masyarakat luas mengetahui konsep OTG, karena masyarakat menjadi merasa tidak perlu menjaga jarak. Apabila masyarakat mengetahui lebih jauh lagi soal cara penularan COVID-19, diyakini bahwa masyarakat akan melakukan pencegahan lebih disiplin lagi.


“Tentunya semakin baik pengetahuannya semakin berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan COVID-19 yang lebih baik dan disiplin.” Ujar Rizky Ika Syafitri.


71% responden berpikir bahwa penularan COVID-19 hanya melalui orang yang batuk dan bersin. Hanya 23-25% responden yang menyebutkan penularan COVID-19 melalui berbicara dan bernafas. Ini menjelaskan, mengapa jaga jarak dianggap tidak terlalu perlu saat berbicara dengan orang lain selama lawan bicara tidak batuk atau bersin.


Untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya perubahan perilaku, penting juga bagi masyarakat untuk mengetahui sumber informasi yang terpercaya. Temuan riset menunjukkan, televisi adalah sumber informasi yang paling dipercayai masyarakat mengenai COVID-19, kemudian diikuti oleh koran, radio, media sosial, grup WhatsApp, pemberitaan media online, dan situs internet.


“Jadi kalau untuk perubahan perilaku, kita cari tahu yang terpercaya. Karena kalau terpercaya, asumsinya masyarakat akan mau melakukan perubahan yang disampaikan. Medium televisi masih menjadi salah satu penyaluran terkuat untuk dimanfaatkan. Yang menarik juga di sini tokoh masyarakat dan tokoh agama masih didengarkan oleh masyarakat.” Ujar Rizky Ika Syafitri.


Pentingnya edukasi lebih lanjut membantu membentuk kerangka pikir pada masyarakat agar mengubah perilaku pencegahan COVID-19 lebih disiplin lagi. 


“Pastikan untuk penanganan COVID-19 masyarakat mengakses sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk informasi COVID-19 sudah ada website, www.covid19.go.id, yang didalamnya terdapat fitur hoax buster untuk memastikan informasi tersebut benar atau hoax,” tutup Rizky Ika Syafitri.


Dalam analisa secara individual, Konsultan UNICEF Risang Rimbatmaja menyebutkan, menjaga perilaku jaga jarak persentasenya 47% lebih rendah daripada memakai masker (71%) dan mencuci tangan (72%). 


"Khusus untuk jaga jarak, ternyata didapatkan adanya aspek norma sosial yang berperan di sini seperti, merasa tidak enak menjauh dari orang lain, orang lain yang mendekat ke saya, atau berpikir bahwa semua orang juga tidak menjaga jarak,” terang Risang Rimbatmaja, Konsultan UNICEF.


Selanjutnya, konsep kesalahan persepsi bahwa orang yang kelihatan sehat, dianggap tidak bisa menularkan penyakit juga menjadi faktor rendahnya penerapan perilaku menjaga jarak di kalangan masyarakat. 


“Yang tidak kalah menonjol adalah salah persepsi, saya sehat atau orang lain sehat kenapa harus jaga jarak? Kelihatannya konsep Orang Tanpa Gejala (OTG) masih belum betul-betul berada di benak masyarakat,” jelas Risang Rimbatmaja. 


Untuk itu Tim Satgas Penanganan Covid-19 tak henti-hentinya untuk selalu mengkampanyekan 3M, Memakai Masker, Menjaga Jarak Aman, dan Mencuci Tangan.


Hal itu merupakan satu paket protokol kesehatan (prokes) yang sangat diperlukan oleh masyarakat untuk mencegah penularan COVID-19. 


Himbauan ini perlu dipatuhi dan dijalankan secara disiplin, mengingat langkah ini adalah rekomendasi dari para ahli dan dokter.(sg)

Tidak ada komentar

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai